Sumbardaily.com - Perkembangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera menunjukkan kondisi yang berbeda di sejumlah provinsi. Sumatera Selatan mencatat lonjakan hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence menjadi 62 titik, sedangkan Riau dan Jambi masih nihil berdasarkan pemantauan terbaru.
Data tersebut tercatat dalam pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20. Pemantauan dilakukan hingga Sabtu, 12 September 2026 pukul 21.04 WIB.
Secara nasional, jumlah hotspot high confidence tercatat 567 titik. Jumlah itu turun 121 titik dibandingkan sehari sebelumnya.
Kementerian Kehutanan bersama tim gabungan masih memperkuat pengendalian karhutla melalui operasi darat, water bombing, patroli udara, serta Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Dari enam provinsi prioritas yang dipantau, Kalimantan Tengah masih mencatat jumlah hotspot high confidence paling tinggi, yakni 197 titik. Namun, angka tersebut turun cukup banyak dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 271 titik.
Di sisi lain, Kalimantan Barat mengalami peningkatan hotspot dari 51 menjadi 91 titik. Sumatera Selatan juga mengalami kenaikan signifikan, dari sebelumnya 11 titik menjadi 62 titik.
Sementara itu, Kalimantan Selatan turun dari 47 menjadi 7 titik. Adapun Riau dan Jambi masing-masing tercatat 0 hotspot high confidence.
Kenaikan jumlah hotspot di Sumatera Selatan menjadi perhatian karena peningkatannya mencapai 51 titik dibandingkan pemantauan sebelumnya. Kondisi tersebut menjadi bagian dari dasar penguatan patroli, pengecekan lapangan atau groundcheck, serta operasi pemadaman.
Kementerian Kehutanan dikutip Senin (14/9/2026) mengingatkan, “hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi satelit dan tidak serta-merta menunjukkan satu kejadian kebakaran.”
“Satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot sehingga seluruh indikasi tetap diverifikasi melalui pengecekan langsung di lapangan,” demikian keterangan Kementerian Kehutanan.
Artinya, peningkatan angka hotspot belum dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran. Setiap indikasi yang terdeteksi satelit tetap membutuhkan verifikasi di lapangan untuk mengetahui kondisi sebenarnya.
Perkembangan karhutla juga dinilai masih sangat dinamis. Kondisi tersebut dapat berubah mengikuti faktor cuaca maupun ketersediaan bahan bakar di lapangan.
OMC Terus Dilakukan
Selain pemadaman langsung, pemerintah memperkuat upaya pencegahan melalui Operasi Modifikasi Cuaca. Kementerian Kehutanan terus melaksanakan OMC di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah sebagai bagian dari strategi pengendalian karhutla.
Di Kalimantan Barat, OMC berlangsung pada 5-14 September. Berdasarkan laporan pelaksanaan OMC Kementerian Kehutanan, hingga periode tersebut telah dilakukan sembilan sortie penerbangan.
Dalam operasi tersebut digunakan bahan semai sebanyak 7.200 kilogram NaCl. Penyemaian dilakukan pada sejumlah wilayah sasaran, yakni Mempawah, Singkawang, Bengkayang, Landak, Kubu Raya, Sanggau, Sekadau, Sintang, Ketapang, dan Kayong Utara.
Pelaksanaan OMC di Kalimantan Barat menghasilkan estimasi volume air hujan sekitar 87,9 juta meter kubik. Sementara itu, perhitungan peningkatan curah hujan secara keseluruhan akan dilakukan setelah operasi selesai.
OMC di Kalimantan Tengah dilaksanakan pada 6-15 September 2026. Hingga 11 September, sebanyak tujuh sortie telah dilakukan dengan penggunaan bahan semai mencapai 5.600 kilogram NaCl.
Penyemaian antara lain dilakukan di sekitar Kapuas, Palangka Raya, Barito Selatan, Barito Utara, Barito Timur, dan Pulang Pisau.
Hujan yang dihasilkan dari pelaksanaan OMC membantu membasahi lahan sekaligus mendukung pekerjaan tim pemadaman di lapangan. Namun, penanganan karhutla tetap membutuhkan langkah berkelanjutan.
Hal itu terutama berlaku pada ekosistem gambut. Pemadaman, pembasahan, dan pendinginan harus dilakukan secara terus-menerus karena bara api dapat bertahan di bawah permukaan tanah.
53 Armada Udara Disiagakan
Pengendalian karhutla juga dilakukan secara terpadu oleh Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, serta berbagai pihak lainnya.
Tim gabungan melakukan patroli, groundcheck, pemadaman darat, penyekatan penjalaran api, mopping up, dan pendinginan.
Pemerintah menyiagakan 53 unit armada udara untuk mendukung operasi pengendalian karhutla di enam provinsi prioritas.
Sebanyak 34 armada digunakan dalam operasi water bombing. Sementara 19 armada lainnya dimanfaatkan untuk patroli udara dan mendukung pelaksanaan OMC.
Kapasitas operasi udara juga diperkuat melalui dukungan Pemerintah Jepang. Tiga helikopter CH-47 Chinook telah tiba di Kalimantan Barat dan dipersiapkan untuk mendukung operasi water bombing.
Ketiga helikopter tersebut terlebih dahulu menjalani tahapan persiapan teknis dan keselamatan penerbangan sebelum digunakan dalam operasi. Dukungan tersebut merupakan bagian dari kerja sama Humanitarian Assistance and Disaster Relief Indonesia-Jepang.
Pengerahan sumber daya dilakukan dengan mempertimbangkan perkembangan hotspot, hasil verifikasi lapangan, kondisi kebakaran, serta kondisi meteorologis. Langkah tersebut diarahkan untuk mencegah api meluas dan mempercepat penanganan di lokasi yang masih aktif.
Kualitas Udara Sumatera dan Kalimantan Dipantau
Selain jumlah hotspot, kondisi kualitas udara juga menjadi perhatian. Berdasarkan pemantauan PM2,5, kondisi kualitas udara di Indonesia masih bervariasi.
Sebagian besar wilayah berada pada kategori baik hingga sedang. Namun, sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan masih berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Bahkan, terdapat area tertentu yang terpantau berada pada kategori berbahaya.
Kondisi jarak pandang juga masih perlu dipantau. Berdasarkan informasi BMKG, pada 12 September sore kondisi udara di Pontianak diprakirakan kabur dengan jarak pandang sekitar 4 kilometer.
Di Pekanbaru, jarak pandang sekitar 7 kilometer dengan kondisi berawan. Sementara di Banjarmasin, jarak pandang sekitar 7 kilometer dengan kondisi cerah berawan.
Kondisi tersebut dapat berubah mengikuti konsentrasi asap, arah dan kecepatan angin, kelembapan, curah hujan, serta perkembangan kebakaran di lapangan.
Kementerian Kehutanan dikutip Senin (14/9/2026) mengimbau masyarakat, terutama yang berada di wilayah terdampak asap, untuk memantau informasi kualitas udara secara berkala.
Masyarakat juga diminta menyesuaikan aktivitas luar ruangan dengan kondisi kualitas udara di wilayah masing-masing.
Sejalan dengan imbauan Kementerian Kesehatan, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara berada pada kondisi tidak sehat. Penggunaan masker juga dianjurkan apabila masyarakat harus melakukan aktivitas di luar.
Anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan penyakit pernapasan maupun penyakit kronis lainnya perlu mendapatkan perhatian khusus karena lebih rentan terhadap paparan PM2,5.
Masyarakat di wilayah terdampak juga dianjurkan menjaga kondisi tubuh, memperbanyak konsumsi air putih, serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Apabila muncul keluhan seperti sesak, batuk berkepanjangan, iritasi, atau gangguan pernapasan lainnya, masyarakat diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan.
Pencegahan Diminta dari Tingkat Desa
Penguatan penanganan karhutla sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar seluruh jajaran pemerintah mengambil tindakan sedini mungkin ketika terdapat hotspot.
Pemerintah diminta tidak menunggu indikasi tersebut berkembang menjadi kebakaran. Upaya pencegahan juga diarahkan melalui pembasahan dan penyediaan sumber air di wilayah yang rawan karhutla.
Presiden juga menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat hingga tingkat desa. Edukasi tersebut diperlukan agar masyarakat memahami bahwa membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar dilarang dan dapat menimbulkan dampak yang luas.
Kementerian Kehutanan kembali mengingatkan masyarakat agar tidak membuka ataupun membersihkan lahan dengan cara membakar.
Apabila menemukan asap, titik api, atau aktivitas pembakaran, masyarakat diminta segera melapor. Pelaporan lebih awal diharapkan memungkinkan petugas melakukan respons sedini mungkin sebelum api berkembang dan meluas.
Dengan pemantauan terbaru tersebut, Sumatera Selatan menjadi salah satu wilayah yang perlu mendapat perhatian dalam perkembangan hotspot karhutla. Sementara Riau dan Jambi masih mencatat nihil hotspot high confidence pada pemantauan hingga 12 September 2026 pukul 21.04 WIB. (*)















