Hujan Ekstrem Tak Bisa Dicegah, Pakar Ingatkan Risiko Bencana Bisa Dikurangi

Hujan Ekstrem Tak Bisa Dicegah, Pakar Ingatkan Risiko Bencana Bisa Dikurangi

Ilustrasi Hujan Lebat (Foto: Pixabay)

Sumbardaily.com - Musim hujan yang diperkirakan mulai melanda sebagian besar wilayah Indonesia pada November hingga Desember 2026 perlu menjadi momentum untuk memperkuat upaya pencegahan bencana.

Pakar kegempaan dan kebencanaan Dr. Daryono mengingatkan bahwa cuaca ekstrem mungkin terus berulang, tetapi kerentanan masyarakat dan kerugian akibat bencana tidak boleh terus terjadi dari tahun ke tahun.

Dalam pesannya, Daryono menekankan pentingnya mengubah pendekatan penanggulangan bencana, dari yang selama ini berfokus pada penanganan setelah kejadian menjadi upaya pencegahan dan pengurangan risiko sebelum bencana terjadi.

“Cuaca buruk dan ekstrem boleh berulang, tetapi kerentanan tidak boleh terus diwariskan,” tulis Daryono, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), dikutip dari Instagram Daryono, Jumat (23/10/2026).

Menurut Daryono, prakiraan musim hujan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi. Ancaman tersebut perlu diperhatikan meskipun durasi musim hujan di banyak wilayah diperkirakan lebih pendek.

Puncak Musim Hujan Diprediksi Desember 2026 hingga Februari 2027

BMKG memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia mulai memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026. Sementara itu, puncak musim hujan diprakirakan berlangsung pada Desember 2026 hingga Februari 2027.

Akumulasi curah hujan di banyak wilayah diperkirakan berada pada kategori normal. Namun, kondisi tersebut tidak berarti masyarakat dapat mengabaikan potensi cuaca ekstrem.

Hujan lebat hingga ekstrem masih berpotensi terjadi dan dapat memicu berbagai bencana, seperti banjir, banjir bandang, serta tanah longsor. Karena itu, kesiapsiagaan perlu diperkuat agar potensi ancaman tidak berkembang menjadi bencana yang menimbulkan korban jiwa dan kerugian besar.

Daryono menyoroti persoalan banjir dan tanah longsor yang hampir selalu kembali terjadi setiap musim hujan di berbagai wilayah Indonesia. Sejumlah kejadian bahkan berulang di lokasi yang sama, sehingga masyarakat harus kembali menghadapi risiko kehilangan tempat tinggal, terganggunya aktivitas ekonomi, hingga kerugian lainnya.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa pengalaman menghadapi bencana belum sepenuhnya diikuti oleh perubahan kondisi yang mampu melindungi masyarakat dari ancaman serupa.

Kerentanan Wilayah Memperbesar Risiko Bencana

Dalam perspektif pengurangan risiko bencana, Daryono menjelaskan bahwa cuaca ekstrem merupakan ancaman alam. Namun, besarnya dampak yang ditimbulkan tidak hanya ditentukan oleh kondisi cuaca, tetapi juga tingkat keterpaparan, kerentanan, dan kapasitas masyarakat dalam menghadapi ancaman tersebut.

Sejumlah kondisi dapat memperbesar risiko ketika hujan ekstrem terjadi. Di antaranya permukiman yang berada di dataran banjir, kawasan dengan lereng tidak stabil, berkurangnya daerah resapan air, sistem drainase yang buruk, serta keterbatasan jalur evakuasi.

Kondisi-kondisi tersebut perlu menjadi perhatian dalam upaya mengurangi risiko bencana. Sebab, hujan dengan intensitas tinggi dapat menimbulkan dampak lebih besar ketika terjadi di wilayah yang rentan dan belum memiliki perlindungan memadai.

Daryono menilai Indonesia sebenarnya telah memiliki pengalaman panjang dalam merespons berbagai kejadian bencana. Pengalaman tersebut semestinya menjadi modal untuk memperbaiki sistem perlindungan masyarakat sekaligus memperkuat langkah pencegahan.

Tanpa perbaikan yang memadai, persoalan serupa berpotensi terus berulang setiap musim hujan. Masyarakat pun kembali menghadapi ancaman yang sama ketika tingkat kerentanan di wilayah tempat tinggal mereka tidak banyak berubah.

Keberhasilan Penanggulangan Bencana Bukan Sekadar Kecepatan Bantuan

Daryono mengingatkan bahwa keberhasilan penanggulangan bencana tidak seharusnya hanya dinilai dari seberapa cepat bantuan diberikan setelah bencana terjadi. Hal yang tidak kalah penting adalah seberapa banyak korban jiwa dan kerugian yang berhasil dicegah melalui langkah antisipasi.

Menurutnya, masyarakat mungkin tidak dapat mencegah terjadinya hujan ekstrem. Namun, risiko yang ditimbulkan dapat ditekan melalui pengurangan kerentanan dan penguatan kesiapsiagaan.

Karena itu, informasi prakiraan musim hujan perlu menjadi dasar untuk memperkuat perlindungan masyarakat sebelum ancaman berkembang menjadi bencana. Upaya tersebut juga perlu memperhatikan kondisi wilayah yang berpotensi terdampak banjir, banjir bandang, dan tanah longsor.

Pesan Daryono menjelang musim hujan 2026–2027 menegaskan pentingnya perubahan pendekatan dalam pengelolaan risiko bencana. Pengalaman menghadapi bencana seharusnya tidak berhenti pada kemampuan merespons kejadian, tetapi juga mendorong perbaikan agar kejadian serupa tidak terus menimbulkan dampak yang sama.

Dengan demikian, tantangan menghadapi musim hujan bukan hanya bersiap ketika hujan ekstrem datang. Lebih dari itu, diperlukan upaya berkelanjutan untuk mengurangi kerentanan, memperkuat kapasitas masyarakat, dan mencegah agar bencana tidak terus mewariskan korban serta kerugian setiap tahun. (*)

Baca Juga

Mengapa Karhutla Sulit Padam? Pakar Ungkap Peran Cuaca, Manusia, dan Gambut
Mengapa Karhutla Sulit Padam? Pakar Ungkap Peran Cuaca, Manusia, dan Gambut
Waspada Cuaca Ekstrem di Agam, Kematian Ikan Massal di Danau Maninjau Jadi Ancaman
Waspada Cuaca Ekstrem di Agam, Kematian Ikan Massal di Danau Maninjau Jadi Ancaman
Mengapa Flores Masih Diguncang Gempa Susulan Signifikan? Daryono Ungkap Proses di Kerak Bumi
Mengapa Flores Masih Diguncang Gempa Susulan Signifikan? Daryono Ungkap Proses di Kerak Bumi
Asap Karhutla Kalimantan Bisa Sampai Jakarta, Begini Penjelasan Ilmiahnya
Asap Karhutla Kalimantan Bisa Sampai Jakarta, Begini Penjelasan Ilmiahnya
Petugas PLN UID Sumatera Barat memperbaiki jaringan listrik terdampak banjir di Kota Padang.
Banjir Bandang Padang Rusak Jaringan Listrik, PLN Pulihkan Pasokan dan Bantu Warga
Banjir Padang 10 Oktober 2026 Jadi Peringatan, Daryono Minta Evaluasi DAS
Banjir Padang 10 Oktober 2026 Jadi Peringatan, Daryono Minta Evaluasi DAS