Sumbardaily.com – Suasana haru bercampur bangga menyelimuti pelaksanaan Wisuda Angkatan dan Wisuda Tahfiz Perguruan Ar-Risalah Tahun Pelajaran 2025/2026 yang berlangsung di Gedung Serba Guna H. Firman Bahar, Ar-Risalah, Padang, Sabtu (16/5/2026) pagi.
Ratusan santri bersama wali murid memadati lokasi acara untuk menyaksikan momen sakral para wisudawan menuntaskan pendidikan sekaligus hafalan Al-Qur’an mereka.
Di balik prosesi wisuda tersebut, tersimpan kisah perjuangan para santri penghafal Al-Qur’an yang mampu menyentuh hati para hadirin. Keteguhan, kesabaran, hingga ujian hidup yang mereka lalui menjadi bagian penting dalam perjalanan menuntaskan hafalan 30 juz.
Pada hari pertama wisuda, sebanyak 110 wisudawan putra mengikuti prosesi kelulusan. Sementara itu, 198 wisudawati putri dijadwalkan menjalani wisuda pada hari berikutnya.
Salah satu kisah yang mencuri perhatian datang dari Ahmad Hassan Ittaqi, siswa kelas 10 MA asal Kota Solok. Remaja berusia 17 tahun itu harus menghadapi kenyataan pahit kehilangan ibundanya sejak masih duduk di bangku kelas 6 SD akibat penyakit tiroid.
Hasan merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara. Meski tumbuh tanpa sosok ibu di sisinya, ia tetap memegang teguh cita-cita keluarga untuk menjadi penghafal Al-Qur’an.
Ia mengaku mulai menghafal sejak masih duduk di sekolah dasar. Ketekunan tersebut akhirnya membuahkan hasil setelah berhasil menyelesaikan hafalan 30 juz saat berada di kelas 3 SMP.
“Saya memang berniat dan bertekad menghafal 30 juz. Umi dulu sangat tulus mengajarkan kami dan ingin anak-anaknya menjadi hafiz-hafizah,” ujar Hasan.
Hasan juga bersyukur karena dari tujuh bersaudara, tiga di antaranya kini telah berhasil menuntaskan hafalan Al-Qur’an 30 juz. Selain fokus menghafal, dirinya juga pernah meraih Juara 3 Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat kecamatan ketika duduk di kelas 2 SMP.
Menurut Hasan, proses menghafal Al-Qur’an membutuhkan kesabaran dan keteguhan hati. Karena itu, ia berpesan kepada generasi muda agar tidak mudah menyerah dalam menuntut ilmu.
“Tetap semangat dan jangan pernah mengeluh. Insyaallah Allah bersama orang-orang yang beriman,” katanya.
Cerita inspiratif lainnya datang dari Rahmad Isra Alfikri, siswa kelas 8 SMP asal Pasaman Barat. Remaja berusia 14 tahun tersebut lahir dari keluarga pengajar tahfiz sehingga sejak kecil sudah dibiasakan dekat dengan Al-Qur’an.
Isra mengungkapkan bahwa sejak taman kanak-kanak dirinya telah memiliki target setoran hafalan setiap hari kepada kedua orang tuanya. Dalam sehari, ia bahkan mampu menyetor hafalan lima hingga sepuluh halaman.
“Alhamdulillah Isra tamat 30 juz saat masa Covid, bulan Agustus 2020,” ungkapnya.
Di balik keberhasilannya menghafal Al-Qur’an, Isra juga menyimpan kisah keluarga yang penuh ujian. Dari lima bersaudara, tiga kakaknya telah meninggal dunia. Sementara adiknya merupakan anak berkebutuhan khusus dan tidak mengenyam pendidikan formal.
Meski menghadapi cobaan berat dalam keluarga, semangat Isra untuk terus berprestasi tidak pernah surut. Pada tahun 2021, ia pernah mengikuti ajang Hafiz Indonesia dan berhasil meraih peringkat delapan.
Bagi Isra, setiap proses menghafal Al-Qur’an memiliki nilai ibadah tersendiri, termasuk ketika seseorang masih terbata-bata dalam melafalkan hafalan.
“Walaupun terbata-bata saat menghafal, itu tetap dinilai pahala oleh Allah. Jadi tetap semangat,” tuturnya.
Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada seluruh ustaz dan ustazah Perguruan Ar-Risalah yang telah membimbing para santri hingga mampu menuntaskan hafalan Al-Qur’an dan mengikuti wisuda tahfiz tahun ini.
Prosesi Wisuda Tahfiz Ar-Risalah Padang tahun ini tidak hanya menjadi seremoni kelulusan semata. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi gambaran nyata tentang perjuangan, ketekunan, serta harapan besar yang tumbuh dari generasi muda penghafal Al-Qur’an.
Kisah Ahmad Hassan Ittaqi dan Rahmad Isra Alfikri pun menjadi bukti bahwa keterbatasan dan ujian hidup tidak menghalangi seseorang untuk meraih cita-cita dan mengukir prestasi melalui Al-Qur’an. (*)















