Sumbardaily.com – Danau Singkarak berpeluang menjadi salah satu lokasi strategis pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Terapung atau Floating Solar Photovoltaic (FSPV) di Indonesia. Riset terbaru yang dilakukan tim peneliti Universitas Andalas (Unand) bersama University of Melbourne mengungkap kualitas air dan kondisi fisik perairan danau tersebut dinilai sangat ideal untuk mendukung pembangkit listrik tenaga surya terapung.
Temuan ini membuka peluang penyediaan energi hijau berkapasitas besar tanpa mengganggu fungsi utama Danau Singkarak sebagai kawasan perikanan, pariwisata, dan habitat ikan bilih.
Hasil penelitian tersebut dipresentasikan dalam International Conference on Energy and Environment (ICOEE) yang digelar pada 30–31 Juli 2026. Penelitian kolaboratif ini menjadi salah satu kontribusi ilmiah dalam mendukung pengembangan energi terbarukan sekaligus mempercepat transisi energi nasional menuju pemanfaatan sumber energi yang lebih ramah lingkungan.
Penelitian melibatkan Ridwan, dosen Teknik Lingkungan Unand, bersama sejumlah peneliti dari University of Melbourne, Australia. Tim lintas disiplin tersebut mengkaji kesesuaian kualitas air Danau Singkarak sebagai lokasi pengembangan PLTS Terapung dengan tetap mengedepankan prinsip keberlanjutan lingkungan.
Berdasarkan hasil kajian, kualitas air Danau Singkarak memiliki karakteristik yang sangat mendukung pengembangan PLTS terapung dalam skala besar. Kesimpulan tersebut diperoleh melalui sintesis data sekunder periode 2022–2025 yang berasal dari Dinas Lingkungan Hidup kabupaten terkait serta Kementerian Lingkungan Hidup RI.
Analisis tersebut menunjukkan bahwa kondisi fisik dan kimia perairan mampu menunjang efisiensi operasional sistem pembangkit sekaligus mendukung keberlanjutan pengoperasian PLTS terapung dalam jangka panjang.
Salah satu temuan utama penelitian adalah stabilitas suhu permukaan air Danau Singkarak yang berada pada kisaran 25,9–29 derajat Celsius. Kondisi tersebut menghasilkan natural cooling effect atau efek pendinginan alami pada modul surya sehingga suhu operasional panel tetap rendah.
Dari sisi teknis, efek pendinginan alami tersebut diperkirakan mampu meningkatkan produksi listrik lebih dari 10 persen dibandingkan pembangkit listrik tenaga surya yang dipasang di daratan.
Selain itu, parameter kimia air juga menunjukkan kondisi yang baik. Nilai pH berada pada kisaran 7,92–8,45, sedangkan kadar Dissolved Oxygen (DO) memenuhi Baku Mutu Air Kelas II sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021. Kondisi tersebut dinilai mampu mendukung ketahanan struktur terapung terhadap korosi sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem perairan.
Ridwan mengatakan hasil analisis tersebut memberikan sinyal positif terhadap peluang pengembangan PLTS terapung di Sumatera Barat (Sumbar). Meski demikian, penelitian masih akan dilanjutkan melalui pengukuran langsung di lapangan untuk memastikan kondisi aktual Danau Singkarak.
"Hasil analisis ini memberikan gambaran awal yang sangat positif terhadap prospek pengembangan PLTS terapung di Sumatera Barat. Namun demikian, tim peneliti masih akan melaksanakan pengukuran langsung di lapangan sebagai bagian dari proses validasi ilmiah guna memastikan kondisi terkini dan memperoleh data yang lebih komprehensif," ujar Ridwan, dikutip Rabu (5/8/2026).
Di balik besarnya potensi tersebut, penelitian juga mengidentifikasi tantangan lingkungan yang perlu menjadi perhatian dalam pengembangan PLTS terapung.
Tim peneliti menemukan konsentrasi Total Fosfat di kawasan inlet Batang Lembang mencapai 0,095 mg/L, melampaui baku mutu yang ditetapkan sebesar 0,03 mg/L.
Kondisi tersebut berpotensi memicu biofouling, yakni penempelan organisme pada struktur terapung yang dapat memengaruhi kinerja mekanis maupun efisiensi operasional sistem pembangkit listrik tenaga surya terapung.
Temuan tersebut menjadi dasar dalam penyusunan strategi mitigasi agar pengembangan PLTS terapung tetap berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian Danau Singkarak sebagai salah satu ekosistem penting di Sumatera Barat.
Selain mengidentifikasi aspek lingkungan, penelitian juga menyusun proyeksi kapasitas pembangkit yang dapat dikembangkan di Danau Singkarak.
Tim peneliti memperkirakan PLTS Terapung berkapasitas 50 MWac mampu memasok kebutuhan listrik hijau bagi sekitar 40.000 rumah tangga.
Menariknya, kapasitas tersebut hanya membutuhkan sekitar 0,45 persen dari total luas permukaan Danau Singkarak. Dengan kebutuhan lahan yang relatif kecil tersebut, fungsi danau sebagai kawasan perikanan, destinasi pariwisata, serta habitat ikan bilih sebagai spesies endemik tetap dapat dipertahankan.
Melalui kolaborasi antara Unand dan University of Melbourne, penelitian ini diharapkan menjadi landasan ilmiah bagi pengembangan energi terbarukan di Indonesia. Selain mendukung target Net Zero Emission, hasil riset tersebut juga berkontribusi terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) poin 7, yakni penyediaan energi bersih dan terjangkau yang berkelanjutan.
Penelitian ini sekaligus mempertegas peran perguruan tinggi dalam menghasilkan inovasi berbasis riset untuk mendukung pembangunan nasional. Temuan tersebut menunjukkan bahwa Danau Singkarak memiliki potensi besar sebagai lokasi strategis pengembangan PLTS Terapung, dengan tetap mengedepankan keseimbangan antara penyediaan energi bersih, keberlanjutan lingkungan, serta pemanfaatan danau bagi masyarakat. (*)
















