Sumbardaily.com - Nilai ekspor Sumatera Barat sepanjang Januari-Agustus 2026 menembus US$2,29 miliar. Angka tersebut tumbuh 19,55 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, di tengah kenaikan ekspor, nilai impor Sumatera Barat justru melonjak jauh lebih tinggi hingga 123,86 persen.
Data tersebut menjadi gambaran penting perkembangan perdagangan luar negeri Sumatera Barat sepanjang delapan bulan pertama 2026. Berdasarkan data BPS Sumbar yang dikutip Sabtu (2/10/2026), nilai ekspor dan impor sama-sama mengalami pertumbuhan, tetapi dengan laju yang berbeda.
"Nilai ekspor Sumatera Barat sepanjang Januari-Agustus 2026 mencapai US$2.291,03 juta, mengalami peningkatan 19,55 persen dibanding periode yang sama tahun lalu yang tercatat sebesar US$1.916,44 juta," demikian keterangan BPS Sumbar dalam rilis perkembangan ekonomi Sumatera Barat.
Kenaikan ekspor tersebut terutama ditopang oleh sektor industri pengolahan. Sektor ini mencatat pertumbuhan sebesar 22,61 persen sepanjang Januari-Agustus 2026.
Jika dilihat berdasarkan negara tujuan, perdagangan ekspor Sumatera Barat masih terkonsentrasi pada sejumlah negara utama. India menjadi negara tujuan ekspor terbesar dengan nilai US$493,73 juta.
Pakistan berada di posisi berikutnya dengan nilai ekspor US$419,98 juta. Kemudian Tiongkok mencatat nilai US$382,91 juta, Bangladesh sebesar US$257,77 juta, dan Mesir sebesar US$181,84 juta.
Lima negara tersebut menjadi tujuan utama ekspor Sumatera Barat sepanjang Januari-Agustus 2026.
Dari sisi komoditas, perdagangan ekspor Sumatera Barat juga masih didominasi tiga kelompok barang. Golongan Lemak dan Minyak Hewan/Nabati atau HS 15 menjadi komoditas dengan kontribusi terbesar.
Komoditas tersebut memberikan share sebesar 86,46 persen terhadap total ekspor Sumatera Barat. Setelahnya terdapat Berbagai Produk Kimia atau HS 38 dengan share 3,72 persen serta Karet dan Barang dari Karet atau HS 40 dengan share 2,76 persen.
BPS mencatat, dominasi kelompok Lemak dan Minyak Hewan/Nabati membuat pergerakan komoditas tersebut menjadi bagian penting dalam perkembangan ekspor Sumatera Barat sepanjang periode tersebut.
Di sisi lain, impor Sumatera Barat mengalami pertumbuhan yang jauh lebih tinggi.
"Nilai impor Sumatera Barat pada Januari-Agustus 2026 mencapai US$784,48 juta, mengalami peningkatan 123,86 persen dibanding periode yang sama tahun lalu," kata BPS Sumbar dalam keterangannya.
Peningkatan impor tersebut terutama disumbang oleh impor bahan baku dan bahan penolong. Secara kumulatif, impor bahan baku dan bahan penolong meningkat 114,67 persen.
Negara asal barang impor Sumatera Barat juga menunjukkan konsentrasi pada sejumlah negara. Singapura menjadi negara asal impor terbesar dengan nilai US$446,89 juta.
Malaysia menyusul dengan nilai US$214,29 juta. Berikutnya Argentina sebesar US$32,48 juta, Kanada US$26,52 juta, dan Brasil US$18,52 juta.
Sementara berdasarkan kelompok komoditas, impor Sumatera Barat sepanjang Januari-Agustus 2026 didominasi tiga jenis barang.
Golongan Bahan Bakar Mineral atau HS 27 memberikan share terbesar, yakni 83,43 persen. Kemudian Ampas/Sisa Industri Makanan atau HS 23 dengan share 7,63 persen, serta Pupuk atau HS 31 dengan share 3,36 persen.
Meski nilai ekspor mengalami peningkatan, neraca perdagangan Sumatera Barat justru tercatat lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pada Januari-Agustus 2026, neraca perdagangan mencapai US$1.506,55 juta.
Angka tersebut turun US$59,46 juta dibandingkan Januari-Agustus 2025 yang mencapai US$1.566,01 juta.
Artinya, kenaikan ekspor belum diikuti dengan penguatan surplus perdagangan karena pertumbuhan nilai impor berlangsung lebih cepat pada periode yang sama.
Perkembangan perdagangan luar negeri tersebut berlangsung bersamaan dengan perubahan aktivitas transportasi Sumatera Barat. BPS mencatat pergerakan penumpang melalui Bandara Internasional Minangkabau (BIM) pada Agustus 2026 mengalami perubahan yang berbeda antara penerbangan domestik dan internasional.
Untuk penerbangan domestik, jumlah penumpang yang berangkat melalui BIM pada Agustus 2026 tercatat 75,39 ribu orang. Jumlah tersebut turun 1,41 persen dibandingkan Juli 2026 yang mencapai 76,46 ribu orang.
Sementara penumpang domestik yang datang pada Agustus 2026 mencapai 74,36 ribu orang. Angka ini justru meningkat 0,56 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Pada penerbangan internasional, pergerakan penumpang menunjukkan peningkatan. Jumlah penumpang yang berangkat pada Agustus 2026 tercatat 20,15 ribu orang atau naik 9,03 persen dibandingkan Juli 2026.
Jumlah penumpang internasional yang datang juga meningkat. Pada Agustus 2026 tercatat 20,55 ribu orang, naik 2,69 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
"Pada Agustus 2026, penumpang penerbangan internasional yang berangkat tercatat naik 9,03 persen dan penumpang yang datang meningkat 2,69 persen dibandingkan Juli 2026," tulis BPS Sumbar dalam keterangannya.
Untuk angkutan laut dalam negeri, jumlah barang yang dimuat pada Agustus 2026 mencapai 299,10 ribu ton. Jumlah tersebut turun 5,82 persen dibandingkan Juli 2026.
Sebaliknya, aktivitas bongkar barang melalui angkutan laut mengalami peningkatan. Barang yang dibongkar pada Agustus 2026 mencapai 346,69 ribu ton, naik 4,70 persen dari Juli 2026 yang tercatat 331,14 ribu ton.
Pergerakan moda kereta api juga mengalami perubahan. Jumlah penumpang yang berangkat pada Agustus 2026 tercatat 191,49 ribu orang atau turun 11,87 persen dibandingkan Juli 2026.
Namun, pengangkutan barang menggunakan kereta api justru meningkat signifikan. Jumlah barang yang diangkut naik 49,80 persen secara month to month.
Sementara itu, dari sisi harga, Sumatera Barat mengalami inflasi pada September 2026. BPS mencatat inflasi bulanan sebesar 0,60 persen dibandingkan Agustus 2026.
Secara tahun kalender, inflasi Sumatera Barat tercatat 1,83 persen. Sedangkan secara tahunan atau year-on-year, inflasi mencapai 3,50 persen.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi bulanan. Kelompok tersebut mengalami inflasi 1,77 persen dan memberikan andil 0,59 persen terhadap inflasi Sumatera Barat.
Komoditas utama yang mendorong inflasi kelompok tersebut antara lain cabai merah, daging ayam ras, beras, serta ikan cakalang/sisik.
Seluruh wilayah cakupan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumatera Barat mengalami inflasi secara month to month. Kabupaten Pasaman Barat mencatat inflasi tertinggi sebesar 1,11 persen.
Kemudian Kabupaten Dharmasraya mengalami inflasi 1,03 persen, Kota Bukittinggi 0,98 persen, dan Kota Padang 0,33 persen.
Secara tahunan, seluruh kelompok pengeluaran juga mengalami inflasi. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi umum, yakni 1,38 persen.
Untuk inflasi tahunan berdasarkan wilayah, seluruh daerah cakupan IHK juga mengalami inflasi. Kabupaten Dharmasraya mencatat inflasi tertinggi sebesar 4,42 persen.
Kabupaten Pasaman Barat mengalami inflasi tahunan 3,56 persen, Kota Bukittinggi 3,43 persen, sedangkan Kota Padang mencatat inflasi terendah sebesar 3,33 persen.
Rangkaian data tersebut menunjukkan perkembangan ekonomi Sumatera Barat sepanjang Januari-Agustus hingga September 2026 berlangsung dengan dinamika berbeda. Ekspor meningkat 19,55 persen, tetapi impor tumbuh 123,86 persen.
Pada saat yang sama, pergerakan penumpang dan barang melalui udara, laut, dan kereta api mengalami perubahan yang beragam, sementara tekanan harga konsumen pada September tercatat 3,50 persen secara tahunan. (*)
















