Sumbardaily.com, Padang - Pelantikan Pengurus Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Wilayah Sumatera Barat (Sumbar) menghadirkan makna yang lebih luas dibanding sekadar agenda seremonial organisasi.
Momentum tersebut sekaligus menandai bergabungnya seorang Jurnalis ke dalam barisan penggerak transisi energi, membawa perspektif kritis yang lahir dari ruang redaksi ke arena advokasi kebijakan.
Sosok itu adalah Muhammad Fauzi, reporter Harian Haluan, yang resmi dipercaya mengemban amanah sebagai Sekretaris Jenderal (Sekjen) METI Sumbar.
Jabatan tersebut menempatkannya pada posisi strategis dalam mengelola organisasi, membangun jejaring lintas sektor, sekaligus memperkuat komunikasi publik terkait isu energi terbarukan di daerah.
Bagi Fauzi, kepercayaan tersebut bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Ia memandangnya sebagai kelanjutan dari perjalanan panjang yang telah ditempuh sejak menekuni dunia jurnalistik.
“Isu energi terbarukan itu bukan semata soal teknologi atau proyek. Ia bicara soal keberpihakan, keadilan, dan masa depan masyarakat. Di titik itu, jurnalisme dan gerakan sipil bertemu,” kata Fauzi usai pelantikan, Minggu (8/2/2026).
Pernyataan tersebut mencerminkan cara pandangnya terhadap isu energi yang tidak hanya bersandar pada aspek teknis, tetapi juga pada dimensi sosial dan keberlanjutan.
Perspektif inilah yang kemudian membawanya semakin dekat dengan kerja-kerja advokasi di luar ruang redaksi.
Muhammad Fauzi lahir di Bukittinggi, 12 Agustus 1997, tanggal yang bertepatan dengan hari lahir Bung Hatta, proklamator sekaligus putra terbaik Ranah Minang.
Kebetulan historis itu kerap disebut rekan-rekannya sebagai simbol kuatnya semangat kritis dan keberpihakan pada kepentingan rakyat yang tumbuh dalam diri Fauzi.
Ia dikenal sebagai jurnalis yang memiliki latar belakang aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Organisasi tersebut membentuk karakter, daya kritis, serta keberanian bersuara sejak usia muda.
Di luar itu, Fauzi juga aktif dalam struktur kepemudaan Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kota Bukittinggi serta tercatat sebagai Pengurus Pemuda Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PERTI) Kabupaten Dharmasraya.
Kesibukannya di lapangan tidak membuat Fauzi meninggalkan dunia akademik. Saat ini, ia tengah menempuh pendidikan Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Andalas.
Bagi Fauzi, kampus menjadi ruang untuk memperdalam perspektif teoretis sekaligus merefleksikan praktik jurnalistik yang selama ini dijalani.
Sejak awal berkarier sebagai wartawan, Fauzi dikenal konsisten mengangkat isu-isu yang bersinggungan langsung dengan kepentingan publik.
Lingkungan hidup, hukum dan HAM, kriminal, konflik agraria, ekonomi, politik pemerintahan, hingga olahraga menjadi bagian dari spektrum liputannya. Meski ragam topiknya luas, terdapat satu benang merah yang kuat, yakni keberpihakan pada masyarakat.
Selama lima tahun terakhir bergabung di Harian Haluan, media legendaris di Ranah Minang, karya-karya Fauzi rutin menghiasi edisi cetak maupun platform digital. Gaya penulisannya lugas, mengalir, dan dekat dengan realitas keseharian warga.
Masuknya Fauzi ke dalam jajaran pengurus METI Sumbar dinilai sebagai langkah yang sejalan dengan rekam jejak tersebut. Jika sebelumnya ia berperan sebagai pihak yang mencatat dan melaporkan persoalan, kini ia berada di ruang yang memungkinkan ikut mengawal lahirnya solusi dan kebijakan.
Sebagai Sekretaris Jenderal METI Sumbar, Fauzi bertanggung jawab terhadap penguatan tata kelola organisasi, koordinasi lintas sektor, serta pengelolaan komunikasi publik.
Peran ini menjadi penting mengingat METI merupakan wadah kolaborasi yang menghimpun akademisi, praktisi energi, komunitas, serta pemerhati lingkungan.
Di Sumbar yang memiliki potensi besar pada energi air, panas bumi, dan surya, kehadiran METI diharapkan tidak hanya menjadi pelengkap kebijakan, melainkan mitra kritis bagi pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.
“Sumbar kaya sumber energi. Tantangannya ada pada tata kelola dan keberpihakan. METI ingin hadir sebagai mitra kritis, bukan penonton,” ujar Fauzi.
Latar belakang jurnalistik memberikan nilai tambah dalam menjalankan peran tersebut. Fauzi terbiasa membaca kebijakan, mengurai data, serta menerjemahkan isu teknis ke dalam bahasa yang lebih mudah dipahami publik.
Di sisi lain, keterlibatannya di METI membuka ruang bagi jurnalisme yang lebih kontekstual, bukan hanya mencatat peristiwa, tetapi juga memahami proses dan substansi, serta memastikan seluruh langkah tetap berada pada jalur yang benar tanpa merugikan pihak mana pun.
Pelantikan pengurus METI Sumbar menjadi penanda bahwa gerakan transisi energi di Ranah Minang tidak hanya digerakkan oleh kalangan teknokrat. Mereka yang terbiasa bekerja dengan kata, data, dan nurani juga mengambil peran di dalamnya.
Bagi Muhammad Fauzi, peran ganda sebagai jurnalis, aktivis, sekaligus penggerak organisasi merupakan tantangan yang harus dijaga keseimbangannya. Namun, ia meyakini bahwa semua peran tersebut bermuara pada tujuan yang sama.
“Energi bersih itu soal masa depan. Soal ruang hidup dan lingkungan, harus kita kawal, agar tidak justru melahirkan penindasan dan perampasan,” tuturnya. (red)
















