Sumbardaily.com – PT Hutama Karya (Persero) mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 6,30% secara tahunan hingga triwulan III 2026. Pada periode yang sama, pendapatan usaha perusahaan konstruksi dan infrastruktur milik negara tersebut meningkat 2,70%. Kinerja positif ini ditopang oleh pertumbuhan pendapatan operasional jalan tol, pengendalian beban usaha, serta efisiensi beban keuangan.
Capaian tersebut dipaparkan dalam Rapat Koordinasi Triwulan III Hutama Karya yang berlangsung di Jakarta, Rabu (21/10/2026). Pertumbuhan laba menjadi salah satu indikator upaya perusahaan menjaga kinerja keuangan di tengah pelaksanaan penugasan pembangunan infrastruktur strategis.
Direktur Utama Hutama Karya, Koentjoro, mengatakan peningkatan laba tersebut mencerminkan disiplin perusahaan dalam mengelola keuangan. Menurutnya, meskipun pertumbuhan pendapatan masih berada pada tingkat moderat, pengendalian biaya dan efisiensi bunga memberikan dukungan terhadap peningkatan keuntungan.
"Pendapatan kami tumbuh moderat, tetapi beban usaha tetap terjaga dan beban bunga lebih efisien. Laba bersih tahunan kami juga meningkat sejak 2023 hingga 2025, dan tahun ini tren itu berlanjut," ujar Koentjoro, dikutip Kamis (22/10/2026).
Kinerja tersebut sejalan dengan agenda 2 Tahun Gerak Nyata pemerintahan yang mendorong badan usaha milik negara (BUMN) tumbuh sehat dan menguntungkan. Melalui pengelolaan yang baik, aset negara diharapkan dapat memberikan manfaat lebih besar bagi masyarakat.
Selain itu, capaian Hutama Karya turut mendukung Asta Cita, khususnya misi melanjutkan pembangunan infrastruktur. Sebagai BUMN yang mendapat penugasan untuk membangun infrastruktur strategis, perusahaan tidak hanya dituntut menyelesaikan pembangunan, tetapi juga harus memastikan kondisi keuangannya tetap sehat.
Pendapatan Operasional Jalan Tol Tumbuh 12,4%
Salah satu penopang kinerja Hutama Karya hingga triwulan III 2026 berasal dari bisnis operasional jalan tol. Pendapatan dari segmen tersebut tumbuh 12,4% secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan pendapatan usaha perusahaan secara keseluruhan yang mencapai 2,70%.
Koentjoro menjelaskan, pembangunan dan pengoperasian jalan tol menjadi dua bagian penting dalam kegiatan usaha perusahaan. Di satu sisi, Hutama Karya menjalankan bisnis jasa konstruksi, sedangkan di sisi lain perusahaan memperoleh pendapatan dari pengoperasian ruas jalan tol.
"Kami membangun jalan tol, lalu mengoperasikannya. Bisnis jasa konstruksi tetap menjadi inti usaha kami," katanya.
Pendapatan dari jasa konstruksi memiliki karakteristik yang bergantung pada perolehan kontrak serta siklus pelaksanaan proyek. Sementara itu, pendapatan operasional jalan tol diperoleh secara rutin selama masa konsesi, dengan besaran yang berkaitan dengan jumlah kendaraan yang melintas.
Kombinasi kedua segmen usaha tersebut dinilai dapat menciptakan sumber pendapatan yang lebih seimbang sekaligus memberikan kepastian arus kas bagi perusahaan. Pendapatan dari jalan tol yang sudah beroperasi juga menjadi salah satu penopang bagi keberlanjutan kegiatan usaha Hutama Karya.
Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) menjadi sumber utama pendapatan operasional jalan tol perusahaan. Hingga saat ini, panjang ruas JTTS yang dioperasikan Hutama Karya bersama anak usahanya mencapai 847 kilometer.
Sepanjang semester I 2026, jumlah kendaraan yang melintas di JTTS tercatat mencapai 17 juta kendaraan. Rata-rata lalu lintas harian pada ruas-ruas tersebut juga melampaui target perusahaan.
Peningkatan lalu lintas didorong oleh bertambahnya ruas jalan tol yang telah beroperasi, semakin banyaknya kawasan industri dan pelabuhan yang terhubung, serta meningkatnya pemanfaatan jalan tol oleh masyarakat.
Pertumbuhan volume kendaraan tersebut menjadi faktor penting bagi pendapatan operasional perusahaan. Semakin luas jaringan jalan tol yang beroperasi dan semakin tinggi pemanfaatannya, semakin besar pula peluang perusahaan untuk mengembangkan sumber pendapatan dari segmen tersebut.
Kelola Tol di Sumatra dan Jakarta
Selain mengoperasikan ruas JTTS, Hutama Karya juga mengelola dua ruas jalan tol di Jakarta. Keduanya adalah Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta Seksi S atau JORR-S sepanjang 14,3 kilometer dan Jalan Tol Akses Tanjung Priok (ATP) sepanjang 11,4 kilometer.
JORR-S berfungsi melayani arus kendaraan di wilayah selatan Jakarta. Sementara itu, Jalan Tol ATP menjadi akses logistik menuju Pelabuhan Tanjung Priok.
Dengan pengoperasian ruas-ruas tersebut, total panjang jalan tol yang dikelola Hutama Karya mencapai sekitar 872,5 kilometer.
Untuk mendukung kelancaran operasional, perusahaan menyiagakan armada layanan dan gardu transaksi di ruas-ruas yang dikelolanya. Hutama Karya juga mengembangkan aplikasi MOZY yang menyediakan fasilitas pemantauan CCTV, informasi tarif jalan tol, serta tombol darurat.
Peningkatan layanan dilakukan melalui berbagai aspek, mulai dari penanganan keluhan pengguna jalan, kesiapsiagaan dan keramahan petugas, hingga pemeliharaan jalan serta fasilitas pendukung.
Upaya peningkatan kualitas layanan tersebut turut tercermin dari masuknya Hutama Karya dalam jajaran 100 BUMN dengan pelayanan terbaik melalui Danantara Indonesia CX100. Program tersebut mengukur kualitas pelayanan BUMN melalui penilaian pakar serta survei langsung dan daring kepada masyarakat.
Selektif Memilih Proyek untuk Menjaga Arus Kas
Di sektor konstruksi, Hutama Karya menerapkan manajemen risiko dalam menentukan proyek yang akan dikerjakan. Setiap peluang usaha terlebih dahulu dikaji berdasarkan profil risiko, kelayakan proyek, dan kemampuan pihak pemberi kerja dalam memenuhi kewajiban pembayaran.
Langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kualitas piutang sekaligus memastikan arus kas perusahaan tetap terkendali. Selektivitas dalam mengambil proyek menjadi bagian dari strategi perusahaan agar pertumbuhan usaha berjalan seiring dengan pengelolaan risiko keuangan.
Dari sisi perolehan kontrak baru, hampir separuhnya berasal dari segmen manufaktur serta pemeliharaan dan operasional jalan tol. Sementara itu, kontrak lainnya berasal dari pekerjaan jalan dan jembatan, gedung, serta sumber daya air.
Hutama Karya saat ini juga terlibat sebagai kontraktor dalam 27 Proyek Strategis Nasional (PSN) yang tersebar di berbagai sektor.
Keterlibatan dalam proyek strategis tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan penugasan perusahaan untuk mendukung pembangunan infrastruktur. Namun, setiap proyek tetap harus mempertimbangkan aspek kelayakan, risiko, dan kemampuan pembayaran agar tidak mengganggu kesehatan keuangan perusahaan.
Aset dan Ekuitas Tumbuh, Rasio Utang Terjaga
Dari sisi neraca keuangan, hingga September 2026, total aset dan ekuitas Hutama Karya sama-sama mengalami pertumbuhan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut sejalan dengan bertambahnya ruas JTTS yang telah dibangun.
Sementara itu, rasio utang berbunga terhadap modal perusahaan tetap terjaga di kisaran 0,25 kali. Posisi tersebut memberikan ruang bagi perusahaan untuk memenuhi kebutuhan pendanaan pada periode mendatang.
Kondisi keuangan Hutama Karya juga didukung oleh penilaian lembaga pemeringkat. Pefindo, Fitch Ratings, dan Moody's menempatkan perusahaan dalam kategori layak investasi atau investment grade.
Peringkat tersebut menjadi salah satu indikator yang berkaitan dengan kemampuan perusahaan menjaga kondisi keuangannya. Bagi Hutama Karya, pengelolaan aset, ekuitas, dan utang menjadi bagian penting untuk mendukung pelaksanaan pembangunan sekaligus mempertahankan keberlanjutan usaha.
Dampak Kinerja Keuangan bagi Mitra dan Masyarakat
Kesehatan keuangan memiliki arti penting bagi BUMN yang menjalankan penugasan pembangunan infrastruktur. Kondisi keuangan yang terjaga memungkinkan pembayaran kepada mitra usaha, subkontraktor, dan pemasok tetap berjalan lancar.
Kelancaran pembayaran tersebut turut mendukung pergerakan rantai pasok konstruksi dan tenaga kerja di daerah. Dengan demikian, aktivitas pembangunan tidak hanya berkaitan dengan penyelesaian proyek fisik, tetapi juga menggerakkan kegiatan ekonomi para pihak yang terlibat di dalamnya.
Selain itu, arus kas dari ruas jalan tol yang telah beroperasi dapat dimanfaatkan untuk mendukung pembangunan ruas berikutnya. Pendapatan operasional menjadi salah satu sumber yang membantu perusahaan menjalankan pengembangan infrastruktur secara berkelanjutan.
Hal tersebut sejalan dengan agenda 2 Tahun Gerak Nyata yang menekankan pentingnya hasil pembangunan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Bagi Hutama Karya, manfaat itu antara lain berupa jalan tol yang melayani jutaan perjalanan serta perputaran ekonomi yang melibatkan mitra usaha di daerah.
Tiga Koridor JTTS Jadi Prioritas Pembangunan
Menjelang akhir 2026, Hutama Karya memprioritaskan pengendalian beban usaha, penjagaan kualitas aset, pengelolaan arus kas, serta efisiensi energi di lapangan.
Di bidang pembangunan infrastruktur, perusahaan melanjutkan pekerjaan pada tiga koridor Jalan Tol Trans Sumatera. Ketiganya adalah Palembang–Betung, Betung–Jambi, dan Rengat–Pekanbaru, khususnya Seksi Junction Pekanbaru–Bypass Pekanbaru.
Selain melanjutkan pembangunan jalan tol, perusahaan memperkuat kesiapan sumber daya manusia yang bertugas dalam kegiatan operasional dan pemeliharaan. Peningkatan kompetensi SDM tersebut menjadi salah satu langkah untuk mendukung pengelolaan infrastruktur yang telah beroperasi.
Hutama Karya juga mengembangkan digitalisasi layanan jalan tol dan memperkuat pengendalian risiko pada setiap tahapan pelaksanaan proyek. Langkah-langkah tersebut dilakukan untuk menjaga efisiensi kegiatan usaha sekaligus memastikan penugasan pembangunan tetap berjalan.
Koentjoro menegaskan, perusahaan berupaya menjaga keseimbangan antara pelaksanaan tugas negara dan kesehatan keuangan. Dengan pengelolaan keuangan yang disiplin, Hutama Karya menargetkan pertumbuhan usaha tetap berlanjut tanpa mengabaikan tanggung jawab dalam pembangunan infrastruktur strategis.
"Penugasan negara bisa dijalankan dengan tetap menjaga kesehatan keuangan perusahaan," tutup Koentjoro. (*)
















