Sumbardaily.com, Padang - Upaya revitalisasi kawasan Kota Tua Padang terus digencarkan dengan menyasar bangunan-bangunan bersejarah yang sarat nilai budaya.
Salah satunya, Kelenteng Lama Padang kini direvitalisasi dan disiapkan untuk disulap menjadi museum Kota Tua, sebagai ruang edukasi publik yang memperkuat narasi sejarah sekaligus menghadirkan fungsi baru yang inklusif bagi masyarakat.
Salah satu proyek yang menjadi perhatian adalah rencana revitalisasi kelenteng lama di kawasan Kota Tua, bangunan yang roboh akibat gempa 2009 dan kini diproyeksikan menjadi museum serta ruang terbuka bagi masyarakat.
Revitalisasi kelenteng lama tersebut dinilai memiliki arti strategis, tidak hanya bagi komunitas Tionghoa, tetapi juga bagi wajah Kota Padang secara keseluruhan.
Bangunan ini direncanakan menjadi titik awal penguatan identitas Kota Tua sebagai kawasan sejarah, budaya dan destinasi wisata unggulan.
Wakil Ketua Himpunan Tjinta Teman (HTT), Albert Hendra Lukman, menyampaikan apresiasi terhadap langkah Pemerintah Kota Padang yang menjadikan revitalisasi Kota Tua sebagai salah satu program unggulan.
“Kami dari Komunitas Tionghoa memberikan apresiasi kepada Wali Kota Padang, karena salah satu program unggulannya (Progul) merevitalisasi Kota Tua,” ujarnya, Rabu (28/1/2026).
Menurut Albert, perhatian terhadap kelenteng lama tersebut mulai menguat sejak Festival Kota Tua yang digelar pada Oktober 2025. Dalam kesempatan itu, Wali Kota Padang, Fadly Amran meninjau langsung kondisi bangunan yang telah lama roboh akibat gempa.
“Kemudian pada saat Festival Kota Tua di bulan Oktober 2025 lalu, Wali Kota telah meninjau kelenteng lama ini yang roboh akibat gempa 2009,” kata Albert.
Dari peninjauan tersebut, muncul rencana menjadikan kelenteng lama sebagai museum. Konsep ini tidak hanya berorientasi pada pelestarian bangunan, tetapi juga pada penguatan fungsi edukatif kawasan.
“Kemudian kami berencana ini akan jadikan museum, sehingga akhirnya semua orang yang datang bisa melihat jejak sejarah tentang Kota Tua ini,” kata Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Padang tersebut.
Langkah revitalisasi tersebut mendapat dukungan lintas level pemerintahan. Wali Kota Padang disebut langsung menjalin komunikasi dengan Menteri Kebudayaan, Fadli Zon.
“Wali Kota Padang juga langsung berkomunikasi dengan Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon dan Menbud sudah datang beberapa waktu lalu dan kelenteng lama ini akan dipugar, direvitalisasi,” kata Albert.
Menariknya, Menbud tidak hanya mendorong pemugaran bangunan, tetapi juga memberikan tantangan agar revitalisasi memiliki dampak yang lebih luas.
“Namun, Menbud Fadli Zon malah memberikan tantangan bahwa kelenteng ini tidak hanya dijadikan museum,” ujarnya.
Menurut Albert, Menbud Fadli Zon berharap hasil revitalisasi mampu melahirkan destinasi wisata unggulan di Sumatera Barat (Sumbar).
“Beliau juga meminta dengan revitalisasi ini, maka diharapkan mampu menjadi destinasi wisata unggulan di Sumbar,” katanya.
Dari sisi perencanaan teknis, komunitas Tionghoa menyatakan kesiapan mendukung proyek tersebut.
“Terkait revitalisasi ini, melalui dana aspirasi saya sebagai Anggota DPRD Sumbar, saya sudah siapkan masterplan atau DED-nya,” kata Albert.
Ia menambahkan bahwa konsep revitalisasi akan dipadukan dengan fungsi museum, destinasi wisata, serta penetapan lokasi sebagai titik nol Kota Tua Padang.
Konsep revitalisasi yang diusung menekankan pada pelestarian bentuk asli bangunan. Dirinya memastikan bahwa kelenteng tersebut tidak diubah bentuknya ketika direvitalisasi, namun hanya mengubah peruntukannya.
Bangunan tersebut tidak lagi difungsikan sebagai rumah ibadah. Itu bukan lagi menjadi rumah ibadah, namun menjadi ruang terbuka,” ujar Anggota DPRD Sumbar tersebut.
Perubahan peruntukan tersebut didasarkan pada pertimbangan keberadaan rumah ibadah bagi etnis Tionghoa yang telah tersedia di lokasi lain. “Karena rumah ibadah bagi etnis Tionghoa kan sudah ada di depannya,” kata Albert.
Dalam rencana revitalisasi, kelenteng lama akan dibangun kembali menyerupai bentuk semula, namun dengan fungsi baru yang lebih inklusif.
“Dia dibangun lagi seperti semula, tapi peruntukannya menjadi museum, public space, ruang terbuka,” ujarnya.
Dengan konsep tersebut, kawasan ini diharapkan menjadi ruang aktivitas bersama. “Semua orang bisa beraktivitas, semua bisa ke sana, yang namanya tempat terbuka itu semua orang bisa berkegiatan,” kata Albert.
Sebagaimana diketahui, Pemerintah Kota (Pemko) Padang berencana merevitalisasi Klenteng See Hien Kiong yang berlokasi di Jalan Klenteng, nomor 312, Kelurahan Kampung Pondok, Kecamatan Padang Barat.
Klenteng See Hien Kiong merupakan bangunan cagar budaya yang telah berdiri sejak 1841, dan menjadi pusat ibadah masyarakat etnis Tionghoa di Padang.
Namun, gempa bumi pada 30 September 2009 menyebabkan kerusakan berat sehingga klenteng tidak lagi berfungsi secara optimal.
Fadly Amran saat mendampingi Menbud RI, Fadli Zon meninjau klenteng ini, menyampaikan harapannya agar Kementerian Kebudayaan memberikan dukungan penuh terhadap revitalisasi Klenteng See Hien Kiong.
“Revitalisasi ini tidak hanya menyelamatkan bangunan cagar budaya, tetapi juga menghidupkan kembali kawasan Kota Tua. Kami berharap dukungan kementerian, karena ini sejalan dengan Progul Jelajah Padang yang terintegrasi dengan revitalisasi kawasan Kota Tua dan pesisir pantai,” ujar Fadly Amran.
Sementara itu, Menbud Fadli Zon menegaskan bahwa Klenteng See Hien Kiong memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi dan layak mendapatkan perhatian serius dalam program pelestarian budaya nasional.
“Bangunan ini sangat bersejarah. Klenteng See Hien Kiong sudah berdiri lama, bahkan sebelum kawasan di sekitarnya berkembang seperti sekarang. Ini merupakan bagian penting dari sejarah Kota Padang dan bukti nyata akulturasi budaya di Indonesia,” kata Fadli Zon.
Fadli Zon menambahkan, dengan sinergi pemerintah pusat dan daerah, revitalisasi klenteng ini diharapkan mampu mengembalikan fungsinya sebagai tempat ibadah, sekaligus menjadi destinasi wisata sejarah dan budaya yang memperkuat identitas Kota Padang sebagai kota multi kultural. (adl)















