Sumbardaily.com - Robohnya Jembatan Anduriang akibat bencana hidrometeorologi dan banjir bandang memaksa ribuan warga mencari cara alternatif untuk melintasi Sungai Batang Anai di Nagari Anduriang, Kabupaten Padang Pariaman.
Dalam beberapa waktu terakhir, masyarakat terpaksa memanfaatkan rakit sederhana yang dibuat dari tong oli bekas untuk menyeberang karena akses transportasi utama terputus.
Kondisi tersebut menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Selain tidak dirancang sebagai sarana transportasi yang aman, penggunaan rakit dinilai memiliki risiko tinggi terhadap keselamatan warga maupun petugas yang mengoperasikannya.
Pemerintah daerah pun memastikan akan segera mengambil langkah untuk menghentikan penggunaan rakit tersebut setelah proses normalisasi kawasan terdampak selesai dilakukan. Sebagai gantinya, akses darurat akan disiapkan guna menjamin mobilitas masyarakat tetap berjalan tanpa harus mempertaruhkan keselamatan saat menyeberangi sungai.
Pernyataan tegas terkait hal itu disampaikan oleh El Abdes. Ia menegaskan bahwa pemerintah daerah berkomitmen mengutamakan keselamatan masyarakat dalam penanganan dampak robohnya Jembatan Anduriang.
“Pada prinsipnya, Bapak Bupati meminta agar rakit ini tidak ada lagi. Karena secara keselamatan sangat berisiko, baik bagi petugas maupun masyarakat yang menggunakannya. Jangan sampai kembali terjadi insiden warga hanyut saat melintas,” tegas El Abdes dilansir resmi Jumat (12/6/2026).
Menurutnya, keberadaan rakit hanya menjadi solusi sementara di tengah kondisi darurat pascabencana. Namun dalam jangka panjang, penggunaan sarana tersebut tidak dapat dipertahankan karena tidak memenuhi standar keamanan transportasi penyeberangan.
Pemerintah daerah menilai penyediaan akses darurat menjadi langkah yang lebih tepat untuk menjamin aktivitas masyarakat tetap berlangsung dengan aman. Dengan adanya jalur sementara tersebut, warga diharapkan tidak lagi bergantung pada rakit yang berpotensi menimbulkan kecelakaan.
Dampak robohnya Jembatan Anduriang tidak hanya dirasakan pada sektor transportasi. Putusnya akses penghubung antarwilayah juga memberikan pengaruh besar terhadap berbagai aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar kawasan terdampak.
Sektor pertanian dan perkebunan menjadi salah satu bidang yang paling terdampak. Selama ini, kedua sektor tersebut merupakan sumber utama penghidupan masyarakat setempat. Terputusnya akses transportasi menyebabkan mobilitas warga dan distribusi hasil pertanian maupun perkebunan menjadi terganggu.
Karena itu, percepatan penyediaan akses darurat dinilai penting untuk membantu memulihkan aktivitas ekonomi warga sekaligus mengurangi dampak lanjutan akibat bencana hidrometeorologi dan banjir bandang yang menyebabkan robohnya Jembatan Anduriang.
Dengan penghentian penggunaan rakit serta pembangunan akses darurat yang direncanakan pemerintah daerah, masyarakat diharapkan dapat kembali beraktivitas dengan lebih aman sambil menunggu penanganan lanjutan terhadap infrastruktur yang rusak akibat bencana tersebut. (*)
















