Sumbardaily.com - Dosen Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi (PJKR) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Bung Hatta mengembangkan model latihan khusus untuk membantu meningkatkan keterampilan Jurus Tunggal atlet pencak silat di SMAN 1 Koto XI Tarusan, Kabupaten Pesisir Selatan.
Model latihan tersebut diberi nama PERE-SPHL. Pengembangannya dilakukan melalui penelitian berjudul "Pengembangan dan Validasi Model Latihan PERE-SPHL untuk Meningkatkan Keterampilan Jurus Tunggal pada Atlet Pencak Silat SMAN 1 Koto XI Tarusan, Pesisir Selatan".
Penelitian ini tidak hanya berfokus pada penyusunan program latihan. Tim peneliti juga melakukan proses validasi dan pengujian agar model yang dikembangkan dapat digunakan sesuai kebutuhan atlet pencak silat di tingkat sekolah.
Tim penelitian dipimpin Dr. Ali Mardius, M.Pd. Ia didampingi tiga anggota, yakni Alfiqroam Kumar, S.Pd., M.Pd., Dr. Enjoni, M.P., dan Ashabul Khairi, S.Kom., M.Kom.
Dalam proses penelitian, tim terlebih dahulu mengidentifikasi kebutuhan serta karakteristik latihan atlet. Tahapan tersebut dilakukan untuk melihat berbagai komponen keterampilan yang dibutuhkan dalam penampilan Jurus Tunggal.
Ketua tim peneliti, Dr. Ali Mardius, M.Pd., mengatakan hasil identifikasi menjadi pijakan dalam merancang model latihan PERE-SPHL.
"Hasil identifikasi tersebut menjadi dasar penyusunan model latihan PERE-SPHL agar dapat diterapkan secara lebih terarah dan mampu mengintegrasikan berbagai aspek keterampilan yang diperlukan atlet," ungkapnya, dicuplik resmi Jumat (9/10/2026).
Setelah kebutuhan atlet diketahui, pengembangan model dilakukan melalui beberapa tahapan. Proses tersebut mencakup identifikasi kebutuhan, penyusunan model, validasi oleh ahli dan praktisi, serta pengujian penerapan model kepada atlet.
Menurut Ali, tahapan tersebut diperlukan karena Jurus Tunggal memiliki tuntutan keterampilan yang cukup beragam. Atlet tidak hanya dituntut mampu melakukan gerakan dengan benar, tetapi juga harus menjaga sejumlah aspek lain selama menampilkan rangkaian jurus.
Ia menjelaskan nomor Jurus Tunggal dalam pencak silat membutuhkan penguasaan teknik, ketepatan gerakan, kualitas gerakan, koordinasi, keseimbangan, kekuatan, dan kelentukan. Atlet juga harus mampu menyajikan rangkaian gerakan secara sistematis.
"Kompleksitas tersebut membutuhkan metode latihan yang tidak hanya berorientasi pada pengulangan gerakan, tetapi juga mampu mengembangkan berbagai komponen keterampilan secara terpadu," imbuhnya.
Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar penting dalam pengembangan PERE-SPHL. Model latihan dirancang agar berbagai komponen keterampilan yang diperlukan dalam Jurus Tunggal dapat dikembangkan secara lebih terarah dalam proses latihan atlet.
Ali mengatakan pengembangan model latihan yang berbasis penelitian diharapkan dapat memberikan penguatan terhadap praktik kepelatihan olahraga di lingkungan sekolah. Model tersebut diharapkan tidak berhenti pada aspek akademik, tetapi dapat digunakan dalam kegiatan latihan secara praktis.
Dengan demikian, hasil penelitian diharapkan dapat membantu pelatih dan pihak terkait menyusun latihan yang lebih sesuai dengan kebutuhan atlet pencak silat usia sekolah.
"Hasil penelitian ini nantinya dapat menjadi salah satu referensi bagi pelatih, guru pendidikan jasmani, atlet, maupun peneliti dalam mengembangkan metode latihan pencak silat, khususnya pada nomor Jurus Tunggal. Model yang dihasilkan juga diharapkan dapat memberikan alternatif dalam penyusunan program latihan yang lebih efektif dan sesuai dengan karakteristik atlet usia sekolah," kata Ali.
Pengembangan PERE-SPHL juga diarahkan untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi pembinaan olahraga di lingkungan pendidikan. Kolaborasi antara perguruan tinggi dan satuan pendidikan menjadi bagian dari proses pengembangan sekaligus penerapan model latihan tersebut.
Kegiatan penelitian ini turut dikaitkan dengan pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Kontribusi tersebut mencakup SDG 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, SDG 4 mengenai Pendidikan Berkualitas, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Melalui pengembangan model latihan PERE-SPHL, aktivitas dan pembinaan olahraga di tingkat sekolah diharapkan semakin kuat. Di sisi lain, keterlibatan perguruan tinggi dan satuan pendidikan dalam penelitian tersebut menjadi bentuk kolaborasi untuk mendukung peningkatan kualitas pembinaan atlet pencak silat usia sekolah. (*)
















