Sawah Yusmanidar di Padang Pariaman Sempat Tertimbun Bencana, Kini Padi Menghijau dan Segera Dipanen

Sawah Yusmanidar di Padang Pariaman Sempat Tertimbun Bencana, Kini Padi Menghijau dan Segera Dipanen

Kondisi sawah tersebut terlihat ketika jajaran Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Padang Pariaman melakukan peninjauan pada Kamis siang (27/8/2026). (Foto: Pemkab Padang Pariaman)

Sumbardaily.com - Pemandangan di sebuah areal persawahan Korong Tanah Taban, Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman, kini berubah. Hamparan padi menghijau di atas lahan yang beberapa waktu lalu tertutup material sedimentasi akibat bencana hidrometeorologi.

Bagi Yusmanidar, perubahan itu bukan sekadar pemandangan sawah yang kembali hijau. Tanaman padi yang tumbuh di lahannya menjadi tanda bahwa sawah yang sempat membuat petani kehilangan kesempatan menggarap kini kembali menghasilkan. Jika tidak ada kendala, hasil panen diperkirakan dapat dinikmati sekitar satu minggu lagi.

Kondisi sawah tersebut terlihat ketika jajaran Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Padang Pariaman melakukan peninjauan pada Kamis siang (27/8/2026). Tanaman padi yang ditanam secara serentak pada 13 Mei 2026 itu kini sudah berusia sekitar tiga bulan lebih.

Tanaman tumbuh subur dan telah mendekati waktu panen. Bagi petani, masa tunggu sekitar satu minggu menjadi bagian penting setelah sebelumnya lahan mereka terdampak bencana pada akhir 2025.

Yusmanidar mengaku bersyukur melihat sawah yang kembali menghasilkan. Lahan yang sebelumnya tertutup material sedimentasi kini sudah bisa ditanami kembali dan tanaman padi berkembang hingga mendekati masa panen.

Kondisi tersebut menjadi angin segar bagi petani setelah bencana sempat membuat mereka kehilangan kesempatan untuk menggarap lahan. Harapan kembali muncul seiring tanaman padi yang semakin mendekati waktu panen.

Meski begitu, perjalanan petani untuk kembali mengelola sawah belum sepenuhnya selesai. Persoalan ketersediaan air masih menjadi tantangan.

Saat ini, kebutuhan air untuk sawah masih bergantung pada curah hujan dan penggunaan pompa. Kondisi tersebut membuat keberadaan jaringan irigasi menjadi kebutuhan penting agar kegiatan pertanian dapat terus berjalan.

Sebelum bencana terjadi, petani di kawasan tersebut memang masih mengandalkan sumur untuk memenuhi kebutuhan air. Kawasan itu belum memiliki jaringan irigasi teknis.

Bencana kemudian membuat persoalan semakin berat. Sumur yang selama ini menjadi sumber air bagi petani ikut tertimbun material sedimentasi. Sumber air yang sebelumnya digunakan untuk mengairi lahan pun ikut terdampak.

Pemerintah kemudian memberikan bantuan irigasi perpompaan serta membangun jaringan irigasi tersier. Sarana tersebut diharapkan dapat membantu petani mendapatkan pasokan air untuk mempertahankan produktivitas lahan.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Padang Pariaman, Irawati Febriani, mengatakan kondisi Tanah Taban menjadi salah satu gambaran bahwa lahan pertanian yang terdampak bencana masih dapat kembali dimanfaatkan setelah mendapatkan penanganan.

Menurut Irawati, pemulihan lahan tersebut merupakan hasil kerja bersama antara pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, dan Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman. Setelah lahan dipulihkan, pemerintah bersama petani melanjutkan proses dengan penanaman secara serentak.

“Pemulihan lahan ini merupakan hasil kolaborasi pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, dan Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman. Setelah lahan dipulihkan, kemudian dilakukan penanaman secara serentak,” ujar Irawati dilansir Minggu (30/8/2026).

Bagi pemerintah, pemulihan tidak cukup hanya dengan mengembalikan bentuk fisik lahan agar dapat ditanami. Kebutuhan air juga harus dipastikan karena menjadi salah satu faktor utama dalam keberlanjutan kegiatan budidaya padi.

“Dengan adanya sarana irigasi ini, kita berharap ketersediaan air dapat lebih terjamin sehingga lahan tetap produktif dan petani dapat terus melakukan kegiatan budidaya,” jelasnya.

Pemerintah berharap pembangunan jaringan irigasi yang sedang dilakukan dapat menjadi solusi dalam jangka panjang. Dengan jaringan tersebut, petani tidak hanya mengandalkan curah hujan dan pompa untuk memenuhi kebutuhan air sawah.

1.263 Hektare Sawah Terdampak

Cerita dari Tanah Taban merupakan bagian kecil dari persoalan yang harus ditangani Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman setelah bencana hidrometeorologi pada akhir 2025.

Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Padang Pariaman mencatat bencana tersebut berdampak terhadap 1.263 hektare lahan sawah.

Dari total lahan terdampak tersebut, sebanyak 446 hektare mengalami kerusakan ringan. Kemudian 238 hektare mengalami kerusakan sedang, sedangkan 450 hektare lainnya mengalami kerusakan berat.

Selain lahan yang mengalami kerusakan, terdapat pula 100 hektare sawah yang dinyatakan hilang.

Penanganan dilakukan berdasarkan tingkat kerusakan lahan. Untuk sawah dengan kerusakan ringan, pemulihan dilakukan melalui Program Optimalisasi Lahan atau OPLAH dengan luas mencapai 446 hektare.

Sementara itu, dari 238 hektare lahan yang mengalami kerusakan sedang, sebanyak 198 hektare telah selesai direhabilitasi.

Artinya, masih ada sekitar 40 hektare lahan dengan kategori rusak sedang yang masih dalam proses pemulihan. Pemerintah juga masih harus menangani 450 hektare lahan yang masuk kategori rusak berat.

Dari lahan yang mengalami kerusakan tersebut, sebanyak 234 hektare telah diajukan kepada Kementerian Pertanian melalui program rehabilitasi refocusing. Pengajuan itu kini memasuki tahapan verifikasi dan validasi lapangan.

Sementara sekitar 256 hektare lahan rusak lainnya masih dalam proses pengusulan. Begitu pula dengan 100 hektare lahan yang dinyatakan hilang, yang masih diusulkan untuk mendapatkan dukungan penanganan lebih lanjut dari pemerintah pusat.

Irawati mengatakan pemerintah daerah akan terus mendorong percepatan pemulihan lahan pertanian yang terdampak bencana. Penanganan tidak hanya diarahkan untuk mengembalikan kondisi lahan, tetapi juga menyentuh kebutuhan irigasi dan sarana produksi pertanian.

Hal tersebut menjadi penting karena sawah yang sudah kembali dapat ditanami tetap membutuhkan dukungan agar dapat terus menghasilkan. Pengalaman petani di Tanah Taban menunjukkan bahwa pemulihan lahan dan ketersediaan air harus berjalan beriringan.

Di tengah proses pemulihan yang masih berlangsung, tanaman padi di Tanah Taban kini tumbuh di lahan yang sebelumnya tertutup material sedimentasi. Usianya telah mencapai sekitar tiga bulan lebih sejak ditanam serentak pada 13 Mei 2026.

Sekitar satu minggu lagi, Yusmanidar dan petani lainnya diperkirakan kembali memasuki masa panen apabila tidak ada kendala yang memengaruhi pertumbuhan padi.

Bagi Yusmanidar, panen tersebut bukan hanya tentang hasil dari tanaman yang ditanam beberapa bulan lalu. Panen menjadi penanda bahwa sawah yang sempat tidak dapat digarap akibat bencana kembali memberikan kesempatan kepada petani untuk mengusahakan lahan.

Pemerintah pun menargetkan pemulihan tidak berhenti ketika lahan kembali bisa ditanami. Produktivitas dan keberlanjutan kegiatan pertanian menjadi sasaran berikutnya.

“Target kita bukan hanya membuat lahan kembali bisa ditanami, tetapi memastikan lahan tersebut dapat kembali produktif dan memberikan manfaat bagi petani secara berkelanjutan,” pungkasnya. (*)

Baca Juga

Adat Masih Jadi Pegangan Warga Padang Pariaman, Bupati Ingatkan Hukum Pidana Adat Tak Bisa Semena-mena
Adat Masih Jadi Pegangan Warga Padang Pariaman, Bupati Ingatkan Hukum Pidana Adat Tak Bisa Semena-mena
Tanah Datar Gandeng Padang Pariaman, Kelapa dan Ikan Laut Bakal Dipasok untuk Kebutuhan Daerah
Tanah Datar Gandeng Padang Pariaman, Kelapa dan Ikan Laut Bakal Dipasok untuk Kebutuhan Daerah
Jembatan Perintis Batang Mangoi Kembali Buka Akses Warga Padang Pariaman Pascabanjir Bandang
Jembatan Perintis Batang Mangoi Kembali Buka Akses Warga Padang Pariaman Pascabanjir Bandang
73 Wali Nagari Dilantik di Padang Pariaman, Dua Perempuan Catat Sejarah Baru
73 Wali Nagari Dilantik di Padang Pariaman, Dua Perempuan Catat Sejarah Baru
Saat Bungo Lado, Jamba dan Lamang Bertemu di Puncak Mauluik Gadang 2026 Padang Pariaman
Saat Bungo Lado, Jamba dan Lamang Bertemu di Puncak Mauluik Gadang 2026 Padang Pariaman
Asap Bara dan Aroma Santan Warnai Malamang di Mauluik Gadang Padang Pariaman
Asap Bara dan Aroma Santan Warnai Malamang di Mauluik Gadang Padang Pariaman