Jembatan Anduriang Putus, Warga Padang Pariaman Terpaksa Gunakan Rakit Darurat Bertaruh Nyawa

Jembatan Anduriang Putus, Warga Padang Pariaman Terpaksa Gunakan Rakit Darurat Bertaruh Nyawa

Warga di Kecamatan 2x11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, menggunakan rakit darurat berbahan drum menyeberangi sungai setelah Jembatan Anduriang ambruk akibat banjir bandang pada November 2025. (Foto: Pemkab Padang Pariaman

Sumbardaily.com – Warga di Kecamatan 2x11 Kayu Tanam, Kabupaten Padang Pariaman, terpaksa menggunakan rakit darurat berbahan drum untuk menyeberangi sungai setelah Jembatan Anduriang ambruk akibat banjir bandang pada November 2025.

Kondisi ini memaksa masyarakat mempertaruhkan keselamatan demi tetap menjalankan aktivitas sehari-hari.

Rakit sederhana tersebut menjadi satu-satunya akses cepat bagi warga dari Nagari Kayu Tanam, Nagari Anduriang, dan Nagari Guguak. Tanpa jembatan, mereka harus memutar dengan jarak yang jauh, sehingga rakit menjadi pilihan meski berisiko tinggi.

Bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah tersebut tidak hanya merobohkan Jembatan Anduriang, tetapi juga merusak sejumlah infrastruktur lainnya.

Dampaknya, sekitar 30 ribu warga terdampak, terutama dalam mobilitas dan aktivitas ekonomi, termasuk distribusi hasil pertanian ke pasar.

Warga Andalkan Rakit Darurat, Risiko Keselamatan Mengintai

Sejak jembatan utama terputus, rakit darurat berbahan drum menjadi solusi sementara bagi masyarakat. Namun, fasilitas ini dinilai jauh dari standar keselamatan, terutama saat arus sungai meningkat.

Ketua Pemuda Nagari Anduriang, Afrizal, mengatakan bahwa rakit tersebut merupakan hasil inisiatif para pemuda setempat untuk membantu warga.

“Awalnya jembatan ini putus, lalu kami pemuda berinisiatif membuat rakit supaya masyarakat tidak perlu memutar jauh. Ini bisa menghemat waktu dan bahan bakar,” ujar Afrizal dikutip dari laman resmi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Padang Pariaman, Jumat (20/3/2026).

Ia menjelaskan, layanan penyeberangan tersebut bersifat sukarela. Warga yang menggunakan rakit hanya memberikan biaya seikhlasnya. “Ada yang bayar Rp5.000, ada Rp2.000, bahkan ada yang gratis seperti anak sekolah,” katanya.

Meski membantu, Afrizal mengakui risiko keselamatan tetap tinggi, terutama saat kondisi sungai tidak stabil.

Pemerintah Bangun Jembatan Bailey Darurat

Menanggapi kondisi tersebut, Pemkab Padang Pariaman bersama Polda Sumatera Barat (Sumbar) dan Korps Brimob bergerak cepat dengan merencanakan pembangunan jembatan darurat jenis Bailey.

Bupati Padang Pariaman, John Kenedy Azis, menyampaikan bahwa pembangunan akan dimulai pada awal April sebagai langkah percepatan pemulihan akses.

“Alhamdulillah, atas bantuan dari Polda Sumbar melalui Korps Brimob, di Anduriang ini akan kita bangun jembatan Bailey. InsyaAllah awal April kita laksanakan,” ujarnya.

Jembatan darurat ini diharapkan dapat kembali menghubungkan Pasar Kayu Tanam dengan wilayah sekitarnya sehingga aktivitas ekonomi masyarakat bisa pulih.

Konstruksi 60 Meter, Antisipasi Banjir Susulan

Dansat Brimob Polda Sumbar, Kombes Pol Lukman Syafri Dandel Malik, menjelaskan bahwa pembangunan jembatan Bailey dilakukan sebagai bagian dari percepatan rehabilitasi pascabencana.

“Dua unit jembatan Bailey masing-masing sepanjang 30 meter akan digabungkan sehingga total panjangnya sekitar 60 meter dengan lebar 4 meter,” jelasnya.

Ia menambahkan, pondasi jembatan akan ditinggikan untuk mengantisipasi banjir susulan. “Pondasi akan kita tinggikan sekitar 2 sampai 3 meter guna mengantisipasi potensi banjir susulan,” tambahnya.

Proses pemasangan jembatan diperkirakan memakan waktu sekitar tiga minggu setelah pondasi selesai dibangun.

Harapan Warga: Akses Segera Pulih

Di tengah kondisi yang masih terbatas, warga berharap pembangunan jembatan segera rampung agar aktivitas kembali normal.

Salah seorang warga, Syamsuwir, mengungkapkan kesulitan yang dialami masyarakat. “Kalau harus memutar jauh, sangat menyulitkan. Risikonya juga besar. Harapan kami jembatan segera selesai,” ungkapnya.

Hingga saat ini, masyarakat masih bergantung pada rakit darurat sambil menunggu realisasi pembangunan jembatan yang lebih aman dan permanen dari pemerintah. (*)

Baca Juga

Penyintas banjir bandang dan tanah longsor Batu Busuak berada di depan Hunian Sementara Layak Huni (Hunsela) di kawasan Rimbo Panjang, Kelurahan Lambung Bukit, Kota Padang, Jumat (17/7/2026).
Tak Lagi Hidup Nomaden, Penyintas Longsor Batu Busuak Syukuri Hunsela Bantuan Pemko Padang
Wamenag Minta Publik Tak Gegabah Kaitkan Bom di MAN 3 Padang dengan Radikalisme
Wamenag Minta Publik Tak Gegabah Kaitkan Bom di MAN 3 Padang dengan Radikalisme
Buron 5 Tahun, Terpidana Kasus Pencabulan Anak Ditangkap Tim Burung Hantu Kejati Sumbar di Bengkulu
Buron 5 Tahun, Terpidana Kasus Pencabulan Anak Ditangkap Tim Burung Hantu Kejati Sumbar di Bengkulu
Kepala Disdukcapil Kota Padang bersama jajaran memberikan penjelasan mengenai percepatan kepemilikan Kartu Identitas Anak (KIA) di Kantor Disdukcapil Kota Padang.
Kartu Identitas Anak di Padang Tembus 70 Persen, Pemko Padang Siapkan Terobosan Baru ke Sekolah
Lautaro Martínez dan Dua Asis Messi
Lautaro Martínez dan Dua Asis Messi
Sumbar Targetkan 695 Huntap Mandiri, Padang Pariaman Jadi Daerah Terbanyak
Sumbar Targetkan 695 Huntap Mandiri, Padang Pariaman Jadi Daerah Terbanyak