Bencana Bisa Putus Interaksi Wilayah di Sumbar, Riset UBH Temukan Titik Risikonya

Bencana Bisa Putus Interaksi Wilayah di Sumbar, Riset UBH Temukan Titik Risikonya

Ketahanan suatu wilayah menghadapi bencana tidak hanya bergantung pada ada atau tidaknya jalan yang menghubungkan satu daerah dengan daerah lain. Keberlangsungan hubungan antarpusat kegiatan juga menjadi bagian penting dalam menjaga fungsi wilayah ketika jaringan transportasi mengalami gangguan. (Foto: UBH)

Sumbardaily.com - Ketahanan suatu wilayah menghadapi bencana tidak hanya bergantung pada ada atau tidaknya jalan yang menghubungkan satu daerah dengan daerah lain. Keberlangsungan hubungan antarpusat kegiatan juga menjadi bagian penting dalam menjaga fungsi wilayah ketika jaringan transportasi mengalami gangguan.

Persoalan tersebut menjadi fokus penelitian tim dosen Perencanaan Wilayah dan Kota Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Bung Hatta. Tim meneliti resiliensi struktur ruang regional Sumatera Barat terhadap gangguan bencana hidrometeorologi.

Penelitian itu kemudian dipublikasikan dalam Journal of Regional and City Planning yang terindeks Scopus Q2. Kajian tersebut mengangkat judul “Stress Testing the Resilience of Regional Spatial Structure to Hydrometeorological Disaster Disruptions: Empirical Evidence from West Sumatra”.

Artikel penelitian ditulis Tomi Eriawan, S.T., M.T., Lestari Setiawati, S.T., M.T., Wenny Widya Wahyudi, S.T., M.Si., Meldi Romadhani, S.T., M.T., dan Alya Arianti Fresta dari Universitas Bung Hatta.

Penelitian tersebut menawarkan metode untuk melihat ketahanan wilayah dengan menghubungkan dua aspek, yakni jaringan transportasi dan keberlanjutan interaksi antarpusat kegiatan. Sumatera Barat digunakan sebagai lokasi studi empiris untuk melihat bagaimana gangguan bencana hidrometeorologi dapat memengaruhi struktur serta konektivitas ruang regional.

Tomi Eriawan mengatakan penelitian itu dilatarbelakangi kondisi geografis Sumatera Barat yang memiliki tingkat kerawanan bencana, sementara jaringan transportasinya memiliki keterbatasan jalur alternatif atau redundansi.

Kondisi tersebut membuat gangguan pada koridor transportasi utama berpotensi menimbulkan dampak yang lebih luas. Persoalannya bukan hanya perjalanan masyarakat yang menjadi lebih sulit, tetapi juga keberlangsungan hubungan fungsional antara pusat-pusat kegiatan dalam sistem wilayah.

"Tim mengembangkan kerangka stress testing berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) secara ex-post dengan tiga skenario gangguan, yakni skenario konservatif, moderat, dan terburuk. Analisis dilakukan dengan mengevaluasi fungsi koridor utama dan aksesibilitas alternatif antara Pusat Kegiatan Nasional (PKN) dan Pusat Kegiatan Wilayah (PKW). Perubahan jarak perjalanan, waktu tempuh, dan tingkat konektivitas digunakan untuk mengukur keberlanjutan interaksi hierarkis antarwilayah," ungkapnya.

Melalui tiga skenario tersebut, peneliti menguji perubahan yang terjadi ketika sejumlah bagian dari jaringan transportasi mengalami gangguan. Pengukuran tidak berhenti pada keberadaan koneksi secara fisik, tetapi juga melihat apakah hubungan antarpusat kegiatan tetap dapat berlangsung.

Hasil penelitian menunjukkan konektivitas fisik saja belum cukup untuk memastikan resiliensi struktur ruang regional. Dalam skenario gangguan moderat, seluruh pasangan asal dan tujuan yang dianalisis masih memiliki hubungan.

Namun, kondisi tersebut tidak berarti sistem tetap bekerja seperti keadaan normal. Penelitian menemukan adanya peningkatan waktu perjalanan yang signifikan. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa aksesibilitas fungsional mengalami penurunan meskipun seluruh pasangan asal dan tujuan masih terhubung.

Temuan berbeda muncul ketika peneliti menerapkan skenario terburuk. Sejumlah koridor utama yang memiliki fungsi kritis mengalami kegagalan. Kondisi tersebut kemudian menyebabkan jaringan mengalami fragmentasi secara luas dan mengganggu fungsi sistem interaksi regional.

"Kondisi yang lebih serius ditemukan pada skenario terburuk. Kegagalan sejumlah koridor utama yang bersifat kritis menyebabkan fragmentasi jaringan secara luas dan mengganggu fungsi sistem interaksi regional. Temuan tersebut memperlihatkan gangguan transportasi dapat berdampak lebih luas terhadap sistem wilayah, terutama terhadap hubungan hierarkis antara pusat-pusat kegiatan," imbuh Kepala Divisi Perencanaan Sumber Daya dan Manajemen Risiko Universitas Bung Hatta ini.

Penelitian tersebut menegaskan bahwa resiliensi struktur ruang wilayah memiliki cakupan yang lebih luas dibandingkan sekadar mempertahankan keterhubungan jaringan jalan. Sistem transportasi juga harus mampu menjaga interaksi antara pusat-pusat kegiatan ketika wilayah mengalami gangguan akibat bencana.

Pendekatan yang dikembangkan tim peneliti Universitas Bung Hatta sekaligus menghubungkan analisis jaringan transportasi dengan perspektif perencanaan spasial wilayah. Kerangka tersebut dapat digunakan untuk mengevaluasi ketahanan wilayah terhadap bencana, terutama di kawasan pegunungan dan daerah rawan bencana yang memiliki keterbatasan jalur transportasi alternatif.

Bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam mengenali koridor transportasi strategis yang perlu menjadi perhatian dalam perencanaan mitigasi bencana. Identifikasi tersebut penting karena kegagalan pada koridor tertentu dapat memengaruhi aksesibilitas sekaligus hubungan antarwilayah.

Dengan pendekatan tersebut, perencanaan pembangunan infrastruktur tidak hanya diarahkan untuk menambah konektivitas. Aspek redundansi jaringan dan kemampuan sistem transportasi mempertahankan fungsi ketika terjadi gangguan juga menjadi bagian yang perlu diperhatikan.

Publikasi ini juga memperkuat kontribusi akademisi Universitas Bung Hatta dalam menghasilkan penelitian yang berkaitan dengan persoalan pembangunan wilayah dan mitigasi bencana di Indonesia. Kajian tersebut membuka ruang pengembangan kebijakan perencanaan wilayah serta infrastruktur yang mempertimbangkan kemampuan sistem menghadapi gangguan.

Dalam konteks yang lebih luas, penelitian mengenai resiliensi struktur ruang regional Sumatera Barat tersebut berkaitan dengan upaya menjaga fungsi wilayah ketika terjadi bencana hidrometeorologi. Keberadaan jaringan transportasi yang tetap mampu mendukung interaksi antarpusat kegiatan menjadi salah satu bagian dalam mempertahankan aktivitas regional.

Penelitian tersebut turut mendukung pencapaian SDG 9 atau Industry, Innovation and Infrastructure, SDG 11 atau Sustainable Cities and Communities, serta SDG 13 atau Climate Action. Dukungan tersebut dilakukan melalui penyediaan pendekatan analitis yang dapat digunakan untuk membantu strategi adaptasi dan mitigasi terhadap risiko bencana hidrometeorologi.

Publikasi lengkap penelitian dapat diakses melalui artikel Journal of Regional and City Planning berjudul “Stress Testing the Resilience of Regional Spatial Structure to Hydrometeorological Disaster Disruptions: Empirical Evidence from West Sumatra”.

Dengan temuan tersebut, resiliensi struktur ruang regional Sumatera Barat tidak lagi hanya dilihat dari apakah satu wilayah masih memiliki akses menuju wilayah lain. Penelitian Universitas Bung Hatta menunjukkan bahwa kemampuan mempertahankan waktu tempuh, aksesibilitas, konektivitas, serta interaksi hierarkis antarpusat kegiatan menjadi bagian penting ketika jaringan transportasi menghadapi gangguan bencana. (*)

Baca Juga

Mau Balik Nama Kendaraan ke Sumbar? Ada Diskon PKB 50 Persen dan Bebas Denda
Mau Balik Nama Kendaraan ke Sumbar? Ada Diskon PKB 50 Persen dan Bebas Denda
ASN Sumbar Tak Boleh Berduaan di Ruang Tertutup, Pemprov Terbitkan Aturan Baru
ASN Sumbar Tak Boleh Berduaan di Ruang Tertutup, Pemprov Terbitkan Aturan Baru
Petugas BPBD Kota Padang membagikan masker gratis kepada pengendara di tengah kondisi kualitas udara yang sangat tidak sehat.
Kualitas Udara Sumbar Tak Sehat, Gubernur Minta Pemda Bergerak Sebelum Memburuk
Lolos CAT PPIH Kesehatan 2026? Ini 3 Rumah Sakit Rujukan MCU di Sumbar
Lolos CAT PPIH Kesehatan 2026? Ini 3 Rumah Sakit Rujukan MCU di Sumbar
Air Laut Berpotensi Naik, Banjir Rob Mengancam Pesisir Sumbar 8-12 September
Air Laut Berpotensi Naik, Banjir Rob Mengancam Pesisir Sumbar 8-12 September
TC Kafilah Sumbar Dipangkas karena Efisiensi, Persiapan MTQ Nasional Tetap Jalan
TC Kafilah Sumbar Dipangkas karena Efisiensi, Persiapan MTQ Nasional Tetap Jalan