Sumbardaily.com, Padang - Perayaan Imlek 2577 Kongzili di Kota Padang menjadi lebih dari sekadar tradisi tahunan. Memasuki Tahun Kuda Api, perayaan ini dimaknai sebagai momentum refleksi atas dinamika sosial dan ekonomi ke depan, sekaligus simbol energi, keberanian dan semangat pembaruan yang diharapkan menyertai langkah masyarakat menyongsong tahun baru.
Tahun ini, Imlek memasuki shio Kuda dengan elemen api, kombinasi yang sarat makna tentang tantangan, energi besar, dan tuntutan kerja keras dalam menjalani kehidupan.
Dalam tradisi Tionghoa, shio dan unsur tahun dipercaya merepresentasikan karakter serta kecenderungan yang akan dihadapi masyarakat.
Tahun Kuda Api, menurut pemaknaan komunitas Tionghoa, menggambarkan fase yang dinamis, penuh gerak, dan menuntut kesiapan menghadapi tekanan.
Wakil Ketua Himpunan Tjinta Teman (HTT), Albert Hendra Lukman, menjelaskan bahwa karakter kuda menjadi simbol utama dalam pembacaan tahun 2577 Kongzili. “Tahun ini merupakan tahun kuda api ini, yakni 2577 Kongzili,” ujarnya, Rabu (28/1/2026).
Ia mengibaratkan kuda sebagai hewan yang lincah dan tidak pernah diam. “Ini kan mengibaratkan seperti mohon maaf, hewan, kuda itu kan lincah,” kata Albert.
Karakter tersebut mencerminkan kondisi tahun yang menuntut kecepatan beradaptasi dan ketangguhan dalam menghadapi perubahan.
Albert menilai, kombinasi shio kuda dengan unsur api mempertegas tantangan yang akan dihadapi. “Jadi memang tahun 2577 kongzili ini, tahun ini penuh tantangan. Api dimaknai sebagai simbol panas, energi, sekaligus tekanan. Tapi kita lihat ada juga unsur api, panas,” kata Albert.
Meski demikian, Tahun Kuda Api tidak dimaknai secara pesimistis. Tantangan justru dipandang sebagai pemicu untuk bekerja lebih keras dan lebih disiplin.
“Jadi memang tahun ini penuh tantangan dan bekerja keras,” ujarnya.
Pemaknaan tersebut sejalan dengan konteks sosial yang dihadapi Kota Padang saat ini. Berbagai agenda pembangunan, mulai dari penguatan sektor pariwisata, revitalisasi Kota Tua, hingga penggerakan ekonomi masyarakat, menuntut kolaborasi dan konsistensi.
Tahun Kuda Api dipandang sebagai momentum untuk tidak berjalan lambat, tetapi bergerak progresif dengan perencanaan yang matang.
Dalam rangkaian perayaan Imlek di Padang, makna Tahun Kuda Api juga diterjemahkan ke dalam kegiatan yang bersifat produktif.
Pasar Malam Imlek Padang, misalnya, tidak hanya menjadi ruang ekspresi budaya, tetapi juga sarana menggerakkan UMKM dan memperkuat identitas Padang sebagai kota wisata kuliner.
Albert menegaskan bahwa esensi Imlek bukan semata perayaan simbolik, melainkan momentum kebersamaan dan kerja kolektif.
“Momentum yang kami harapkan di Imlek ini, sesama komunitas tionghoa itu membantu menyediakan kebutuhan bahan pokok dalam merayakan Imlek,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, Tahun Kuda Api dipahami sebagai ajakan untuk memperkuat solidaritas sosial. Energi besar yang dilambangkan unsur api diharapkan tidak berhenti pada euforia, tetapi diarahkan untuk membangun ketahanan ekonomi dan memperluas ruang kebersamaan lintas komunitas.
Pemaknaan filosofis Tahun Kuda Api juga menemukan relevansinya dengan sikap komunitas Tionghoa di Padang yang memilih meniadakan perayaan Cap Go Meh tahun ini.
Keputusan tersebut diambil sebagai bentuk penghormatan terhadap pelaksanaan Ramadan 1447 Hijriah. Di tengah tantangan dan dinamika, nilai toleransi tetap menjadi pijakan utama.
Sementara itu, Humas Kelenteng See Hien Kiong, Indra Lie, mengatakan bahwa konsep perayaan Imlek tahun ini secara umum tidak jauh berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Namun, terdapat penyesuaian waktu pelaksanaan sebagai bentuk kesiapan menyambut tamu dan masyarakat yang ingin merasakan nuansa Imlek di Padang.
“Konsepnya seperti biasa. Di kelenteng kami tetap mengadakan pemasangan lampion, hanya saja pada tahun ini lampion dinyalakan lebih awal, yakni mulai hari ini,” katanya.
Imlek 2577 yang dikenal sebagai Tahun Kuda Api, sebuah simbol penting dalam penanggalan Tionghoa. Berdasarkan tradisi kalender lunisolar Tionghoa yang digunakan secara turun-temurun, Kuda melambangkan kekuatan, kecepatan, kerja keras, dan semangat pantang menyerah. Sementara unsur Api merepresentasikan energi, keberanian, dan dorongan perubahan.
Kombinasi Kuda dan Api dimaknai sebagai tahun yang sarat dinamika, keberanian mengambil langkah baru, serta harapan akan kebangkitan setelah masa sulit.
Dalam konteks sosial, Tahun Kuda Api kerap diartikan sebagai momentum untuk bangkit dan bergerak maju dengan optimisme.
Harapan tersebut juga sejalan dengan kondisi yang dihadapi masyarakat Sumatera Barat dalam setahun terakhir.
Indra Lie mengatakan, setelah dilanda sejumlah bencana alam dan perlambatan ekonomi, perayaan Imlek diharapkan menjadi ruang kebersamaan sekaligus penguat semangat masyarakat.
“Harapan kami di tahun Kuda Api ini, kondisi ke depan bisa lebih maju. Ekonomi yang saat ini cenderung menurun semoga dapat pulih kembali,” kata Indra.
Rangkaian perayaan Imlek di Kelenteng See Hien Kiong berlangsung mulai 27 Januari hingga 17 Februari 2026. Selain pemasangan lampion, kelenteng juga menyiapkan berbagai kegiatan budaya, terutama pada perayaan tahun baru kecil yang jatuh pada 16 Februari 2026.
Di Kelenteng Lama, masyarakat akan disuguhkan beragam pertunjukan seni, mulai dari barongsai, naga, wushu, termasuk penampilan dari komunitas Wushu Solok hingga tari piring, musik Mandarin, gambang, dan biola.
Tak hanya itu, pertunjukan lintas etnis seperti tarian dari Nias dan Mentawai turut dihadirkan sebagai simbol keberagaman.
Menariknya, perayaan Imlek tahun ini juga bertepatan dengan ibadah bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Indra memastikan bahwa seluruh rangkaian kegiatan tetap menghormati umat Islam yang menjalankan ibadah puasa.
“Setelah berbuka puasa akan ada acara kecil-kecilan, tapi tidak mengundang masyarakat banyak. Prinsipnya, kami saling menghormati dalam keberagaman,” tuturnya. (adl)















