Sumbardaily.com - Kepopuleran ombak Macaronis di Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, menjadi peluang besar bagi pengembangan pariwisata bahari Indonesia. Namun, di balik daya tariknya bagi peselancar internasional, kawasan ini membutuhkan pengelolaan yang memperhatikan kelestarian ekosistem laut, keselamatan wisatawan, dan kesejahteraan masyarakat setempat.
Untuk mendukung pengembangan tersebut, Universitas Bung Hatta menginisiasi riset kolaboratif bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), IPB University, serta dunia usaha. Penelitian ini berfokus pada kajian daya dukung lingkungan dan daya tampung kawasan wisata selancar di Mentawai sebagai landasan pengelolaan pariwisata yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
Kolaborasi tersebut melibatkan dosen Program Studi S2 Pengelolaan Sumberdaya Perairan, Pesisir, dan Kelautan (SP2K), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Bung Hatta, Dr. Harfiandri Damanhuri, S.Pi., M.Sc. Dari BRIN, tim terdiri atas Prof. Taslim Arifin, Dr. (Cand.) Yulius, dan Dr. Aprizon Putra. IPB University diwakili mahasiswa Upi Khotijah, sedangkan pihak dunia usaha melibatkan PT Internusa Bahagia melalui Sandy dan Dedi Sababalat.
Kaji Kapasitas Wisata Selancar di Pulau Siniai
Penelitian ini diharapkan menghasilkan data ilmiah yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan dalam pengelolaan wisata bahari. Aspek yang dikaji mencakup kapasitas kunjungan peselancar, kondisi ekosistem pesisir dan laut, serta faktor keselamatan dan kenyamanan wisatawan.
Kajian tersebut secara khusus menyasar Pulau Siniai, kawasan Kepulauan Pagai Utara, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Wilayah ini memiliki daya tarik ombak yang telah dikenal di kalangan peselancar mancanegara.
Penggabungan keahlian perguruan tinggi, kapasitas lembaga riset, dan pengalaman pelaku usaha menjadi bagian penting dari inisiatif tersebut. Melalui kerja sama ini, pengembangan wisata selancar diharapkan tidak hanya berorientasi pada peningkatan kunjungan, tetapi juga memperhitungkan kemampuan lingkungan dalam menopang aktivitas pariwisata.
Sebab, peningkatan jumlah wisatawan di pulau-pulau kecil tanpa pengelolaan yang memadai berpotensi memberikan tekanan terhadap ekosistem pesisir dan laut. Kondisi tersebut juga dapat memengaruhi keselamatan dan kenyamanan pengunjung serta hubungan sosial antara wisatawan dan masyarakat lokal.
Kisah Nama Macaronis, Berawal dari Bekal Makaroni
Di balik popularitasnya, ombak Macaronis memiliki kisah unik yang berkembang di kalangan peselancar. Penamaan lokasi tersebut dikaitkan dengan kebiasaan tiga peselancar asing, yakni Chris Goodnow, Scott Wakefield, dan Tony Fitzpatrick, yang menjelajahi kawasan Teluk Pasongan atau Pasongan Bay sekitar 1980.
Kawasan tersebut dikenal memiliki gulungan ombak besar dan menantang. Ketiganya kemudian kembali menjelajahi lokasi itu sekitar 1989–1990 setelah sebelumnya menyimpan kawasan tersebut sebagai salah satu tempat berselancar yang belum banyak diketahui orang.
Pada masa itu, akses menuju pesisir barat Pagai Utara masih tergolong sulit, terutama melalui jalur laut. Sementara itu, jalur darat masih berupa jalan setapak yang biasa digunakan masyarakat setempat untuk menuju kawasan perladangan.
Untuk menikmati ombak di kawasan tersebut, ketiganya mendirikan tenda dan berkemah di pantai Pulau Siniai. Selama berada di lokasi, mereka membawa persediaan makanan berupa pasta makaroni.
Kebiasaan menyantap makaroni selama berkemah dan berselancar kemudian dikaitkan dengan munculnya nama Macaronis. Lokasi itu juga dikenal dengan sebutan Macas.
Kisah tersebut menjadi bagian dari perjalanan ombak Mentawai hingga mendapatkan perhatian komunitas peselancar internasional. Kini, daya tarik Macaronis menjadi salah satu potensi wisata bahari yang dapat dikembangkan dengan tetap memperhatikan kondisi lingkungan dan kepentingan masyarakat setempat.
Bupati Mentawai Dukung Riset untuk Penyusunan Regulasi
Bupati Kepulauan Mentawai, Dr. Rinto Wardana Samaloisa, menyatakan dukungannya terhadap inisiatif penelitian kolaboratif tersebut. Ia menilai hasil riset dapat menjadi landasan ilmiah bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan dan regulasi mengenai pemanfaatan kawasan laut untuk kegiatan olahraga selancar.
Menurutnya, Mentawai memiliki keunggulan berupa karakter ombak yang beragam. Kawasan tersebut menawarkan pilihan ombak bagi peselancar pemula hingga gelombang ekstrem yang menantang peselancar profesional.
Selain karakter ombaknya, bentang alam dan hutan yang mengelilingi kawasan pesisir turut menjadi daya tarik bagi wisatawan mancanegara. Potensi tersebut dinilai perlu dikelola melalui kebijakan yang mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan dan kebutuhan pengembangan pariwisata.
Dukungan pemerintah daerah diharapkan dapat menghubungkan hasil penelitian dengan penyusunan regulasi dan penerapan pengelolaan wisata di lapangan. Dengan demikian, kebijakan yang dihasilkan dapat mempertimbangkan kapasitas lingkungan, keselamatan pengunjung, dan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Dukung Konservasi Laut dan Target 30x45
Melalui riset kolaboratif ini, tim peneliti diharapkan dapat menyusun rekomendasi pengelolaan wisata selancar yang adaptif, bertanggung jawab, dan berkelanjutan. Hasil penelitian juga diharapkan berkontribusi terhadap penguatan ekonomi masyarakat Mentawai, pelestarian ekosistem laut, serta peningkatan daya saing pariwisata bahari Indonesia di tingkat global.
Inisiatif tersebut sejalan dengan agenda konservasi laut nasional yang menargetkan perlindungan 30 persen wilayah laut pada 2045 atau dikenal sebagai target 30x45. Pengelolaan wisata selancar yang memperhatikan daya dukung lingkungan menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga keseimbangan antara pemanfaatan kawasan laut dan upaya pelestariannya.
Kolaborasi ini juga mencerminkan semangat kampus berdampak, yakni keterlibatan perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan bagi kebutuhan masyarakat dan pembangunan daerah.
Selain itu, kerja sama Universitas Bung Hatta, BRIN, IPB University, pemerintah daerah, dan dunia usaha mendukung tiga tujuan Sustainable Development Goals (SDGs). Ketiganya meliputi SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 14 tentang Ekosistem Lautan, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Dengan dukungan riset dan kebijakan yang tepat, pengembangan wisata selancar di Kepulauan Mentawai diharapkan mampu menjaga reputasi ombak Macaronis di mata dunia sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan laut. (*)
















