Sumbardaily.com – Penunjukan Zinedine Zidane sebagai pelatih kepala tim nasional Prancis menjadi salah satu momen paling bersejarah dalam perjalanan karier kepelatihannya. Sosok yang sukses sebagai pemain maupun pelatih itu akhirnya memperoleh pekerjaan yang selama lima tahun terakhir menjadi tujuan utamanya, yakni memimpin Les Bleus.
Dalam konferensi pers perdananya di markas Federasi Sepak Bola Prancis yang dihadiri lebih dari 100 jurnalis dari berbagai negara, Zidane tampil penuh antusias dan emosional. Berbeda dengan citranya yang selama ini dikenal cukup tertutup di hadapan media, mantan pelatih Real Madrid tersebut justru berbicara dengan terbuka mengenai arti penting jabatan barunya.
Ketika mendapat pertanyaan apakah hari itu merupakan momen terbesar sepanjang karier kepelatihannya, Zidane memberikan jawaban singkat namun penuh makna.
"Ya," katanya dilansir dari FIFA, Jumat (31/7/2026).
Jawaban tersebut disampaikan dengan penuh keyakinan, mencerminkan besarnya arti penunjukan itu bagi pria yang akrab disapa Zizou tersebut. Baginya, kesempatan melatih tim nasional Prancis bukan sekadar pekerjaan baru, melainkan impian yang telah lama dinantikan.
Menunggu Selama Lima Tahun Demi Satu Pekerjaan
Dalam kesempatan itu, Zidane mengungkapkan bahwa dirinya sengaja menolak berbagai tawaran melatih selama lima tahun terakhir. Keputusan tersebut diambil karena hanya ada satu posisi yang benar-benar ingin diembannya, yakni pelatih kepala tim nasional Prancis.
Menurut Zidane, setelah meninggalkan Real Madrid, ia menerima sejumlah tawaran dari berbagai pihak. Namun seluruh kesempatan tersebut tidak pernah membuatnya berubah pikiran.
Ia menegaskan bahwa sejak awal hanya ada satu tujuan yang ingin diwujudkannya.
"Selama lima tahun sejak terakhir kali saya berada di bangku pelatih, saya menerima beberapa tawaran dan menolak semuanya demi pekerjaan sebagai pelatih tim nasional Prancis."
Penantian panjang tersebut akhirnya berakhir ketika Federasi Sepak Bola Prancis mempercayakan kursi pelatih kepadanya.
Zidane mengaku sulit menyembunyikan rasa haru yang dirasakannya. Baginya, momen tersebut merupakan puncak dari perjalanan panjang yang telah dimulai sejak masih berusia muda.
Ikatan Emosional dengan Tim Nasional Prancis
Hubungan Zidane dengan tim nasional Prancis bukanlah sesuatu yang baru. Sebelum menjadi legenda sepak bola dunia, ia telah mengenakan seragam Prancis sejak level usia muda.
Ia mengenang bagaimana perjalanannya dimulai bersama tim U-15 sebelum secara bertahap menembus setiap kelompok umur hingga akhirnya menjadi bagian dari tim senior.
Perjalanan tersebut mencapai puncaknya ketika ia membantu Prancis menjuarai Piala Dunia FIFA 1998.
Menurut Zidane, gelar tersebut tetap menjadi momen paling berharga dalam hidupnya.
"Pengalaman pertama saya bersama tim nasional dimulai sejak masih kecil. Saya membela tim U-15 sebelum terus menapaki setiap jenjang hingga mencapai tim senior, yang merupakan puncak tertinggi."
Ia juga mengaku sulit menggambarkan kebanggaannya dengan kata-kata.
"Menjuarai Piala Dunia 1998 adalah hal terbesar yang pernah terjadi dalam hidup saya."
Pernyataan itu menunjukkan bahwa tim nasional Prancis memiliki tempat yang sangat istimewa dalam perjalanan hidupnya, baik sebagai pemain maupun kini sebagai pelatih.
Mimpi yang Kini Menjadi Kenyataan
Selama konferensi pers berlangsung, Zidane beberapa kali mengungkapkan kebahagiaannya.
Ia mengakui bahwa jabatan tersebut merupakan mimpi yang akhirnya berhasil diwujudkan setelah menunggu cukup lama.
"Saya benar-benar sangat bahagia."
Ia mengakui berusaha mengendalikan emosinya, tetapi perasaan bangga dan haru tetap sulit disembunyikan.
"Dalam banyak hal, ini adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Saya berusaha mengendalikan perasaan ini, tetapi emosi saya benar-benar meluap."
Meski demikian, Zidane menegaskan dirinya telah siap menghadapi seluruh tantangan yang menanti sebagai pelatih kepala Les Bleus.
"Saya siap menghadapi tantangan ini."
Memberikan Penghormatan kepada Didier Deschamps
Sebelum mulai bekerja bersama skuad Prancis, Zidane lebih dahulu memberikan penghormatan kepada pendahulunya, Didier Deschamps.
Deschamps secara resmi mengakhiri masa kepemimpinannya pada 18 Juli setelah menangani tim nasional selama 14 tahun.
Zidane menilai Deschamps telah memberikan kontribusi yang luar biasa bagi sepak bola Prancis.
"Saya ingin mengucapkan selamat kepada Didier dan seluruh stafnya atas 14 tahun yang luar biasa."
Ia juga menyampaikan apresiasi atas seluruh pencapaian yang telah diraih Deschamps bersama Les Bleus.
"Saya hanya ingin mengatakan kepadanya, 'Selamat atas semua pencapaian Anda. Semua orang berterima kasih atas pekerjaan yang telah Anda lakukan.'"
Meski kini memasuki era baru dengan pelatih dan staf yang berbeda, Zidane memastikan tujuan tim tidak berubah.
"Ini adalah awal dari babak baru, dengan staf dan orang-orang yang berbeda, tetapi tujuannya tetap sama: membawa Prancis menjadi juara."
Langsung Fokus ke UEFA Nations League
Era Zidane bersama Prancis akan segera dimulai pada September mendatang.
Pelatih kelahiran Marseille itu akan memimpin Les Bleus dalam empat pertandingan UEFA Nations League menghadapi Turkiye, Belgia sebanyak dua kali, dan Italia.
Rangkaian pertandingan yang berlangsung pada periode 25 September hingga 5 Oktober itu akan menjadi kesempatan pertama baginya membangun karakter permainan tim.
Berbeda dengan jeda internasional sebelumnya yang hanya menyediakan waktu sekitar sepuluh hari, kali ini Zidane akan memiliki waktu sekitar tiga pekan bersama para pemain.
Menurutnya, durasi tersebut menjadi keuntungan besar.
"Memiliki mereka selama tiga pekan adalah sesuatu yang luar biasa."
Ia mengaku sudah tidak sabar memulai pekerjaannya bersama para pemain.
"Saya sudah tidak sabar untuk segera memulainya."
Janjikan Sepak Bola Atraktif
Walaupun telah mempersiapkan empat pertandingan awalnya, Zidane belum bersedia membeberkan secara rinci konsep permainan yang akan diterapkan.
Ia meminta publik bersabar hingga September.
"Anda akan segera melihat gaya sepak bola yang ingin kami mainkan."
Meski belum menjelaskan seluruh rencana taktiknya, Zidane memberikan sedikit gambaran mengenai filosofi yang akan diusung.
Sebagai mantan gelandang nomor 10, ia mengaku menyukai sepak bola menyerang.
"Kita akan memiliki kesempatan untuk membahas secara mendalam rencana permainan dan filosofi saya pada September nanti."
"Satu hal yang bisa saya katakan, saya menyukai sepak bola yang atraktif."
Menurutnya, filosofi tersebut akan berorientasi pada permainan menyerang dan mencetak gol tanpa mengabaikan keseimbangan tim.
"Saya dulu bermain sebagai gelandang nomor 10, dan filosofi kepelatihan saya adalah bermain menyerang serta mencetak gol, tentu dengan tetap menjaga keseimbangan tim."
Mental Juara Jadi Alasan Penunjukan
Presiden Federasi Sepak Bola Prancis, Philippe Diallo, mengungkapkan salah satu alasan utama memilih Zidane adalah mentalitas pemenang yang dimilikinya.
Dalam proses diskusi sebelum penunjukan resmi dilakukan, Zidane menyampaikan keyakinannya mampu membawa tim meraih kemenangan.
"Presiden, saya tahu bagaimana cara menang."
Menurut Diallo, kalimat itulah yang semakin menguatkan keyakinannya untuk menunjuk Zidane sebagai pelatih kepala.
Rekam jejak Zidane sebagai pelatih Real Madrid yang sukses mempersembahkan tiga gelar Liga Champions secara beruntun menjadi bukti nyata kapasitasnya.
Meski demikian, Zidane memilih merespons dengan rendah hati.
"Saya tidak bisa menjelaskan bagaimana kami akan meraih kemenangan hanya dalam beberapa kalimat."
Namun ia menegaskan Prancis telah memiliki modal yang sangat kuat.
"Kami mempunyai pemain-pemain luar biasa dan tim yang sangat kuat, dan itu bukan hal yang sepele."
Kini fokus utamanya adalah beradaptasi dengan lingkungan baru, membangun hubungan yang baik bersama para pemain, serta menyampaikan filosofi permainan yang ingin diterapkannya.
Siapkan Identitas Baru untuk Les Bleus
Salah satu pesan yang paling menarik dari konferensi pers perdana Zidane adalah keinginannya menghadirkan identitas permainan yang berbeda tanpa menghilangkan fondasi yang telah dibangun sebelumnya.
Ia menegaskan tidak akan meniru siapa pun.
"Kami akan melakukannya dengan cara yang berbeda."
Menurutnya, setiap pelatih memiliki karakter masing-masing.
"Didier adalah Didier. Laurent Blanc adalah Laurent Blanc, dan Zizou adalah Zizou."
Meski membawa pendekatan sendiri, ia memastikan tidak akan melakukan perubahan secara menyeluruh.
"Saya akan melakukan apa yang paling saya kuasai, tetapi bukan berarti saya akan mengubah semuanya dari awal."
Target akhirnya tetap sama, yakni menjaga Prancis sebagai salah satu kekuatan utama sepak bola dunia.
"Tujuan saya adalah memastikan semua fondasi tetap terjaga agar tim nasional Prancis terus menjadi tim yang mampu meraih kemenangan."
Setelah Les Bleus menutup perjalanan mereka di Piala Dunia dengan finis di peringkat keempat, harapan kini tertuju kepada Zinedine Zidane untuk membuka lembaran baru.
Dengan pengalaman sebagai juara dunia, pelatih sukses, serta tekad yang telah dipupuk selama lima tahun, Zidane kini memikul ekspektasi besar untuk membawa Prancis kembali tampil konsisten dan bersaing dalam perebutan gelar di level internasional. (*)
















