Daryono Tegaskan Gempa Bukan Ukuran Dosa, Korban Bencana Tak Boleh Dihakimi

Daryono Tegaskan Gempa Bukan Ukuran Dosa, Korban Bencana Tak Boleh Dihakimi

Rambu jalur evakuasi gempa dan tsunami (Foto: BPBD Padang)

Sumbardaily.com - Mantan Direktur Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Daryono, mengingatkan masyarakat agar tidak mengaitkan bencana gempa bumi dengan banyaknya dosa korban.

Menurutnya, gempa merupakan fenomena alam yang terjadi akibat proses tektonik, bukan ukuran kesalahan moral seseorang atau kelompok masyarakat.

Pernyataan tersebut disampaikan Daryono melalui unggahan di akun Instagram pribadinya yang dikutip pada Senin (12/10/2026). Ia menekankan pentingnya membedakan keyakinan agama tentang kekuasaan Tuhan dengan penjelasan ilmiah mengenai mekanisme terjadinya gempa bumi.

Daryono mengatakan masyarakat yang mengalami bencana tidak serta-merta dapat dianggap sebagai kelompok yang lebih banyak melakukan dosa. Bencana juga tidak membedakan orang berdasarkan tingkat kesalehan maupun keyakinan yang dianut.

"Masyarakat yang dilanda bencana gempa bumi bukan berarti masyarakat yang banyak dosa. Gempa bumi terjadi karena proses alam dan aktivitas tektonik, bukan karena ukuran dosa atau kesalahan moral manusia. Bencana tidak memilih siapa yang berdosa dan siapa yang saleh," tulis Daryono.

Ia menjelaskan bahwa pemahaman mengenai gempa dari perspektif agama dan sains tidak harus dipertentangkan. Dalam sudut pandang keimanan, bencana dapat menjadi bahan introspeksi, ujian, atau peringatan. Sementara itu, ilmu pengetahuan menjelaskan gempa melalui mekanisme alam yang dapat dipelajari secara ilmiah.

Daryono menegaskan bahwa menjelaskan penyebab gempa berdasarkan ilmu seismologi bukan berarti mengabaikan Tuhan. Menurutnya, keyakinan terhadap Sang Pencipta dapat berjalan beriringan dengan upaya manusia memahami hukum alam.

Ia juga menyatakan tidak pernah berpendapat bahwa bencana berada di luar kehendak Tuhan. Namun, menurutnya, keyakinan tersebut perlu dibedakan dari upaya memahami proses fisik yang menyebabkan gempa bumi.

"Menjelaskan gempa melalui ilmu seismologi bukan berarti mengingkari Tuhan, apalagi mengajak manusia menjadi ateis," tulisnya.

Ingatkan Bahaya Menghakimi Korban Gempa

Daryono turut mengingatkan masyarakat agar tidak mudah menyimpulkan bahwa wilayah yang dilanda gempa sedang menerima azab atau bahwa para korbannya merupakan orang-orang yang berdosa.

Menurutnya, manusia tidak memiliki kewenangan untuk memastikan maksud Tuhan di balik setiap peristiwa bencana. Karena itu, penilaian semacam itu sebaiknya tidak dijadikan dasar untuk menghakimi masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan.

Ia menilai agama mengajarkan manusia untuk mengambil hikmah sekaligus menjalankan tanggung jawab moral. Di sisi lain, sains memberikan pengetahuan mengenai bahaya bencana sehingga manusia dapat meningkatkan kesiapsiagaan dan melindungi kehidupan.

Bagi Daryono, mempelajari hukum alam juga dapat menjadi cara untuk mengagumi kebesaran Sang Pencipta. Pemahaman ilmiah mengenai gempa tidak harus mengurangi keyakinan seseorang terhadap Tuhan.

Daryono pun mengingatkan agar perbedaan pandangan dalam memahami bencana tidak membuat masyarakat kehilangan fokus pada kebutuhan utama para korban. Penanganan bencana, menurut pesannya, seharusnya mengutamakan upaya penyelamatan dan kepedulian terhadap orang-orang yang terdampak.

"Jangan sampai perbedaan cara memahami bencana membuat kita lebih sibuk menghakimi korban daripada menyelamatkan mereka," tulis Daryono.

Ia kembali menegaskan bahwa ilmu pengetahuan tidak dimaksudkan untuk menggantikan keyakinan kepada Tuhan. Sains berperan mempelajari hukum alam, termasuk proses yang menyebabkan terjadinya gempa bumi.

"Sains tidak sedang menggantikan Tuhan. Sains sedang mempelajari hukum-hukum alam ciptaan-Nya. Memahami penyebab gempa bukan berarti mengingkari Sang Pencipta, dan mengimani Tuhan bukan berarti kita boleh mengabaikan ilmu pengetahuan," tulisnya.

Daryono dikenal sebagai peneliti senior dan edukator publik di bidang kegempaan. Ia pernah menjabat sebagai Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG serta aktif menyampaikan edukasi mengenai fenomena gempa kepada masyarakat. (*)

Baca Juga

Banjir Padang 10 Oktober 2026 Jadi Peringatan, Daryono Minta Evaluasi DAS
Banjir Padang 10 Oktober 2026 Jadi Peringatan, Daryono Minta Evaluasi DAS
Bukan Seluruh Sumbar, Ini Daerah yang Diprediksi Tetap Dapat Hujan Normal pada Oktober 2026
Bukan Seluruh Sumbar, Ini Daerah yang Diprediksi Tetap Dapat Hujan Normal pada Oktober 2026
BMKG Prediksi Cuaca Indonesia Pertengahan Oktober 2026, Mayoritas Wilayah Berpotensi Hujan di Bawah Normal
BMKG Prediksi Cuaca Indonesia Pertengahan Oktober 2026, Mayoritas Wilayah Berpotensi Hujan di Bawah Normal
Gempa Sumba M5,9 dan Aceh M5,7 Terjadi Berdekatan, Apakah Saling Terkait?
Gempa Sumba M5,9 dan Aceh M5,7 Terjadi Berdekatan, Apakah Saling Terkait?
Cuaca Sumbar Awal Oktober 2026, 4 Daerah Diprediksi Hujan Bawah Normal
Cuaca Sumbar Awal Oktober 2026, 4 Daerah Diprediksi Hujan Bawah Normal
Cuaca Awal Oktober 2026, BMKG Prediksi Mayoritas Wilayah Indonesia Hujan di Bawah Normal
Cuaca Awal Oktober 2026, BMKG Prediksi Mayoritas Wilayah Indonesia Hujan di Bawah Normal