Sumbardaily.com, Padang - Krisis air bersih menjadi persoalan baru yang menghantui warga Kota Padang setelah banjir bandang melanda berbagai kawasan pada akhir pekan lalu.
Di tengah upaya pemulihan, aliran air PDAM yang terhenti selama beberapa hari membuat masyarakat harus mencari cara alternatif agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi.
Kondisi ini sangat terasa di kawasan Jati, Kecamatan Padang Timur salah satu wilayah terdampak yang bergantung penuh pada suplai air bersih untuk keperluan mandiri hingga kebutuhan rumah tangga.
Warga Jati, Jon Apendi, menilai situasi pascabanjir kali ini menghadirkan kembali pengalaman traumatis bencana besar pada 2009.
Saat itu, ia mengingat bagaimana listrik dan air terputus total selama beberapa hari hingga menyulitkan warga dalam memenuhi kebutuhan paling mendasar.
“Rasanya seperti kembali ke tahun 2009. Listrik mati, air mati, dan kita benar-benar tidak berdaya,” katanya saat ditemui awak media, Rabu (3/12/2025) siang.
Dalam beberapa hari terakhir, katanya, aliran air PDAM kembali tidak mengalir. Menurut Jon, kondisi tersebut bukan disebabkan oleh kelalaian penyedia layanan, melainkan akibat langsung dari banjir bandang yang merusak jaringan dan instalasi air di berbagai titik.
Kerusakan itu membuat suplai air tersendat dan tidak ada setetes pun yang sampai ke rumah warga.
“Kita tidak menyalahkan PDAM. Ini murni bencana. Infrastruktur mereka pasti ikut terdampak,” katanya.
Situasi sulit ini memaksa warga mencari sumber air alternatif. Di beberapa titik, masyarakat terpaksa menimba air dari bandar yang terletak jauh di bawah permukiman.
Medan yang curam dan licin menyulitkan warga membawa air ke atas. Air yang diambil pun tidak dalam kondisi ideal; warnanya keruh, namun tetap digunakan untuk mandi, mencuci, hingga kebutuhan dapur karena tidak ada pilihan lain.
Jon mengisahkan bagaimana ia melihat sejumlah warga turun naik demi menampung air dalam jumlah kecil.
“Ambil dua ember saja sudah melelahkan. Jaraknya jauh dan butuh tenaga besar untuk naik kembali,” katanya.
Melihat kondisi tersebut, Jon berinisiatif mencari solusi darurat. Ia menyampaikan bahwa dirinya memiliki mesin sedot air beserta selang panjang yang mungkin bisa dimanfaatkan untuk membantu warga sekitar mendapatkan akses air bersih sementara.
Di lapangan, ia juga menemukan salah seorang warga yang tengah mencoba mengoperasikan alat serupa. Ternyata warga tersebut merupakan mantan teknisi PDAM yang memahami persoalan teknis terkait pipa, debit air, dan metode penyedotan.
Jon kemudian mengajukan gagasan untuk membuat sistem penyedotan sederhana, yakni menggali sumur kecil, memasang pipa, dan menggunakan mesin sedot untuk mendorong air ke permukaan.
Menurutnya, meski tidak akan menghasilkan air sebaik instalasi PDAM, setidaknya langkah tersebut mampu menjadi solusi jangka pendek bagi masyarakat yang mulai kewalahan.
“Tidak sempurna memang, tapi cukup untuk membantu warga yang sangat membutuhkan air,” katanya.
Ia berharap inisiatif seperti ini dapat menjadi penyambung kebutuhan masyarakat sambil menunggu pemulihan infrastruktur air bersih.
Lebih jauh, ia mendorong agar warga yang memiliki peralatan atau kemampuan teknis untuk bergotong royong, mengingat situasi darurat seperti ini tidak bisa hanya mengandalkan bantuan pihak luar.
“Kita tidak bisa hanya menunggu. Dalam keadaan seperti ini, solidaritas dan kreativitas warga adalah kunci,” ujarnya.
Banjir bandang yang merusak jaringan PDAM menegaskan bahwa krisis air bersih kerap menjadi masalah lanjutan yang muncul setelah bencana.
Ketika akses air terputus, masyarakat harus mencari alternatif yang aman dan layak. Namun di banyak wilayah, sumber air sementara tidak selalu terjangkau, sehingga warga terpaksa menggunakan cara-cara tradisional meski kualitas airnya belum memadai.
Kondisi ini menyoroti pentingnya mitigasi air bersih dalam penanganan bencana. Ketersediaan sumber air cadangan, mobilisasi tangki air, serta kesiapan alat penyedot dapat menjadi langkah penting untuk mengurangi dampak krisis.
Sementara itu, upaya komunitas seperti yang dilakukan warga Jati menunjukkan bahwa solusi berbasis gotong royong tetap relevan, terutama ketika bantuan belum tiba.
Hingga kini, warga masih menunggu perbaikan dari PDAM setempat agar aliran air kembali berfungsi normal. Sementara itu, upaya darurat yang dilakukan warga menjadi harapan sementara di tengah keterbatasan.
"Kami berharap agar proses perbaikan berjalan cepat sehingga kebutuhan dasar dapat kembali terpenuhi dan aktivitas warga pulih seperti sedia kala," tutur Jon. (adl)
















