Karhutla Sumatera Masih Membara, 49 Hotspot High Confidence Terdeteksi di Sumsel

Karhutla Sumatera Masih Membara, 49 Hotspot High Confidence Terdeteksi di Sumsel

Ilustrasi karhutla. (Foto: Kemenhut)

Sumbardaily.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan belum sepenuhnya berakhir meski jumlah titik panas atau hotspot mengalami penurunan. Hingga 13 September 2026, sebanyak 49 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence masih terdeteksi di provinsi tersebut.

Bahkan, operasi pemadaman di salah satu lokasi karhutla Sumatera Selatan telah memasuki hari kedelapan. Kondisi ini menunjukkan penurunan jumlah hotspot tidak otomatis menandakan seluruh api di lapangan telah padam.

Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan masih memperkuat pengendalian karhutla melalui sejumlah operasi. Upaya itu meliputi pemadaman dari darat, water bombing, patroli udara, hingga Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).

Data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 menunjukkan secara nasional terdapat 592 hotspot high confidence hingga Minggu, 13 September 2026 pukul 21.20 WIB.

Jumlah tersebut meningkat dibandingkan sehari sebelumnya. Pada 12 September 2026, secara nasional terdeteksi 567 hotspot high confidence.

Dari enam provinsi yang menjadi prioritas pengendalian karhutla, Sumatera Selatan berada di antara wilayah yang masih mencatat puluhan titik panas. Sebanyak 49 hotspot high confidence terdeteksi di provinsi itu, meski angka tersebut turun dari 62 titik pada hari sebelumnya.

Jambi juga kembali mencatat hotspot high confidence. Setelah sehari sebelumnya nihil, provinsi tersebut pada 13 September mencatat 17 titik.

Sementara itu, Riau masih berada dalam kondisi nihil hotspot high confidence. Artinya, tidak terdapat titik dengan tingkat kepercayaan tinggi yang terdeteksi di provinsi tersebut berdasarkan data yang digunakan Kementerian Kehutanan.

Di wilayah Kalimantan, Kalimantan Tengah mengalami penurunan paling besar di antara enam provinsi prioritas. Jumlah hotspot high confidence turun dari 197 titik menjadi 89 titik.

Kalimantan Barat juga menunjukkan perkembangan serupa. Hotspot di wilayah itu turun dari 91 titik menjadi hanya 14 titik.

Namun, kondisi berbeda terjadi di Kalimantan Selatan. Jumlah hotspot high confidence justru meningkat dari tujuh titik menjadi 28 titik.

Perbedaan perkembangan tersebut membuat pengawasan tetap dilakukan meskipun secara umum terdapat penurunan signifikan di sejumlah wilayah. Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat menjadi daerah dengan perkembangan cukup positif, sedangkan Kalimantan Selatan dan Jambi masih mendapat perhatian dalam patroli serta verifikasi lapangan.

Kementerian Kehutanan mengingatkan masyarakat agar tidak menyamakan begitu saja hotspot dengan kejadian kebakaran. Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit.

“Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak serta-merta menunjukkan satu kejadian kebakaran,” dikutip dari Kemenhut Selasa (15/9/2026).

Dalam penjelasan tersebut, satu kejadian kebakaran bahkan dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, setiap indikasi yang muncul dari pemantauan satelit tetap harus diperiksa melalui groundcheck dan dibandingkan dengan kondisi aktual di lapangan.

Penanganan karhutla dilakukan secara bersama-sama. Manggala Agni Kementerian Kehutanan bekerja bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, serta para pihak lainnya.

Kegiatan di lapangan mencakup patroli, groundcheck, pemadaman secara langsung, penyekatan penjalaran api, mopping up, serta pendinginan.

Di Sumatera Selatan, aktivitas tersebut masih berlangsung. Pada 13 September, Manggala Agni masih melakukan pemadaman di salah satu lokasi karhutla yang sudah memasuki hari kedelapan.

Satgas gabungan di Sumatera Selatan juga memperkuat penanganan terhadap kebakaran lahan gambut. Selain itu, perlindungan kawasan konservasi menjadi bagian dari penanganan yang dilakukan di wilayah tersebut.

Kondisi lahan gambut membuat proses pemadaman membutuhkan perhatian khusus. Bara api dapat bertahan di bawah permukaan tanah sehingga api yang terlihat di permukaan tidak menjadi satu-satunya persoalan.

Karena itu, pemadaman harus dilanjutkan dengan pembasahan dan pendinginan secara terus-menerus. Langkah tersebut dilakukan sampai lokasi benar-benar dinyatakan aman.

Untuk mendukung operasi dari udara, pemerintah menyiagakan 53 unit armada di enam provinsi prioritas pengendalian karhutla.

Dari jumlah tersebut, 34 armada digunakan untuk water bombing. Sementara 19 armada lainnya digunakan untuk patroli udara sekaligus mendukung pelaksanaan OMC.

Kekuatan operasi udara juga bertambah dengan bantuan dari Pemerintah Jepang. Sebanyak tiga helikopter CH-47 Chinook telah tiba di Kalimantan Barat.

Helikopter tersebut dipersiapkan untuk mendukung operasi water bombing dan akan diintegrasikan dengan keseluruhan operasi penanganan karhutla yang dilakukan Pemerintah Indonesia.

Selain operasi pemadaman, pemerintah juga menjalankan OMC di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Operasi itu menjadi bagian dari strategi pembasahan gambut sekaligus pengendalian karhutla.

Berdasarkan laporan operasi sampai 11 September, OMC Kementerian Kehutanan di Kalimantan Barat telah melaksanakan sembilan sortie dengan menggunakan 7.200 kilogram NaCl.

Dari pelaksanaan tersebut, estimasi volume air hujan yang dihasilkan mencapai sekitar 87,9 juta meter kubik.

Sementara di Kalimantan Tengah, OMC telah dilakukan sebanyak tujuh sortie dengan penggunaan 5.600 kilogram NaCl. Estimasi volume air hujan dari operasi tersebut mencapai sekitar 22,9 juta meter kubik.

Pengendalian karhutla tersebut dilakukan sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Presiden meminta tindakan dilakukan sedini mungkin ketika hotspot terdeteksi dan tidak menunggu sampai berkembang menjadi titik api.

Selain penanganan di lapangan, Presiden juga menekankan edukasi kepada masyarakat sampai tingkat desa. Penguatan penegakan hukum terhadap setiap indikasi pembakaran secara sengaja juga menjadi perhatian, termasuk jika aktivitas tersebut melibatkan korporasi.

Persoalan karhutla juga berdampak pada kondisi udara di sejumlah wilayah. Berdasarkan pemantauan PM2,5, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada dalam kategori baik hingga sedang.

Namun, sejumlah kawasan di Sumatera dan Kalimantan menunjukkan kualitas udara pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Bahkan, beberapa bagian Kalimantan masih terpantau berada dalam kategori berbahaya.

Kondisi tersebut sejalan dengan pemantauan BMKG yang menemukan udara kabur di sejumlah wilayah.

Di Pontianak, kondisi udara kabur tercatat dengan jarak pandang sekitar 3 kilometer pada dini hari 13 September. Sementara di Banjarmasin, jarak pandang berada di sekitar 2 kilometer dengan kondisi udara kabur.

Di Sumatera Selatan, prakiraan BMKG untuk wilayah Tanjung Api-Api menunjukkan jarak pandang pada dini hingga pagi hari 13 September sempat berada di kisaran 2-4 kilometer.

Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa dampak partikulat dan udara kabur masih harus diwaspadai meskipun jumlah hotspot dapat berubah dari hari ke hari.

BMKG sebelumnya mengingatkan sebaran asap masih bertahan di sejumlah wilayah di tengah kondisi kemarau. Pada saat yang sama, peluang hujan lokal masih dapat muncul.

Kondisi kering, suhu tinggi, serta vegetasi yang mudah terbakar menjadi kombinasi yang tetap perlu diwaspadai dalam pengendalian karhutla.

Masyarakat yang berada di wilayah dengan kualitas udara memburuk diimbau mengurangi kegiatan di luar ruangan. Penggunaan masker juga dianjurkan apabila masyarakat harus beraktivitas di luar.

Anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan riwayat penyakit pernapasan menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih.

Kementerian Kesehatan juga mengimbau masyarakat memantau kondisi udara dan menjaga hidrasi. Apabila muncul keluhan berupa batuk, sesak napas, atau gangguan pernapasan lainnya, masyarakat diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan.

Di sisi lain, Kementerian Kehutanan kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.

Masyarakat yang menemukan asap, titik api, atau aktivitas pembakaran juga diminta segera melaporkannya. Pelaporan lebih awal diperlukan agar petugas dapat melakukan respons sedini mungkin.

Dengan masih berlangsungnya pemadaman di Sumatera Selatan dan adanya peningkatan hotspot di beberapa wilayah Kalimantan, penanganan karhutla masih membutuhkan pengawasan berkelanjutan. Penurunan hotspot di sejumlah daerah menjadi perkembangan positif, tetapi kondisi lapangan tetap menjadi penentu utama dalam memastikan api benar-benar padam. (*)

Baca Juga

Petugas BPBD Kota Padang membagikan masker gratis kepada pengendara di tengah kondisi kualitas udara yang sangat tidak sehat.
Jangan Sepelekan Kabut Asap di Sumbar, Bisa Picu ISPA hingga Gangguan Jantung
Kabut Asap Bikin Kualitas Udara Padang Pariaman Tak Sehat, 50 Ribu Masker Dibagikan
Kabut Asap Bikin Kualitas Udara Padang Pariaman Tak Sehat, 50 Ribu Masker Dibagikan
Update Hotspot Karhutla Sumatera: Sumsel 62 Titik, Riau dan Jambi Nihil
Update Hotspot Karhutla Sumatera: Sumsel 62 Titik, Riau dan Jambi Nihil
Karhutla Nasional: Hotspot Kalbar Turun Tajam, Sumsel 34 dan Riau 18 Titik
Karhutla Nasional: Hotspot Kalbar Turun Tajam, Sumsel 34 dan Riau 18 Titik
Karhutla Nasional: Sumsel Catat 35 Hotspot, Riau 15 Titik, Kalimantan Barat Tertinggi
Karhutla Nasional: Sumsel Catat 35 Hotspot, Riau 15 Titik, Kalimantan Barat Tertinggi
64 Hotspot Terdeteksi, Pemkab Dharmasraya Naikkan Status Karhutla Jadi Siaga Darurat
64 Hotspot Terdeteksi, Pemkab Dharmasraya Naikkan Status Karhutla Jadi Siaga Darurat