Mengapa Sinkhole Bisa Terjadi? Ini Penjelasan Ilmiah Guru Besar Ilmu Tanah Unand

Mengapa Sinkhole Bisa Terjadi? Ini Penjelasan Ilmiah Guru Besar Ilmu Tanah Unand

Kemunculan sinkhole di kawasan pertanian Pombatan, Jorong Tepi, Nagari Situjuah Batua, Kabupaten Limapuluh Kota. (Foto: Humas Pemprov Sumbar)

Sumbardaily.com, Padang – Guru Besar Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Unand), Prof Dian Fiantis, menjelaskan bahwa fenomena tanah amblas atau sinkhole merupakan proses geologi alami yang terbentuk melalui mekanisme ilmiah tertentu di bawah permukaan tanah.

Penjelasan ini disampaikannya merespons kejadian sinkhole yang muncul di tengah hamparan sawah Nagari Situjuah Batua, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat (Sumbar), pada awal 2026.

Menurut Prof Dian, sinkhole kerap diasosiasikan dengan wilayah karst atau batuan kapur. Namun, dari sudut pandang keilmuan, fenomena serupa juga dapat terjadi di kawasan dengan karakteristik tanah vulkanis, seperti wilayah di sekitar lereng Gunung Sago.

Perbedaan jenis batuan tidak meniadakan kemungkinan terbentuknya rongga bawah tanah yang berujung pada runtuhan permukaan.

Ia menjelaskan bahwa sinkhole di Limapuluh Kota awalnya hanya berupa lubang kecil, tetapi terus melebar hingga mencapai sekitar tujuh meter dengan kedalaman sekitar lima meter dari permukaan tanah.

Setelah satu pekan kejadian, air mulai muncul dan menggenang dari dasar lubang, menandakan adanya aktivitas aliran air bawah tanah.

“Di daerah vulkanis, sinkhole bisa terbentuk akibat pengikisan material tanah di bawah permukaan oleh aliran air. Tanah vulkanis berasal dari material letusan gunung api seperti abu, tuf, dan breksi yang bersifat berpori dan rapuh,” ujar Prof Dian Fiantis, dikutip Sabtu (17/1/2026).

Secara ilmiah, Prof Dian menerangkan bahwa material vulkanis memiliki pori-pori yang memungkinkan air hujan meresap dengan mudah ke dalam tanah.

Air yang masuk tersebut kemudian mengalir di bawah permukaan dan secara perlahan mengikis partikel-partikel tanah halus. Proses pengikisan ini dikenal sebagai piping, yakni terbentuknya rongga kosong yang terus membesar seiring waktu.

Dalam fase awal, proses ini sering kali tidak disadari karena berlangsung di bawah permukaan tanah. Gejala yang muncul biasanya berupa retakan-retakan kecil di permukaan tanah atau penurunan muka tanah yang terjadi secara perlahan.

“Ketika lapisan tanah bagian atas tidak lagi mampu menopang beban tanah dan air di atasnya, runtuhan dapat terjadi secara tiba-tiba, terutama setelah hujan deras yang berkepanjangan,” jelasnya.

Prof Dian menambahkan bahwa secara geologis, Sumbar merupakan wilayah yang rentan terhadap kejadian sinkhole. Tingginya curah hujan, topografi perbukitan yang curam, serta kondisi geologi yang merupakan percampuran batuan karst dan vulkanis menjadi faktor yang saling memperkuat risiko.

Jika aliran air hujan terus masuk ke dalam lubang yang telah terbentuk, rongga di bawah tanah akan semakin melebar. Dalam kondisi tersebut, tepi sinkhole berpotensi runtuh secara bertahap dan memperluas area terdampak, termasuk lahan pertanian di sekitarnya.

Dalam perspektif keilmuan, Prof Dian juga menjelaskan bahwa sinkhole dapat berkembang lebih lanjut menjadi danau alami atau danau dolina. Hal ini dapat terjadi apabila dasar lubang tertutup lapisan kedap air sehingga air tertahan dan membentuk genangan permanen.

“Sinkhole sejatinya merupakan proses geologi alami. Namun, ketika terjadi di dekat permukiman atau lahan pertanian, fenomena ini menjadi ancaman serius karena dapat merusak infrastruktur dan mengganggu sistem air tanah,” tambahnya.

Oleh karena itu, Prof Dian menekankan pentingnya deteksi dini berbasis ilmu pengetahuan untuk meminimalkan risiko. Ia mengimbau masyarakat agar lebih peka terhadap tanda-tanda awal, seperti retakan kecil pada tanah atau bangunan, halaman yang turun perlahan, pohon yang mulai condong, serta perubahan drastis pada kondisi sumur.

Ia menegaskan bahwa pendekatan ilmiah dapat membantu mengidentifikasi potensi sinkhole sejak dini. Pemanfaatan teknologi seperti radar tembus tanah, metode geolistrik, dan pemetaan geologi dinilai efektif untuk membaca kondisi bawah permukaan sebelum terjadi runtuhan.

“Mitigasi terbaik bukan menunggu bencana, tetapi memahami isyarat alam sejak dini. Dengan dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi, potensi sinkhole sebenarnya bisa dikenali lebih awal,” sebutnya. (red)

Baca Juga

Warga memadati Halaman Masjid Raya Ganting di Kecamatan Padang Timur saat berbelanja kebutuhan pokok pada kegiatan Pasar Murah yang digelar Dinas Perdagangan Kota Padang.
Disdag Padang Pastikan Pasar Murah Berlanjut, Warga: Sering-sering Dilaksanakan
Riset Unand Temukan Potensi Pangan Fungsional Lokal untuk Memperbaiki Gangguan Pertumbuhan Tulang
Riset Unand Temukan Potensi Pangan Fungsional Lokal untuk Memperbaiki Gangguan Pertumbuhan Tulang
Sejarah Pemindahan Ibu Kota Agam ke Lubuk Basung, Berawal dari Keterbatasan Bukittinggi
Sejarah Pemindahan Ibu Kota Agam ke Lubuk Basung, Berawal dari Keterbatasan Bukittinggi
Tepung Kacang Lima Lolos Uji Keamanan, Peneliti Unand Dorong Diversifikasi Pangan Lokal
Tepung Kacang Lima Lolos Uji Keamanan, Peneliti Unand Dorong Diversifikasi Pangan Lokal
Tim SAR Gabungan mengevakuasi jenazah korban yang ditemukan mengapung di Danau Singkarak, Tanjung Mutiara, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat.
Tim SAR Gabungan Evakuasi Mayat Tanpa Identitas di Danau Singkarak
Peneliti Unand Kembangkan Antibiotik Alternatif dari Rumput Laut untuk Atasi Luka Diabetes
Peneliti Unand Kembangkan Antibiotik Alternatif dari Rumput Laut untuk Atasi Luka Diabetes