Gempa Sumba M5,9 dan Aceh M5,7 Terjadi Berdekatan, Apakah Saling Terkait?

Gempa Sumba M5,9 dan Aceh M5,7 Terjadi Berdekatan, Apakah Saling Terkait?

Ilustrasi Gempa Bumi (Foto: Freepik)

Sumbardaily.com - Dua gempa bumi cukup kuat mengguncang wilayah Indonesia dalam waktu berdekatan pada Minggu (4/10/2026). Gempa pertama terjadi di Sumba Barat Daya dengan magnitudo 5,9, kemudian disusul gempa Aceh Jaya bermagnitudo 5,7 sekitar 41 menit kemudian.

Fenomena tersebut sekilas dapat menimbulkan pertanyaan apakah kedua gempa saling berhubungan. Namun, kedekatan waktu kejadian tidak serta-merta menunjukkan adanya hubungan tektonik di antara keduanya.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan gempa bumi hingga kini belum dapat diprediksi secara deterministik, termasuk menentukan secara tepat kapan sebuah gempa akan terjadi.

"Gempa tidak dapat dicegah maupun diprediksi secara tepat waktu kejadiannya," kata Daryono, dikutip resmi Senin (5/10/2026).

Menurut dia, proses persiapan terjadinya gempa berlangsung jauh di dalam kerak bumi dan melibatkan sistem sesar yang kompleks. Kondisi yang menyebabkan batuan akhirnya mengalami kegagalan atau patahan juga tidak dapat diamati secara langsung dan menyeluruh pada kedalaman sumber gempa.

Tegangan tektonik dapat terkumpul dalam waktu yang sangat panjang, mulai puluhan hingga ratusan tahun. Namun, sejumlah faktor yang menentukan kapan batuan akan patah sulit diukur secara lengkap.

Faktor tersebut antara lain distribusi tegangan, tekanan fluida, gesekan, heterogenitas batuan, hingga interaksi antarsesmen sesar.

Karena keterbatasan tersebut, ilmu seismologi saat ini dapat mengidentifikasi sejumlah kondisi yang berkaitan dengan potensi gempa. Di antaranya sesar aktif, laju deformasi, seismic gap, serta potensi magnitudo.

Akan tetapi, informasi tersebut belum dapat digunakan untuk menentukan secara tepat tanggal, waktu, lokasi, dan magnitudo gempa berikutnya.

Dua Gempa Terjadi Kurang dari 42 Menit

Kondisi itu terlihat dari dua gempa yang terjadi pada Minggu pagi. Gempa Sumba Barat Daya dengan magnitudo 5,9 tercatat pada pukul 05.55.52 WIB.

Selanjutnya, 41 menit 41 detik kemudian, gempa bermagnitudo 5,7 mengguncang Aceh Jaya. Gempa kedua terjadi pada pukul 06.37.33 WIB.

Meski selisih waktunya kurang dari 42 menit, kedua kejadian tersebut tidak menunjukkan hubungan sebab-akibat. Sumber kedua gempa berada ribuan kilometer satu sama lain dan memiliki mekanisme tektonik yang berbeda.

Gempa Sumba terjadi pada kedalaman 30 kilometer dengan mekanisme sesar turun atau normal fault. Mekanisme tersebut berkaitan dengan proses peregangan kerak bumi.

Sementara itu, gempa Aceh Jaya berada pada kedalaman 55 kilometer dan memiliki mekanisme sesar naik atau thrust fault. Mekanisme tersebut berkaitan dengan proses kompresi pada sistem subduksi megathrust Sumatra.

Perbedaan mekanisme tersebut menjadi salah satu alasan kedua gempa tidak dapat langsung dianggap saling berkaitan hanya karena terjadi dalam rentang waktu yang berdekatan.

Gempa Lebih Dangkal Bisa Bikin Guncangan Lebih Kuat

Hal menarik lainnya terlihat dari intensitas guncangan yang dirasakan di permukaan. Gempa Sumba yang sumbernya lebih dangkal justru menghasilkan guncangan hingga VI MMI atau berpotensi menimbulkan kerusakan.

Sementara itu, gempa Aceh yang lebih dalam mencapai IV MMI, yang tergolong sebagai guncangan kuat.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa magnitudo bukan satu-satunya faktor yang menentukan seberapa kuat guncangan dirasakan masyarakat di permukaan.

Kedalaman sumber gempa, jarak dari pusat gempa, karakter batuan yang dilalui gelombang, serta kondisi tanah setempat turut memengaruhi tingkat guncangan.

Dengan demikian, dua gempa yang terjadi hampir bersamaan belum tentu memiliki keterkaitan tektonik. Peristiwa di Sumba Barat Daya dan Aceh Jaya justru memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki banyak sumber gempa yang dapat mengakumulasi sekaligus melepaskan energi secara independen.

Daryono juga menjelaskan sejumlah fenomena yang selama ini kerap disebut sebagai tanda awal gempa belum dapat digunakan sebagai indikator yang konsisten.

Fenomena tersebut antara lain gempa kecil, perubahan muka air tanah, emisi gas, anomali elektromagnetik, hingga perubahan perilaku hewan. Berbagai fenomena itu belum terbukti sebagai prekursor gempa yang konsisten, unik, dan dapat direproduksi sebelum gempa besar.

Bahkan, gempa besar dapat terjadi tanpa adanya prekursor yang berhasil terdeteksi. Sebaliknya, anomali serupa juga dapat muncul tanpa kemudian diikuti gempa besar.

Karena itu, pendekatan yang digunakan dalam ilmu kebumian saat ini bukan berupaya meramalkan kapan gempa akan terjadi. Pendekatan tersebut mencakup probabilistic seismic hazard assessment, pemantauan aktivitas kegempaan dan deformasi, serta earthquake early warning.

Sistem peringatan dini gempa atau earthquake early warning pun bekerja setelah gempa mulai terjadi. Sistem tersebut bukan metode untuk meramalkan gempa sebelum sumber gempa mengalami pelepasan energi.

Fenomena dua gempa yang terjadi dalam waktu kurang dari 42 menit di Sumba Barat Daya dan Aceh Jaya dengan demikian tidak dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan bahwa keduanya saling memicu. Kedekatan waktunya lebih menunjukkan bahwa sejumlah sistem sumber gempa di Indonesia dapat bekerja secara independen dalam waktu yang kebetulan berdekatan. (*)

Baca Juga

Sumbar Dorong Kesiapsiagaan Gempa-Tsunami Jadi Budaya, Bukan Sekadar Seremoni
Sumbar Dorong Kesiapsiagaan Gempa-Tsunami Jadi Budaya, Bukan Sekadar Seremoni
Usai Gladi Gempa-Tsunami di Pariaman, Sumbar Didorong Benahi 6 Titik Kesiapan
Usai Gladi Gempa-Tsunami di Pariaman, Sumbar Didorong Benahi 6 Titik Kesiapan
Viral Cucu Krakatau, Peneliti Ungkap Fakta Daratan Baru di Selat Sunda
Viral Cucu Krakatau, Peneliti Ungkap Fakta Daratan Baru di Selat Sunda
Galodo Solok Terjadi Saat Bulan Kering, Ini Penjelasan Peneliti soal Hujan Ekstrem
Galodo Solok Terjadi Saat Bulan Kering, Ini Penjelasan Peneliti soal Hujan Ekstrem
Peneliti Ungkap Faktor yang Membentuk Galodo Solok, Tutupan Lahan Perlu Dikaji
Peneliti Ungkap Faktor yang Membentuk Galodo Solok, Tutupan Lahan Perlu Dikaji
Gempa bumi M6,5 mengguncang laut timur laut Kepulauan Seribu dan dirasakan di sejumlah wilayah Indonesia.
Kepulauan Seribu Jakarta Diguncang Gempa, Getarannya Dirasakan di Padang dan Sejumlah Daerah