Sumbardaily.com, Padang - Di tengah kesedihan yang menyelimuti Sumatera Barat (Sumbar) akibat rangkaian bencana hidrometeorologi, sebuah pemandangan yang menghangatkan hati justru muncul dari barisan relawan.
Mereka hadir tanpa diminta, bekerja tanpa jeda, dan memeluk warga yang sedang berduka dengan empati yang tidak pernah mereka suarakan.
Potret inilah yang membuat Wakil Gubernur Sumbar, Vasko Ruseimy, memberikan apresiasi mendalam saat menyampaikan pernyataan resminya di Padang, Selasa (9/12/2025).
Dalam suasana yang masih diliputi kecemasan, Vasko menegaskan bahwa para relawan bukan sekadar pihak yang membantu penanganan bencana. Lebih dari itu, mereka menjadi harapan bagi ribuan warga yang kehilangan keluarga, rumah, dan rasa aman.
“Di tengah situasi sulit ini, kita masih melihat orang-orang yang ikhlas berjuang atas nama kemanusiaan. Kami berterima kasih dan bangga kepada seluruh relawan yang telah bergerak tanpa pamrih,” ujarnya dengan nada yang tampak menahan rasa haru, Selasa (9/12/2025).
Relawan diterangkannya bukan hadir untuk mencari pengakuan publik. Mereka tidak datang untuk memperbesar sorotan, apalagi memperpanjang polemik. Mereka datang untuk memikul beban emosional masyarakat yang kehilangan pegangan.
“Mereka hadir di Ranah Minang bukan untuk dipuji, bukan untuk saling menyalahkan, tetapi untuk saling menguatkan dan mempercepat penanganan. Kita buktikan, dari kebersamaan inilah Sumatera Barat akan bangkit kembali,” kata Wagub Vasko.
Sementara itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumbar memperpanjang status tanggap darurat hingga 22 Desember 2025.
Kebijakan ini diambil bukan semata-mata karena skala kerusakan yang luas, tetapi juga untuk memastikan seluruh proses penanganan berjalan secara menyeluruh, mulai dari evakuasi, pencarian korban, pemulihan kebutuhan dasar, hingga verifikasi data kerugian.
Di lapangan, upaya penanganan terus dilakukan di tengah kondisi yang tidak selalu berpihak. Titik-titik terdampak sulit dijangkau, hujan susulan kerap menghambat operasi SAR, dan trauma warga masih sangat terasa.
Namun, semangat relawan tidak tampak meredup. Mereka bekerja bergantian, berpindah dari satu lokasi bencana ke titik lain, membawa tenaga, kehangatan, dan penghiburan kepada masyarakat.
Data terbaru mencatat, bencana hidrometeorologi di Sumbar menelan korban hingga 235 jiwa meninggal dunia, 93 orang hilang, serta 113 orang mengalami luka-luka.
Total warga terdampak mencapai 256.881 jiwa, menyebar di berbagai kabupaten dan kota. Angka tersebut mencerminkan skala bencana yang luar biasa besar dan meninggalkan duka mendalam bagi seluruh daerah.
Meski demikian, di balik angka-angka itu, hadir kisah kemanusiaan yang menjadi penopang.
Relawan, aparat dan tim gabungan menyusuri lokasi-lokasi yang sebelumnya sulit dijangkau, mengangkat puing, hingga membantu warga memastikan kebutuhan dasar tetap tersalurkan.
Bagi Wagub Vasko, perjuangan itu adalah bentuk keikhlasan yang tidak bisa dibayar oleh jabatan ataupun kalimat pujian.
Di tengah situasi yang masih penuh ketidakpastian, apresiasi dari pemerintah daerah bukan sekadar bentuk penghargaan.
Pernyataan Wagub Vasko menjadi pengingat bahwa kerja-kerja kemanusiaan kerap bergerak dalam diam dan justru dari diam itulah sebuah daerah bisa kembali menemukan harapan.
Melalui kolaborasi semua pihak, Vasko percaya Sumbar akan bangkit. Bukan hanya dari kerusakan fisik, tetapi juga dari luka batin yang menyertai setiap bencana. “Kebersamaan ini adalah kekuatan kita,” tuturnya. (adl)
















