Sumbardaily.com – Busana Minangkabau mendapat ruang untuk diperkenalkan lebih luas melalui Padang Fashion Summit (PFS) 2026. Perhelatan yang digelar di ZHM Premiere Hotel Padang itu menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian Hari Jadi Kota (HJK) Padang ke-357.
Padang Fashion Summit tidak hanya menghadirkan karya fashion dengan sentuhan modern. Ajang tersebut juga menjadi ruang untuk mengangkat kekayaan budaya Minangkabau melalui berbagai koleksi busana yang memadukan kreativitas masa kini dengan unsur budaya lokal.
Upaya memperkenalkan fashion Ranah Minang ke pasar yang lebih luas turut diperkuat dengan kehadiran desainer dari Australia dan Malaysia. Keterlibatan desainer dari dua negara tersebut menjadi bagian dari langkah memperluas jejaring sekaligus membuka peluang bagi industri fashion lokal untuk memasuki pasar global.
Kehadiran desainer dari mancanegara juga menjadikan Padang Fashion Summit sebagai ruang pertukaran kreativitas dan perspektif. Pelaku industri fashion lokal mendapat kesempatan untuk membangun kolaborasi lintas negara sekaligus melihat peluang pengembangan karya agar mampu bersaing dalam cakupan yang lebih luas.
Desainer asal Kota Padang, Adhesuhanda, menilai pelaku fashion lokal perlu memiliki keberanian untuk menghasilkan karya yang memiliki karakter sendiri. Menurutnya, tren seharusnya tidak selalu menjadi patokan utama dalam menciptakan sebuah karya.
“Jangan jadikan tren menjadi acuan kita untuk membuat sebuah karya. Kita harus berani tampil beda dan menciptakan tren sendiri. Pelaku fashion Kota Padang juga sudah banyak yang terkenal, bahkan sudah go national. Harapan saya, desainer lokal bisa go international karena kita memiliki ciri khas, seperti tenun yang unik dengan banyak padu padan warna yang menarik,” ujar Adhesuhanda.
Menurut Adhesuhanda, kekayaan budaya daerah menjadi salah satu modal penting bagi desainer lokal untuk memperluas pasar. Salah satu kekuatan yang dapat ditonjolkan adalah kain tenun yang memiliki keunikan serta beragam perpaduan warna.
Karakter tersebut dinilai dapat menjadi pembeda ketika karya desainer lokal dibawa ke pasar yang lebih luas. Karena itu, keberanian menciptakan tren sendiri dinilai penting agar fashion Kota Padang tidak hanya menjadi pengikut perkembangan mode, tetapi mampu menghadirkan identitas dan karakter yang kuat.
Potensi promosi budaya melalui fashion juga mendapat respons positif dari peserta. Model asal Batusangkar, Rahmi Febri Ningsih, mengaku terkesan dengan pelaksanaan Padang Fashion Summit 2026.
Rahmi bahkan datang dari Batusangkar untuk mengikuti kegiatan tersebut. Dalam perhelatan itu, ia mengenakan pakaian adat Koto Gadang yang dikemas dalam versi modern.
“Saya cukup tertarik mengikuti kegiatan ini, bahkan saya jauh datang dari Batusangkar. Padang Fashion Summit sangat berkesan bagi saya. Harapan saya semoga kegiatan ini tetap berlanjut karena di ajang ini kita bisa memperkenalkan fashion asli dari Minangkabau untuk menuju ke kancah internasional,” tuturnya.
Menurut Rahmi, keberadaan Padang Fashion Summit memberikan ruang untuk memperkenalkan fashion yang berasal dari Minangkabau kepada masyarakat yang lebih luas. Perpaduan pakaian adat dengan sentuhan modern juga menunjukkan bahwa busana tradisional dapat terus dikembangkan tanpa kehilangan identitas budayanya.
Penyelenggaraan Padang Fashion Summit 2026 dalam rangkaian HJK Padang ke-357 sekaligus memperlihatkan upaya mempertemukan kreativitas lokal dengan jejaring fashion internasional. Kehadiran desainer dari Australia dan Malaysia memberikan dimensi lintas negara pada ajang tersebut.
Di sisi lain, desainer dan peserta berharap kegiatan tersebut dapat terus berlanjut sehingga ruang promosi terhadap fashion Minangkabau semakin terbuka. Bagi pelaku fashion lokal, keberlanjutan kegiatan juga dapat menjadi kesempatan untuk memperluas jejaring, mengembangkan kreativitas, serta memperkenalkan karya dengan identitas budaya daerah.
Dengan mengandalkan kekayaan budaya Minangkabau, termasuk karakter tenun dan busana adat Koto Gadang yang dapat dikembangkan dalam sentuhan modern, Padang Fashion Summit diarahkan menjadi salah satu wadah untuk membawa fashion Ranah Minang keluar dari pasar lokal.
Ajang tersebut pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai peragaan busana, tetapi juga tentang bagaimana identitas budaya Minangkabau dapat dikemas melalui kreativitas fashion dan diperkenalkan ke kancah internasional. (*)
















