Sumbardaily.com - Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), masih diguncang gempa susulan setelah gempa utama bermagnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026. Gempa terbaru bermagnitudo 5,1 mengguncang wilayah Manggarai Barat pada Minggu (18/10/2026).
Pakar geofisika Daryono menjelaskan, aktivitas tersebut berkaitan dengan proses penyesuaian tegangan di kerak bumi setelah gempa besar.
Dalam unggahan Instagram yang dikutip pada Senin (19/10/2026), Daryono menjelaskan bahwa gempa susulan dapat berlangsung selama berminggu-minggu, bahkan lebih lama, setelah gempa utama terjadi.
"Secara seismologis, gempa susulan yg masih terjadi di Flores setelah gempa utama M7,7 pada 15 Agus 2026 dapat dijelaskan sbg bagian dari proses penyesuaian kembali tegangan kerak bumi (crustal stress readjustment) akibat perubahan tegangan yg ditimbulkan gempa utama," tulis Daryono dalam unggahannya.
Daryono merupakan pakar geofisika dan mitigasi bencana yang pernah menjabat sebagai Kepala Pusat atau Direktur Gempa Bumi dan Tsunami di Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Ia juga aktif memberikan edukasi kebencanaan melalui media sosial dan media massa, terutama mengenai gempa bumi, megathrust, serta potensi tsunami.
Gempa terbaru di Manggarai Barat terjadi pada Minggu (18/10/2026) pukul 15.00.08 WIB. Berdasarkan informasi BMKG yang dicantumkan dalam unggahan tersebut, pusat gempa berada di laut, sekitar 53 kilometer barat laut Ruteng, dengan kedalaman 10 kilometer.
Gempa tektonik itu dipicu aktivitas Sesar Flores Back-arc Thrust dengan mekanisme sesar naik atau thrust fault. Guncangan mencapai intensitas IV MMI dan dirasakan di Macang Pacar, Reok Barat, serta Reok. BMKG menyatakan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.
Mengapa gempa susulan Flores masih terjadi?
Daryono memaparkan sejumlah penjelasan ilmiah untuk menerangkan mengapa Flores masih mengalami gempa susulan signifikan setelah gempa utama bermagnitudo 7,7.
Pertama, gempa besar menyebabkan perubahan tegangan kerak bumi dalam wilayah yang luas. Gempa melepaskan energi elastik yang telah terakumulasi selama waktu lama. Namun, pelepasan energi itu tidak berarti seluruh tegangan di sekitar sumber gempa langsung menghilang.
Dalam unggahannya, Daryono menjelaskan:
"Gempa besar melepaskan energi elastik yg terakumulasi dlm waktu lama. Namun, pelepasan energi tersebut tidak berarti seluruh tegangan di sekitar sumber gempa langsung hilang."
Perubahan tegangan tersebut justru dapat memicu aktivitas gempa susulan pada bidang sesar utama maupun struktur sesar di sekitarnya. Dengan demikian, gempa susulan menjadi bagian dari proses penyesuaian kondisi kerak bumi setelah gempa besar.
Kedua, proses penyesuaian tegangan membutuhkan waktu. Batuan di sekitar zona patahan masih mengalami penyesuaian mekanis setelah gempa utama. Karena itu, aktivitas gempa susulan tidak harus berhenti dalam hitungan hari.
Daryono menyebut frekuensi gempa susulan umumnya menurun seiring waktu berdasarkan Hukum Omori-Utsu. Namun, pola penurunan tersebut tidak selalu berlangsung secara teratur.
Ketiga, gempa susulan tetap dapat memiliki magnitudo signifikan. Gempa utama bermagnitudo 7,7 masih memungkinkan adanya bagian zona sesar yang mengalami konsentrasi tegangan. Kondisi itu dapat memicu gempa susulan dengan kekuatan yang cukup besar.
Gempa susulan bisa melibatkan sesar lain
Selain terjadi pada bidang patahan utama, aktivitas gempa setelah gempa besar juga dapat melibatkan struktur sesar lain di sekitarnya. Fenomena ini dikenal sebagai off-fault seismicity.
Perubahan tegangan akibat gempa utama dapat memengaruhi struktur sesar di luar bidang patahan utama. Hal tersebut menjadi salah satu penjelasan mengapa lokasi gempa susulan tidak selalu terkonsentrasi pada satu bidang patahan.
Meski demikian, keterlibatan sesar lain tidak dapat dipastikan tanpa analisis lebih lanjut. Diperlukan pemeriksaan lokasi hiposenter, mekanisme sumber gempa, serta perubahan tegangan Coulomb untuk mengetahui hubungan antara gempa terbaru dan gempa utama.
Analisis tersebut juga diperlukan untuk memastikan apakah gempa yang terjadi masih termasuk rangkaian gempa susulan atau merupakan aktivitas dari sesar lain.
Daryono turut mengingatkan bahwa berkurangnya frekuensi gempa tidak berarti gempa susulan signifikan tidak mungkin terjadi lagi.
"Meskipun aktivitas telah memasuki fase peluruhan, kemungkinan gempa susulan yg masih terasa kuat tetap perlu diwaspadai," tulisnya.
Penjelasan itu menunjukkan bahwa fase peluruhan aktivitas gempa tidak serta-merta meniadakan kemungkinan munculnya guncangan yang cukup kuat. Oleh karena itu, setiap gempa signifikan tetap perlu dianalisis berdasarkan karakteristik sumbernya.
Gempa susulan bukan otomatis tanda gempa lebih besar
Daryono menegaskan bahwa rangkaian gempa susulan yang masih berlangsung di Flores tidak otomatis menandakan akan terjadi gempa yang lebih besar.
"Gempa susulan Flores yg masih berlangsung tidak otomatis menandakan akan terjadi gempa yg lebih besar," tulis Daryono dalam unggahannya.
Ia menjelaskan, fenomena tersebut secara umum konsisten dengan proses redistribusi tegangan setelah gempa utama bermagnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026.
Namun, penilaian terhadap setiap gempa signifikan tetap membutuhkan analisis mekanisme sumber dan posisi hiposenter. Hal ini penting untuk menentukan apakah suatu gempa berkaitan dengan rangkaian gempa susulan atau aktivitas sesar lain di sekitar wilayah tersebut.
Dengan demikian, gempa bermagnitudo 5,1 yang mengguncang Manggarai Barat pada Minggu (18/10/2026) perlu dipahami berdasarkan informasi dan analisis seismologis. Kemunculan gempa susulan setelah gempa besar merupakan fenomena yang dapat berlangsung dalam waktu cukup lama dan tidak dengan sendirinya menjadi petunjuk bahwa gempa yang lebih besar akan terjadi. (*)
















