Sumbardaily.com - Universitas Negeri Padang (UNP) memperkuat kapasitas kelompok diving di Kawasan Wisata Mandeh, Kabupaten Pesisir Selatan, sebagai bagian dari upaya melestarikan sekaligus mengembangkan situs sejarah bawah laut MV Boelongan menjadi destinasi wisata unggulan berbasis masyarakat.
Pendampingan tersebut diharapkan mampu memperkuat peran masyarakat sebagai garda terdepan dalam menjaga warisan budaya bawah air sekaligus meningkatkan daya tarik wisata kawasan.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang digelar pada 27-28 Juli 2026 di Villa Boelongan Resort and Resto, Kawasan Wisata Mandeh. Sebanyak 27 peserta yang berasal dari kelompok diving serta masyarakat setempat mengikuti rangkaian kegiatan yang difokuskan pada peningkatan kapasitas dalam pengelolaan wisata bawah laut.
Berdasarkan keterangan tertulis yang diterima Kantor Komunikasi dan Pemasaran pada Selasa (4/8/2026), Ketua Pelaksana PKM Najmi, S.S., M.Hum., mengatakan pendampingan tersebut menjadi bagian dari komitmen UNP dalam mendukung pengelolaan wisata bawah laut berbasis masyarakat.
"Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kapasitas kelompok diving agar mampu menjaga, melestarikan, sekaligus mempromosikan situs MV Boelongan sebagai warisan budaya yang memiliki nilai sejarah tinggi dan potensi besar sebagai destinasi wisata unggulan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, komunitas, dan masyarakat menjadi kunci dalam mewujudkan pengelolaan wisata bawah laut yang berkelanjutan," ujar Najmi.
Sebelum pelaksanaan kegiatan utama, tim pengabdian lebih dahulu melakukan observasi lapangan melalui penyelaman di situs Under Water MV Boelongan. Kegiatan tersebut dilakukan bersama narasumber dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah III Sumatera Barat, Yusfa Hendra Bahar, S.S., Hendra Fajri, serta Hendri yang mewakili kelompok diving Mandeh.
Observasi itu bertujuan melihat kondisi terkini bangkai kapal MV Boelongan sekaligus menghimpun data sebagai bahan pembahasan dalam penyusunan strategi pelestarian dan pengembangan wisata bawah laut berbasis warisan budaya.
Pendampingan juga dihadiri perwakilan Dinas Pariwisata Kabupaten Pesisir Selatan serta Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pesisir Selatan. Kedua instansi tersebut memberikan apresiasi terhadap inisiatif UNP yang melibatkan masyarakat dalam pengembangan wisata bawah laut.
Mereka berharap kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, komunitas diving, dan masyarakat dapat memperkuat pelestarian situs MV Boelongan sekaligus mendorong pengembangan sektor wisata yang mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat di sekitar Kawasan Wisata Mandeh.
Dalam sesi pemaparan materi, Yusfa Hendra Bahar menjelaskan bahwa Kabupaten Pesisir Selatan memiliki sejumlah cagar budaya yang menyimpan nilai sejarah tinggi. Beberapa di antaranya adalah Benteng Pulau Cingkuak, Pelabuhan Muaro Sakai, Pelabuhan Salido, hingga situs bawah laut MV Boelongan.
Ia menegaskan bahwa pelestarian cagar budaya tidak hanya berorientasi pada perlindungan terhadap objek bersejarah, tetapi juga mencakup aspek pengembangan serta pemanfaatan sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Cagar Budaya.
Menurut Yusfa, MV Boelongan memiliki arti penting karena berkaitan dengan sejarah Perang Dunia II. Selain nilai historis yang dimiliki, bangkai kapal tersebut juga mempunyai peluang besar untuk dikembangkan sebagai salah satu destinasi wisata sejarah bawah laut di Indonesia bagian barat.
Karena itu, keterlibatan masyarakat dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga kelestarian situs tersebut dari berbagai ancaman, mulai dari sedimentasi hingga aktivitas yang berpotensi merusak kondisi bangkai kapal.
Sementara itu, Prof. Dr. Siti Fatimah, M.Pd., M.Hum., menyoroti pentingnya penguatan kapasitas kelompok diving melalui pembentukan komunitas yang memiliki legalitas organisasi.
Menurutnya, keberadaan organisasi yang resmi akan membuka peluang bagi kelompok diving untuk menjalin kerja sama dengan berbagai pihak, memperoleh pelatihan maupun sertifikasi penyelam, hingga mengakses berbagai program pemberdayaan yang mendukung pengembangan kapasitas sumber daya manusia.
Ia juga mengingatkan bahwa pengembangan MV Boelongan sebagai destinasi wisata minat khusus harus tetap mengedepankan prinsip konservasi sehingga keberadaan situs sebagai warisan budaya bawah air tetap terjaga bagi generasi mendatang.
Selama pelaksanaan kegiatan, diskusi antara peserta dan narasumber menghasilkan sejumlah masukan terkait pembentukan komunitas diving yang memiliki legalitas, peningkatan kompetensi penyelam, hingga strategi promosi wisata bawah laut yang tetap mengutamakan pelestarian cagar budaya.
Sinergi antara pemerintah daerah, Balai Pelestarian Kebudayaan, perguruan tinggi, komunitas diving, dan masyarakat dipandang sebagai fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan pengelolaan situs MV Boelongan.
Melalui program pendampingan tersebut, UNP berharap kelompok diving di Kawasan Wisata Mandeh semakin siap mengambil peran dalam pelestarian sekaligus pengembangan wisata sejarah bawah laut MV Boelongan sehingga mampu berkembang sebagai destinasi wisata berkelanjutan yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat setempat.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), yakni SDG 11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan, SDG 14 mengenai Ekosistem Laut, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
















