Sumbardaily.com - Panggung sepak bola Indonesia ternyata memiliki benang merah yang sangat kuat dengan turnamen terakbar di kolong langit, Piala Dunia FIFA. Kompetisi domestik di tanah air, mulai dari era Liga Dunhill, Liga Kansas, Indonesia Super League (ISL), hingga era modern Liga 1 Indonesia, telah menjadi saksi bisu kedatangan para pesepak bola top dunia.
Jejak pemain Piala Dunia di Indonesia ini mengukir tinta emas yang sangat menarik untuk diulas, mempertemukan talenta lokal dengan para bintang yang pernah merasakan atmosfer termegah sejagat raya.
Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) bahkan secara khusus merangkum nama-nama pemain luar biasa yang pernah menghubungkan Indonesia dengan ajang sepak bola paling bergengsi tersebut. Fenomena ini menciptakan romansa tersendiri bagi pencinta kulit bundar di tanah air.
Ada kelompok pemain yang menginjakkan kaki di rumput stadion Indonesia setelah mereka mencatatkan sejarah besar dan meraih kejayaan di panggung dunia. Namun, yang tidak kalah mengagumkan, ada pula aktor lapangan hijau yang justru berangkat menuju putaran final turnamen elite tersebut saat mereka masih aktif memegang status sebagai pemain resmi di bawah naungan klub sepak bola Indonesia.
Perjalanan historis ini membentang sangat panjang, melibatkan nama-nama legendaris lintas generasi dan lintas benua. Dinamika tersebut bergulir mulai dari ikon legendaris asal Argentina seperti Mario Kempes yang berjaya di dekade 1970-an, gelombang talenta emas dari Benua Afrika, hingga sejarah paling mutakhir yang tercipta pada gelaran akbar Piala Dunia 2026 melalui sosok bek tangguh tim nasional Irak, Frans Putros.
Semua figur ini memberikan warna tersendiri dan menegaskan bahwa kompetisi sepak bola di Indonesia memiliki daya tarik yang sangat luar biasa di mata dunia bagi masyarakat umum.
Era Keemasan Pelita Jaya dan Sihir Para Juara Dunia asal Argentina
Jika berbicara mengenai sejarah rekrutan paling fenomenal di jagat sepak bola nasional, maka klub Pelita Jaya wajib ditempatkan di garis terdepan. Klub legendaris ini menjadi pionir dalam mendatangkan para jawara dunia yang telah memahat nama mereka dengan tinta emas di panggung internasional.
Dua nama besar yang paling mencuri perhatian publik tanah air dalam sejarah ini tidak lain adalah Mario Kempes dan Pedro Pasculli. Kehadiran duo Argentina ini sempat menggemparkan media olahraga nasional dan menjadi perbincangan hangat.
Nama pertama yang mencatatkan jejak pemain Piala Dunia di Indonesia secara spektakuler adalah Mario Kempes. Penyerang legendaris asal Argentina ini bukan sekadar pemain biasa yang pernah tampil di turnamen empat tahunan tersebut. Kempes tercatat merupakan bagian dari skuad Tim Tanggo pada tiga edisi putaran final yang berbeda, yakni pada Piala Dunia edisi tahun 1974, kemudian edisi tahun 1978, hingga edisi tahun 1982.
Puncak kejayaan seorang Mario Kempes terjadi pada panggung Piala Dunia FIFA 1978, di mana ia bertindak sebagai bintang utama yang mengantarkan Argentina merengkuh trofi juara untuk pertama kalinya dalam sejarah mereka.
Dalam laga final yang berlangsung sangat dramatis menantang kekuatan Belanda, Mario Kempes tampil memukau dengan melesakkan dua gol penentu kemenangan. Tidak hanya membawa negaranya naik ke podium tertinggi, sang striker legendaris ini juga sukses menyabet dua penghargaan individu paling bergengsi sekaligus dalam satu edisi turnamen, yaitu trofi Bola Emas sebagai pemain terbaik dan trofi Sepatu Emas sebagai pencetak gol terbanyak turnamen.
Menjelang masa-masa akhir perjalanan karier profesionalnya sebagai pesepak bola, kejutan besar terjadi pada tahun 1996. Mario Kempes secara resmi memutuskan untuk bergabung dengan klub lokal Indonesia, Pelita Jaya. Kedatangan sang legenda hidup ini menjadikannya salah satu nama paling agung dan terbesar yang pernah merumput serta memamerkan skill olah bola di atas lapangan kompetisi sepak bola Indonesia.
Langkah spektakuler Pelita Jaya dalam mengumpulkan para alumni juara dunia tidak berhenti sampai di situ saja. Pada tahun yang sama, yaitu tahun 1996, klub ini juga sukses mengamankan tanda tangan kompatriot Kempes, yakni Pedro Pasculli.
Bagi para penggemar sepak bola, nama Pasculli tentu sudah sangat familiar. Ia merupakan anggota resmi dari skuad tim nasional Argentina yang berhasil keluar sebagai jawara pada ajang Piala Dunia FIFA 1986 yang diselenggarakan di Meksiko, sebuah turnamen yang sangat ikonik bagi publik dunia.
Kontribusi Pedro Pasculli untuk negaranya di turnamen tersebut pun tergolong sangat krusial bagi langkah Argentina. Penyerang tajam ini merupakan sosok yang mencetak gol tunggal penentu kemenangan Argentina atas Uruguay pada fase gugur babak 16 besar yang sangat menegangkan.
Sebelum akhirnya mendarat dan mencatatkan jejak karier di Asia Tenggara, Pasculli tercatat telah melanglang buana mengarungi kerasnya kompetisi sepak bola di Argentina, benua Eropa bersama klub-klub Italia, hingga kompetisi di Jepang. Perjalanan panjang dan petualangan karier sepak bola pria Argentina ini pada akhirnya resmi menemui titik akhir atau babak penutup bersama Pelita Jaya di kompetisi Indonesia pada tahun 1996.
Invasi Singa Indomabel Kamerun di Lapangan Hijau Nusantara
Selain kedatangan para maestro taktik dan penyerang mematikan dari tanah Amerika Latin, sejarah sepak bola Indonesia juga diwarnai oleh eksodus massal para pemain bintang dari benua Afrika, khususnya generasi emas dari tim nasional Kamerun yang dijuluki sebagai skuad "Singa Indomabel". Kehadiran para pemain Kamerun alumni panggung dunia ini tersebar di berbagai klub lintas pulau, memberikan dampak fisik yang kuat, kecepatan, serta teknik bermain yang tinggi di kompetisi lokal.
Ikon terbesar Afrika yang pernah menjejakkan kakinya di lapangan hijau Indonesia tentu saja adalah Roger Milla. Pemain ini diakui secara luas sebagai salah satu legenda paling besar dan paling dihormati dalam sejarah panjang Piala Dunia FIFA.
Publik dunia tentu tidak akan pernah lupa bagaimana Roger Milla berhasil memimpin kejutan besar tim nasional Kamerun melaju hingga babak perempat final pada ajang Piala Dunia FIFA 1990 yang berlangsung di Italia. Pada turnamen tersebut, di usianya yang sudah menginjak 38 tahun—sebuah usia yang senja bagi seorang penyerang—Milla secara luar biasa mampu menggelontorkan empat gol berharga ke gawang lawan-lawannya.
Empat tahun berselang, keajaiban Roger Milla belum memudar. Pada putaran final Piala Dunia FIFA 1994 yang digelar di Amerika Serikat, ia kembali mencatatkan namanya di papan skor dalam usia yang sangat menakjubkan, yaitu 42 tahun. Pasca menyelesaikan petualangan pamungkasnya di level tertinggi panggung dunia tersebut, Roger Milla memilih Indonesia sebagai pelabuhan karier berikutnya. Ia tercatat pernah membela panji Pelita Jaya, sebelum akhirnya melanjutkan sisa petualangan indahnya di tanah air bersama klub Kalimantan, Putra Samarinda.
Gelombang pemain Kamerun berkualifikasi Piala Dunia kemudian terus mengalir deras ke Indonesia. Salah satu nama yang patut dicatat adalah Ernest Ebongue. Pemain ini memiliki reputasi mentereng sebagai pilar utama yang selalu tampil dan bermain dalam seluruh pertandingan yang dilakoni oleh tim nasional Kamerun pada ajang Piala Dunia FIFA 1982.
Turnamen yang diselenggarakan di Spanyol tersebut merupakan momen yang sangat bersejarah karena menjadi edisi pertama kalinya bagi negara Kamerun berhasil menembus putaran final turnamen dunia. Setelah menyelesaikan petualangan panjangnya di ketatnya kompetisi benua Eropa, Ebongue membulatkan tekad untuk datang ke Indonesia pada pertengahan dekade 1990-an. Di Indonesia, ia tercatat memperkuat dua klub besar, yaitu Persma Manado serta Pupuk Kaltim.
Selanjutnya, ada nama Bertin Ebwelle yang turut memeriahkan kompetisi sepak bola tanah air. Ebwelle merupakan bagian tak terpisahkan dari skuad ajaib Kamerun yang menciptakan guncangan hebat di dunia dengan menembus babak perempat final pada ajang Piala Dunia FIFA 1990.
Penyerang tangguh yang memiliki julukan sangat unik, yaitu “The Missile”, ini memutuskan untuk melanjutkan sisa karier sepak bola profesionalnya di Indonesia. Ia memilih untuk bergabung dan mengenakan seragam kebesaran klub Persisam Putra Samarinda pada medio pertengahan dekade 1990-an, memberikan tontonan yang menghibur di Samarinda.
Generasi emas Kamerun alumni Piala Dunia FIFA 1990 lainnya yang juga merintis karier sangat panjang di Indonesia adalah Jules Onana. Bek tangguh ini merupakan pilar lini belakang Kamerun saat menaklukkan mata dunia di Italia 1990. Setelah mencicipi atmosfer kompetisi di liga domestik Prancis dan juga Kamerun, Onana mengambil keputusan besar untuk merantau ke Indonesia.
Berbeda dengan rekan-rekannya yang hanya bertahan singkat, Jules Onana menghabiskan waktu berkarier yang cukup lama di tanah air. Tercatat, ia pernah membela beberapa klub berbeda, mulai dari klub Persma Manado, kemudian menyeberang ke tanah Jawa bersama Persis Solo, hingga memperkuat klub Pelita Krakatau Steel sebelum akhirnya ia resmi memutuskan gantung sepatu atau pensiun dari dunia sepak bola.
Klub Pelita Jaya tampaknya memang memiliki relasi yang sangat kuat dengan agen perekrutan pemain Kamerun. Hal ini dibuktikan dengan kedatangan Emmanuel Maboang. Gelandang serang yang memiliki kreativitas tinggi ini tercatat pernah tampil membela Kamerun dalam dua edisi Piala Dunia FIFA yang berbeda, yakni pada edisi tahun 1990 dan edisi tahun 1994.
Maboang kemudian resmi memperkuat lini tengah Pelita Jaya pada akhir era 1990-an, sekaligus menasbihkan dirinya sebagai salah satu legiun asing asal Afrika paling berpengalaman yang pernah menghiasi dan meningkatkan mutu kompetisi sepak bola di Indonesia.
Pemain bertahan asal Kamerun lainnya yang mencatatkan jejak pemain Piala Dunia di Indonesia adalah Jean-Pierre Fiala. Fiala merupakan bagian dari skuad Kamerun yang bertarung habis-habisan pada ajang Piala Dunia FIFA 1994 yang berlangsung di Amerika Serikat.
Pasca-berakhirnya turnamen akbar tersebut, pemain yang berposisi sebagai bek tengah ini langsung melanjutkan karier profesionalnya di Indonesia. Destinasi pertama yang ia tuju adalah klub Persma Manado, sebelum akhirnya ia berpindah klub untuk memperkuat lini pertahanan tim papan atas Persija Jakarta.
Berbicara mengenai kesuksesan pemain asing di Indonesia, nama Pierre Njanka tentu tidak boleh dilewatkan begitu saja. Bek tengah yang sangat kokoh ini tercatat pernah tampil dalam dua edisi Piala Dunia FIFA, yakni pada tahun 1998 dan tahun 2002. Salah satu momen ikonik dalam kariernya adalah ketika ia sukses mencetak gol indah untuk Kamerun saat berhadapan dengan Austria pada penyisihan grup Piala Dunia FIFA 1998 di Prancis.
Ketika memutuskan untuk datang dan berkarier di Indonesia, Njanka tidak butuh waktu lama untuk mengukir prestasi emas. Ia langsung meraih kesuksesan tertinggi dengan memimpin dan membawa klub Arema Indonesia keluar sebagai kampiun atau menjuarai kompetisi kasta tertinggi Indonesia Super League (ISL) pada musim 2009–2010.
Setelah sukses besar bersama Singo Edan, bek tangguh yang sangat disegani ini melanjutkan petualangannya di Indonesia dengan membela sejumlah klub mapan lainnya seperti Persija Jakarta, Mitra Kukar, hingga klub Persisam Putra Samarinda.
Nama terakhir dari faksi Kamerun yang menghebohkan publik sepak bola nasional adalah Eric Djemba-Djemba. Gelandang pengangkut air yang merupakan mantan pemain klub raksasa Liga Inggris, Manchester United, ini masuk ke dalam daftar resmi skuad tim nasional Kamerun untuk ajang Piala Dunia FIFA 2002 yang berlangsung di Korea Selatan dan Jepang.
Pada tahun 2015, kejutan besar terjadi ketika Eric Djemba-Djemba secara resmi sepakat untuk bergabung dengan klub Persebaya Surabaya yang kala itu bertanding di kompetisi Indonesia Super League (ISL), sebuah entitas klub sepak bola yang dalam perkembangannya saat ini dikenal luas oleh publik dengan nama Bhayangkara FC.
Pesona Bintang Eropa dan Geliat Marquee Player yang Mengguncang Publik
Kompetisi sepak bola di Indonesia tidak hanya menjadi magnet bagi para pemain asal Amerika Latin dan Afrika saja. Benua Eropa juga turut mengirimkan representasi terbaik mereka yang berstatus alumni Piala Dunia untuk mencicipi atmosfer fanatisme sepak bola tanah air, terutama saat regulasi mengenai marquee player resmi diberlakukan beberapa tahun silam pada era Liga 1 Indonesia.
Dari dataran Eropa Timur, muncul nama Nastja Ceh. Gelandang elegan yang memiliki visi bermain sangat cerdas ini merupakan bagian dari skuad tim nasional Slovenia yang tampil bertarung di ajang Piala Dunia FIFA 2002.
Turnamen tersebut memiliki nilai historis yang sangat tinggi karena merupakan panggung putaran final Piala Dunia yang pertama kalinya berhasil dicapai oleh negara Slovenia semenjak merdeka. Setelah melanglang buana dan menancapkan taringnya di sejumlah liga-liga di benua Eropa, gelandang bertalenta ini sempat singgah ke Indonesia untuk memperkuat barisan lini tengah klub legendaris asal Sumatera Utara, PSMS Medan.
Lalu, sejarah mencatat salah satu momentum perekrutan paling megah dalam sejarah panjang sepak bola di bumi Nusantara, yaitu saat klub raksasa Jawa Barat, Persib Bandung, secara resmi mengumumkan kedatangan Michael Essien pada tahun 2017.
Kedatangan mantan jenderal lapangan tengah Chelsea dan Real Madrid ini ke Bandung langsung menyedot perhatian masif dari media-media olahraga di seluruh penjuru dunia. Essien didatangkan oleh manajemen Maung Bandung dengan menyandang status istimewa sebagai marquee player.
Sebelum membawa aura kebintangannya ke stadion-stadion di Indonesia, Essien merupakan pilar tak tergantikan bagi tim nasional Ghana di ajang Piala Dunia FIFA edisi tahun 2006 dan edisi tahun 2014. Ia diakui secara luas sebagai salah satu pemain terbaik yang pernah dimiliki oleh negara yang dijuluki The Black Stars tersebut.
Menariknya lagi, pada musim kompetisi yang sama, Persib Bandung tidak hanya mendatangkan Essien saja, melainkan juga turut merekrut mantan ujung tombak tim nasional Inggris, Carlton Cole.
Tak ketinggalan, ada pula nama Ivan Bosnjak yang turut mewarnai jejak pemain Piala Dunia di Indonesia. Bosnjak merupakan penyerang yang masuk ke dalam daftar anggota skuad tim nasional Kroasia pada ajang Piala Dunia FIFA 2006 yang diselenggarakan di Jerman.
Meskipun selama turnamen berlangsung ia lebih banyak mengemban tugas dan berperan sebagai pemain pelapis di bangku cadangan, Bosnjak tetap menjadi bagian resmi dari generasi Kroasia yang tampil di panggung dunia.
Di masa-masa penghujung karier sepak bola profesionalnya, penyerang asal Kroasia ini sempat datang ke ibu kota Indonesia untuk memperkuat lini serang klub Persija Jakarta pada musim kompetisi tahun 2014.
Satu lagi nama besar berstatus marquee player yang meramaikan kompetisi kasta tertinggi Liga 1 Indonesia pada tahun 2017 adalah Didier Zokora. Gelandang bertahan legendaris ini memiliki catatan yang sangat mentereng dengan tampil dalam tiga edisi putaran final Piala Dunia FIFA secara berturut-turut bersama tim nasional Pantai Gading, yakni pada edisi tahun 2006, tahun 2010, hingga tahun 2014.
Rekam jejak tersebut menempatkan Zokora sebagai salah satu pemain dengan jumlah penampilan atau caps terbanyak sepanjang sejarah berdirinya tim nasional negaranya.
Mantan pemain jangkar yang pernah membela klub elite Liga Inggris Tottenham Hotspur dan klub La Liga Spanyol Sevilla ini merupakan bagian integral dari generasi emas Les Elephants yang rutin meloloskan Pantai Gading ke putaran final dunia. Pada musim 2017, Didier Zokora secara resmi memilih untuk meramaikan kompetisi Liga 1 Indonesia bersama Semen Padang.
Kiprah Bomber Tajam Nigeria dan Catatan Bersejarah dari Selandia Baru
Daya tarik sepak bola Indonesia juga berhasil memikat penyerang-penyerang yang pernah menggoreskan tinta emas di panggung Piala Dunia. Dua nama yang sangat ikonik di lini serang dan sempat merumput di kompetisi tanah air adalah Shane Smeltz dan Peter Odemwingie. Kedua bomber ini datang dengan reputasi sebagai pencetak gol di level tertinggi jagat sepak bola.
Shane Smeltz merupakan penyerang yang berstatus sebagai salah satu tokoh paling krusial bagi skuad All Whites, julukan tim nasional Selandia Baru, pada pergelaran Piala Dunia FIFA 2010 yang berlangsung di Afrika Selatan.
Nama Smeltz akan selalu dikenang dalam buku sejarah sepak bola dunia berkat keberhasilannya mencetak gol heroik ke gawang tim raksasa yang merupakan juara bertahan kala itu, Italia, dalam pertandingan fase grup yang berakhir dengan skor imbang 1-1 yang sangat bersejarah bagi publik Selandia Baru.
Setelah menjalani karier panjang di kompetisi Australia dan kawasan Asia, bomber tajam ini memutuskan untuk merasakan atmosfer sepak bola Indonesia dengan bergabung bersama klub Borneo FC pada tahun 2017.
Tidak kalah mentereng, nama Peter Odemwingie juga sempat menghentak publik sepak bola nasional saat memutuskan berkarier di Indonesia. Penyerang tajam ini tercatat sukses tampil dalam dua edisi Piala Dunia FIFA yang berbeda bersama tim nasional Nigeria, yaitu pada edisi tahun 2010 dan edisi tahun 2014.
Salah satu pembuktian kualitasnya di panggung dunia terjadi pada Piala Dunia FIFA 2014, di mana ia sukses mencetak gol kemenangan atas Bosnia dan Herzegovina.
Sebelum melanjutkan petualangan barunya ke Indonesia, Odemwingie sudah sangat terkenal di kalangan pencinta sepak bola karena memiliki karier di kompetisi kasta tertinggi Liga Inggris bersama klub West Bromwich Albion dan Stoke City.
Saat mendarat di tanah air, ia memilih untuk melanjutkan petualangannya ke Indonesia bersama Madura United. Bersama klub tersebut, Odemwingie tampil impresif dengan mencetak 15 gol dari total 23 pertandingan Liga 1.
Kisah Unik Marcel Mahouve: Bersinar di Indonesia Sebelum Melenggang ke Prancis
Dalam daftar panjang jejak pemain Piala Dunia di Indonesia, kisah yang dimiliki oleh seorang Marcel Mahouve bisa dikatakan sebagai salah satu yang paling unik dan sangat menarik untuk disimak. Jika mayoritas pemain asing lainnya datang ke Indonesia setelah mereka mencicipi kemegahan panggung Piala Dunia, maka jalan hidup Marcel Mahouve justru berputar ke arah yang sebaliknya.
Gelandang bertenaga asal Kamerun ini tercatat justru lebih dahulu dikenal oleh publik sepak bola Indonesia sebelum dirinya mendapatkan kesempatan emas untuk tampil di ajang Piala Dunia FIFA.
Marcel Mahouve pada awalnya memperkuat Putra Samarinda sebelum masuk skuad negaranya untuk Piala Dunia FIFA 1998 di Prancis. Penampilan apik yang ia tunjukkan selama mengawal lini tengah klub Indonesia tersebut ternyata berhasil memikat tim nasional negaranya.
Secara luar biasa, Mahouve kemudian mendapatkan panggilan resmi untuk masuk ke dalam skuad final tim nasional Kamerun yang bertolak menuju ajang Piala Dunia FIFA 1998 di Prancis. Setelah berhasil menuntaskan tugas negara dan merasakan atmosfer bertanding di panggung sepak bola terbesar di dunia tersebut, ikatan batin Mahouve dengan Indonesia ternyata tidak terputus.
Pasca-tampil di panggung sepak bola terbesar dunia tersebut, Marcel Mahouve kembali ke Indonesia dan melanjutkan kariernya bersama Persita Tangerang, sebuah cerita indah yang membuktikan bahwa kompetisi Indonesia memiliki tempat tersendiri dalam karier internasionalnya.
Era Baru dan Sejarah Mutakhir yang Tercipta di Ajang Piala Dunia 2026
Rantai sejarah yang menghubungkan sepak bola Indonesia dengan turnamen akbar dunia ternyata tidak berhenti di masa lalu saja. Hubungan tersebut terus berlanjut hingga ke era modern saat ini, bahkan memuncak pada pergelaran paling akbar, yaitu Piala Dunia 2026.
Dua nama pemain yang pernah dan sedang berkarier di klub Indonesia sukses mencatatkan nama mereka sebagai bagian dari kontestan turnamen megah tersebut, yaitu Gervane Kastaneer dan Frans Putros.
Nama pertama adalah Gervane Kastaneer. Pemain ini tercatat memiliki rekam jejak yang sangat erat dengan sepak bola nasional karena merupakan bagian dari skuad Persib Bandung yang menjuarai Liga 1 2024–25 sebelum melanjutkan karier ke Persis Solo.
Bersama tim nasional negaranya, Curacao, Gervane Kastaneer berhasil mencatatkan sebuah sejarah yang sangat luar biasa. Ia mencatatkan sejarah dengan tampil pada Piala Dunia FIFA 2026, turnamen pertama negaranya di panggung dunia.
Dalam laga perdana Curacao melawan Jerman, Kastaneer masuk dari bangku cadangan pada menit ke-81. Curacao harus mengakui keunggulan lawannya dengan skor 7-1, namun pertandingan tersebut tetap menjadi bagian penting dalam sejarah sepak bola negara Karibia tersebut.
Menariknya, Kastaneer datang ke Piala Dunia FIFA 2026 dengan status pemain Terengganu FC. Ia juga menjadi satu dari tiga wakil Malaysia Super League di turnamen tersebut bersama duo Selangor FC, Mohammad Abualnadi dan Noor Al-Rawabdeh, yang membela Yordania.
Namun, sejarah yang paling monumental bagi publik sepak bola tanah air di ajang Piala Dunia 2026 justru lahir dari sosok Frans Putros. Frans Putros mencatat sejarah sebagai pemain aktif Liga Indonesia pertama yang tampil di FIFA World Cup 2026.
Bek serbabisa Persib Bandung itu membawa pengalaman penting ke skuad Irak yang kembali ke putaran final setelah penantian panjang sejak 1986. Kehadiran Frans Putros membawa segudang pengalaman berharga serta mental bertanding yang sangat tinggi ke dalam skuad tim nasional Irak.
Irak sendiri memulai kiprah di turnamen ini dengan menghadapi Norwegia di Boston. Kehadiran Putros menjadi tonggak penting bagi sepak bola Indonesia karena untuk pertama kalinya kompetisi domestik punya wakil aktif di Piala Dunia.
Momen tersebut menandai untuk pertama kalinya dalam sejarah, kompetisi sepak bola domestik Indonesia memiliki seorang perwakilan pemain yang berstatus aktif bermain di klub lokal saat berlaga di panggung sekolosal Piala Dunia.
Rekan setim Layvin Kurzawa di Persib Bandung itu juga menyoroti dukungan yang ia terima selama membela Persib. Dalam wawancara bersama ILeague, ia mengungkapkan: “Banyak sekali, ya, saya merasakannya (dukungan). Saya sangat berterima kasih kepada Bobotoh (pendukung Persib Bandung). Menerima begitu banyak pesan membuat momen itu terasa sangat istimewa. Jadi, saya hanya bisa mengucapkan terima kasih.”
Pernyataan dari Frans Putros tersebut seolah menjadi penegas bahwa jejak pemain Piala Dunia di Indonesia bukan sekadar urusan taktik belaka. Lebih dari itu, ada ikatan emosional yang sangat mendalam antara para bintang dunia tersebut dengan fanatisme luar biasa yang dimiliki oleh para suporter sepak bola di Indonesia.
Dari era kepeloporan Mario Kempes di pertengahan era 90-an hingga pencapaian bersejarah Frans Putros di ajang Piala Dunia 2026, kompetisi sepak bola Indonesia telah membuktikan diri mampu menjadi bagian dari cerita besar sepak bola internasional, menghadirkan kebanggaan tersendiri bagi masyarakat umum di seluruh penjuru tanah air. (*)
















