Sumbardaily.com - Suasana pagi di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Kamis (11/6/2026), dipenuhi wajah-wajah lega dan bahagia para jemaah haji yang baru kembali dari Tanah Suci.
Di tengah keramaian kedatangan Kloter PDG 7 Debarkasi Padang, seorang perempuan paruh baya tampak berusaha menahan tangis saat menceritakan pengalaman spiritualnya selama menjalankan ibadah haji.
Perempuan tersebut bernama Busnela, seorang guru mengaji dan pengajar tahfiz yang berasal dari Guguak Tabek Sarojo, Kecamatan IV Koto, Bukittinggi. Perjalanan hajinya tahun ini menjadi momen yang sangat berkesan karena merupakan jawaban atas doa yang telah dipanjatkannya sejak masih kecil.
Saat mengenang hari-harinya di Mekkah, suara Busnela beberapa kali bergetar. Ia mengaku masih sulit menerima kenyataan bahwa perjalanan yang telah lama diimpikan akhirnya benar-benar terwujud.
“Saya terharu. Rasa ini enggak mau pulang. Mau di situ rasanya. Saya bilang, ‘Ya Allah, berilah aku rezeki kapan lagi ke sini, ya Allah’,” katanya sambil menahan air mata saat diwawancarai di Bandara Internasional Minangkabau dilansir resmi Jumat (12/6/2026).
Busnela bukan hanya seorang guru mengaji biasa. Ia pernah menempuh pendidikan di LIPIA Jakarta yang merupakan cabang dari Universitas Islam Imam Muhammad Ibnu Su'ud Arab Saudi. Latar belakang pendidikan tersebut membuatnya memiliki kemampuan berbahasa Arab yang sangat membantu selama menjalankan rangkaian ibadah haji.
“Saya kebetulan bisa bahasa Arab. Saya kuliah dulu di LIPIA Jakarta. Jadi apapun urusan yang saya kerjakan sendiri, alhamdulillah tak ada kesulitan. Saya jemaahnya mandiri, di mana pun sendiri. Alhamdulillah saya sehat, tak ada sakit,” ujarnya.
Kemampuan berbahasa Arab membuat Busnela lebih mudah berinteraksi dengan petugas maupun masyarakat setempat selama berada di Arab Saudi. Namun menurutnya, kelancaran yang dirasakan selama berhaji tidak hanya karena kemampuan komunikasi, melainkan juga karena kesiapan hati dalam menjalani ibadah.
“Pokoknya kita kalau untuk ke Mekkah ini hati kita dibersihkan,” tuturnya.
Salah satu pengalaman paling berkesan yang dialaminya terjadi saat berada di sekitar Ka'bah dan Multazam. Di lokasi yang diyakini sebagai salah satu tempat mustajab untuk berdoa tersebut, Busnela merasakan haru yang begitu mendalam.
Ia mengaku berhasil menyentuh Ka'bah ketika melaksanakan tawaf. Menariknya, ia memilih menjalani aktivitas tersebut secara mandiri tanpa bergantung pada rombongan besar.
“Alhamdulillah bisa pegang Ka'bah. Kalau mencium agak kesulitan. Saya pergi sendiri bisa pergi ke Ka'bah,” katanya.
Momen itu menjadi sangat emosional karena selama bertahun-tahun ia hanya bisa membayangkan berada di depan Baitullah. Kini, impian tersebut benar-benar menjadi kenyataan.
Air matanya kembali menetes saat mengingat doa-doa yang dipanjatkannya di dekat Multazam. Di tempat itu, ia mengenang perjalanan hidupnya sebagai seorang guru mengaji yang selama ini mengabdikan diri untuk mengajarkan Al-Qur'an dan tahfiz kepada masyarakat.
“Saya dari dulu ingin sekali ke Mekkah, dari kecil suka mengantakan orang ke Mekkah. Ya Allah, saya mengantar orang ke Mekkah. Kapan saya ini diantar ke orang lain ya? Saya kan cuma guru mengaji, ngajar Al-Qur'an dengan ngajar tahfiz,” ungkapnya.
Selama berada di Madinah, Busnela juga tidak ragu membantu jemaah lain yang mengalami kesulitan. Kemampuan bahasa Arab yang dimilikinya membuat dirinya beberapa kali membantu sesama jemaah, terutama ketika hendak memasuki Raudhah.
“Oh iya ada saya bantu jemaah waktu mau ke Raudah,” ujarnya.
Menurut Busnela, kesabaran dan ketenangan menjadi faktor penting yang membuat pelaksanaan ibadah haji berjalan lancar. Ia mengaku selalu berusaha menghindari kerumunan besar serta mengikuti aturan yang berlaku selama berada di Tanah Suci.
Selain merasakan pengalaman spiritual yang mendalam, Busnela juga memberikan apresiasi terhadap pelayanan penyelenggaraan haji Indonesia tahun 2026. Menurutnya, layanan yang diterima para jemaah berjalan dengan baik dan memuaskan.
“Kalau pelayannya alhamdulillah. Pokoknya alhamdulillah memuaskan. Seperti sekarang kan Kemenhaj perdana. Alhamdulillah memuaskan jemaah,” katanya.
Busnela merupakan salah satu jemaah yang tergabung dalam Kloter PDG 7 Debarkasi Padang yang tiba di Bandara Internasional Minangkabau pada Kamis. Kepulangannya ke Tanah Air sekaligus menandai berakhirnya penantian panjang yang telah dijalaninya selama bertahun-tahun.
Ia mengungkapkan bahwa dirinya telah mendaftar haji sejak tahun 2014. Setelah menunggu lebih dari satu dekade, kesempatan menjadi tamu Allah akhirnya datang.
Perjalanan dari sebuah kampung kecil di lereng Bukittinggi hingga berdiri di hadapan Ka'bah menjadi pengalaman yang tidak akan pernah dilupakannya. Menyentuh kiswah Ka'bah, berdoa di Multazam, membantu sesama jemaah, hingga merasakan berbagai kemudahan selama berhaji menjadi rangkaian kenangan yang membekas dalam hidupnya.
“Pokoknya kemudahan enggak ada kesulitan yang saya rasa. Alhamdulillah itulah,” tuturnya.
Kisah Busnela menjadi gambaran tentang keteguhan seorang guru mengaji yang mengabdikan hidupnya untuk Al-Qur'an. Setelah bertahun-tahun memelihara harapan dan doa, ia akhirnya dapat menjejakkan kaki di Tanah Suci dan menyaksikan langsung Ka'bah yang selama ini hanya dilihat dari kejauhan.
Bagi Busnela, seluruh kemudahan yang dirasakannya selama menjalani ibadah haji merupakan bentuk pertolongan Allah yang datang pada waktu terbaik. Perjalanan tersebut bukan hanya menjadi pencapaian spiritual, tetapi juga bukti bahwa harapan yang dijaga dengan kesabaran dapat menemukan jalannya sendiri. (*)
















