Festival Literasi Daerah 2026 Sumbar, Generasi Muda Diminta tak jadi Konsumen Informasi

Festival Literasi Daerah 2026 Sumbar, Generasi Muda Diminta tak jadi Konsumen Informasi

Ilustrasi membaca buku (Foto: iStockphoto)

Sumbardaily.com - Kemampuan membaca ternyata tidak cukup untuk menghadapi derasnya arus informasi di era digital. Literasi juga dituntut mampu mengubah informasi menjadi pemahaman, karya, hingga tindakan nyata untuk menjaga alam dan mempertahankan identitas budaya. Pesan itulah yang mengemuka dalam Festival Literasi Daerah 2026 Sumbar.

Festival Literasi Daerah Tingkat Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) Tahun 2026 resmi dibuka Gubernur Sumbar, Mahyeldi, Selasa (8/9/2026) siang.

Kegiatan yang digelar Dinas Perpustakaan dan Kearsipan dan (Dispusip) Sumbar tersebut mengangkat tema “Peranan Literasi dalam Menjaga Alam dan Melestarikan Budaya”.

Tema tersebut menempatkan literasi tidak hanya sebagai gerakan meningkatkan minat baca. Lebih jauh, literasi diarahkan menjadi kemampuan masyarakat, terutama generasi muda, untuk memahami informasi, membaca kondisi lingkungan, mengenali kekayaan budaya, kemudian menerjemahkannya dalam tindakan.

Gubernur Mahyeldi menegaskan bahwa literasi memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar membaca dan menulis.

Menurutnya, seseorang yang memiliki kemampuan literasi harus mampu memahami, mengolah, menganalisis serta menggunakan informasi secara tepat.

“Literasi itu bukan hanya membaca, tetapi mampu memahami. Untuk memahami sesuatu, perlu penghayatan terhadap apa yang dibaca, kemudian mengolah dan menggunakan informasi yang didapatkan,” katanya.

Mahyeldi kemudian mengaitkan konsep tersebut dengan tradisi masyarakat Minangkabau yang sejak dahulu telah memiliki budaya literasi, baik melalui pengetahuan tertulis maupun lisan.

Falsafah “Alam takambang jadi guru” menjadi salah satu gambaran bagaimana masyarakat Minangkabau memandang alam sebagai sumber pembelajaran.

Begitu pula ungkapan “Takilek ikan dalam tabek, lah tahu jantan batino-nyo” yang menggambarkan kemampuan membaca tanda, memahami keadaan sekitar, serta mengambil pelajaran dari berbagai fenomena kehidupan.

Menurut Mahyeldi, tradisi tersebut menunjukkan bahwa budaya Minangkabau memiliki cara tersendiri dalam memperoleh dan mengolah pengetahuan.

“Budaya Minangkabau mensinergikan dua sumber informasi. Pertama, ayat-ayat qauliyah, yaitu Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Kemudian ayat-ayat kauniyah, yaitu alam yang terbentang luas. Kita diajak memahami dan menginternalisasi keduanya dalam kehidupan,” ucap Gubernur.

Karena itu, Gubernur menilai kekayaan alam dan budaya yang dimiliki Sumbar tidak semestinya hanya dipandang sebagai sesuatu yang dapat dinikmati generasi sekarang.

Kekayaan tersebut merupakan warisan yang harus dipelihara agar tetap dapat dirasakan dan dimanfaatkan oleh generasi berikutnya.

“Kita bukan hanya bertanya apa yang kita miliki, tetapi apa yang kita lakukan agar semua kekayaan itu tetap hidup dan memberikan manfaat bagi generasi berikutnya,” katanya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi tantangan bagi generasi muda di tengah perkembangan teknologi informasi. Mahyeldi mendorong anak muda Sumbar tidak berhenti sebagai konsumen informasi di ruang digital.

Generasi muda diharapkan mampu menghasilkan karya yang mengangkat identitas Minangkabau dan Sumbar.

Nilai-nilai budaya seperti Tau Jo Nan Ampek, Sumbang Duo Baleh, serta falsafah adat dan agama juga dinilai perlu dipahami dan diterapkan dalam kehidupan, termasuk saat berinteraksi di ruang digital.

Di sisi lain, Bunda Literasi Sumbar, Harneli Bahar menilai budaya literasi perlu dibangun secara konsisten hingga menjadi kebiasaan sekaligus kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, kemampuan literasi digital menjadi semakin penting karena anak-anak menghadapi arus informasi yang semakin besar.

Mereka tidak hanya perlu bisa mengakses informasi, tetapi juga harus mampu memilah, menganalisis, dan memanfaatkannya secara kritis serta bertanggung jawab.

“Digitalisasi jangan menjadi penghambat kemajuan. Diharapkan digital justru menambah semangat anak-anak untuk berilmu pengetahuan dan mengembangkan kemampuan literasinya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dispusip Sumbar, Jumaidi mengatakan, Festival Literasi Daerah menjadi salah satu strategi memperkuat ekosistem literasi di Sumbar.

Penguatan tersebut dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari edukasi, kompetisi, apresiasi, kreativitas, kolaborasi hingga pemberdayaan masyarakat.

Jumaidi juga memaparkan capaian kunjungan masyarakat ke perpustakaan di Sumbar. Berdasarkan data GoodStats dan BPS tahun 2025, Sumbar tercatat sebagai provinsi dengan tingkat kunjungan masyarakat ke perpustakaan tertinggi di Indonesia, yakni mencapai 17,75 persen.

Tidak hanya itu, jumlah kunjungan fisik ke perpustakaan daerah juga mengalami peningkatan. Pada 2024 tercatat sebanyak 60.693 kunjungan, kemudian naik menjadi sekitar 67 ribu kunjungan pada tahun 2025.

Festival Literasi Sumbar 2026 berlangsung selama tiga hari. Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, komunitas, dunia usaha, media hingga masyarakat.

Beragam agenda disiapkan dalam festival tersebut. Di antaranya bimbingan teknis literasi informasi dan kepenulisan berbasis budaya lokal, berbagai perlombaan literasi, pameran dan gelar karya, peluncuran buku, gelar wicara, bedah buku, musikalisasi puisi, pameran naskah kuno dan arsip, hingga bazar buku dan UMKM.

Masyarakat yang datang juga dapat memanfaatkan sejumlah layanan publik yang disediakan dalam rangkaian festival.

Layanan tersebut mencakup donor darah, pemeriksaan kesehatan gratis, layanan administrasi kependudukan dan pencatatan sipil, serta berbagai layanan lainnya. (*)

Baca Juga

ASN Sumbar Tak Boleh Berduaan di Ruang Tertutup, Pemprov Terbitkan Aturan Baru
ASN Sumbar Tak Boleh Berduaan di Ruang Tertutup, Pemprov Terbitkan Aturan Baru
Ketua Tim Penggerak PKK Sumbar Harneli Mahyeldi bersama penghuni Panti Jompo Wisma Cinta Kasih saat anjangsana Hari Jadi Sumbar ke-81.
Hari Jadi Sumbar ke-81, Pemprov Berbagi Kebahagiaan dengan 42 Lansia di Wisma Cinta Kasih
Puluhan Tahun Menanti, Pompanisasi Tenaga Surya Kini Aliri 400 Hektare Sawah di Tanah Datar
Puluhan Tahun Menanti, Pompanisasi Tenaga Surya Kini Aliri 400 Hektare Sawah di Tanah Datar
ISPU PM2,5 Sumbar Fluktuatif hingga Sangat Tidak Sehat, Pemprov Keluarkan Arahan untuk Daerah
ISPU PM2,5 Sumbar Fluktuatif hingga Sangat Tidak Sehat, Pemprov Keluarkan Arahan untuk Daerah
Hampir Rp7 Miliar Menunggak, Begini Langkah Pemprov Sumbar Menertibkan Pajak Kendaraan
Hampir Rp7 Miliar Menunggak, Begini Langkah Pemprov Sumbar Menertibkan Pajak Kendaraan
Aturan Baru Etika ASN di Pemprov Sumbar, Pertemuan Berdua Lawan Jenis di Ruang Tertutup Kini Dilarang
Aturan Baru Etika ASN di Pemprov Sumbar, Pertemuan Berdua Lawan Jenis di Ruang Tertutup Kini Dilarang