Sumbardaily.com - Peneliti dan edukator mitigasi bencana Dr. Daryono menjelaskan rangkaian proses yang dapat membentuk galodo di Solok, Sumatera Barat. Menurutnya, hujan lebat menjadi pemicu meteorologis, sementara kondisi lereng, tanah, material longsoran, hingga karakter daerah aliran sungai (DAS) turut menentukan besarnya galodo.
Penjelasan tersebut disampaikan Daryono dalam keterangannya di Instagram, dikutip Kamis (24/9/2026). Ia merupakan peneliti, akademisi, dan edukator mitigasi bencana yang aktif sebagai anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI).
Dalam keterangannya, Daryono menguraikan proses galodo melalui sejumlah tahapan yang saling berkaitan. Rangkaian itu dimulai dari hujan, kondisi lereng, kejenuhan tanah, longsoran, material yang berada di alur sungai, tutupan lahan, hingga konsentrasi limpasan.
Menurut Daryono, curah hujan menjadi bagian awal dari rangkaian tersebut. Hujan lebat dengan akumulasi sekitar 94 mm per hari di Solok membuat suplai air ke DAS meningkat dengan cepat.
Hujan yang berlangsung selama beberapa jam juga membuat infiltrasi dan limpasan permukaan meningkat. Ketika kemampuan tanah dalam menyerap air sudah terlampaui, air kemudian lebih cepat terkonsentrasi menuju alur sungai.
Kondisi topografi turut menjadi faktor penting. Daerah hulu Solok memiliki karakter perbukitan hingga pegunungan dengan lereng yang relatif curam. Kemiringan tersebut membuat aliran permukaan bergerak lebih cepat sekaligus memberikan energi gravitasi yang besar.
Dengan kondisi itu, air memiliki kemampuan untuk mengerosi dan membawa tanah, batu, serta kayu menuju sungai.
Daryono juga menjelaskan kondisi tanah ketika hujan berlangsung terus-menerus. Air hujan mengisi pori-pori tanah hingga mendekati kondisi jenuh. Tekanan air pori kemudian meningkat dan membuat kekuatan geser tanah menurun.
Akibatnya, lereng menjadi lebih mudah mengalami longsor. Material hasil longsoran berupa tanah, batu, pohon, dan material lainnya dapat masuk ke alur sungai.
Kondisi tersebut menjadi pembeda antara galodo dan banjir yang hanya membawa air. Galodo dapat berubah menjadi aliran yang terdiri atas campuran air dan material padat sehingga memiliki daya rusak yang jauh lebih besar.
Selain longsoran, material yang sebelumnya sudah berada di alur sungai juga dapat ikut bergerak. Endapan pasir, kerikil, bongkah, kayu, atau material longsoran yang terdapat di dasar maupun tebing sungai bisa kembali termobilisasi ketika debit air meningkat secara mendadak.
Material tersebut kemudian menambah volume sekaligus energi aliran galodo.
Daryono turut menyinggung kondisi tutupan lahan. Vegetasi berpengaruh terhadap kemampuan DAS dalam menahan air hujan. Berkurangnya vegetasi atau terganggunya permukaan tanah dapat menurunkan intersepsi dan infiltrasi serta meningkatkan erosi dan limpasan.
Namun, ia mengingatkan agar kondisi tutupan lahan tidak langsung disebut sebagai penyebab bencana di Solok tanpa dukungan data.
"Namun, kontribusi perubahan tutupan lahan pada kejadian Solok harus dibuktikan dengan data penggunaan lahan, sehingga jangan langsung disebut sebagai penyebab tanpa analisis," demikian penjelasan Daryono.
Tahap berikutnya adalah konsentrasi limpasan. Air yang berasal dari banyak lereng dan anak sungai pada akhirnya berkumpul di lembah serta alur sungai utama.
Pada DAS yang curam, waktu konsentrasi air menjadi lebih pendek sehingga debit dapat meningkat dengan sangat cepat. Jika kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan masuknya material longsoran dan sedimen, terbentuk aliran deras yang membawa lumpur, batu, dan kayu.
Daryono menyimpulkan bahwa hujan lebat merupakan pemicu meteorologis dalam rangkaian terbentuknya galodo. Sementara itu, tingkat kemiringan lereng, kejenuhan tanah, longsoran, ketersediaan material lepas, serta karakter DAS yang cepat mengonsentrasikan limpasan ikut menentukan seberapa besar galodo yang terbentuk.
Khusus untuk Solok, Daryono menegaskan masih diperlukan verifikasi lebih lanjut untuk mengetahui faktor tutupan lahan dan besarnya kontribusi masing-masing proses.
"Untuk Solok, faktor tutupan lahan dan besarnya kontribusi masing-masing proses masih perlu diverifikasi dengan survei DAS dan data lapangan," jelasnya. (*)
















