Sumbardaily.com – Perubahan iklim kini menjadi tantangan nyata bagi dunia pertanian Indonesia. Bukan hanya berdampak terhadap lingkungan, perubahan pola cuaca juga mulai memengaruhi aktivitas petani, mulai dari perubahan curah hujan, kenaikan suhu, ancaman kekeringan, banjir, hingga gangguan ketersediaan air.
Namun, dampak perubahan iklim ternyata tidak dihadapi dengan cara yang sama oleh petani di setiap wilayah. Hasil riset Universitas Andalas (Unand) menunjukkan petani di Sumatera Barat (Sumbar) dan Sulawesi Selatan (Sulsel) memiliki strategi adaptasi yang berbeda sesuai karakteristik wilayah masing-masing.
Penelitian bertajuk “Towards Climate-Resilient Farming Systems: Evaluating Vulnerability and Adaptation Options for Agriculture in West and East Indonesia” tersebut dipimpin oleh Prof. Rudi Febriamansyah, dari Unand.
Studi ini melibatkan sejumlah peneliti, yakni Yuerlita, Ph.D. dari Unand, Dr. Sugeng Nugroho dari GWA Koto Tabang, Dr. Raza Ullah dari University of Agriculture Faisalabad, Pakistan, serta Dr. Malik Muhammad Shafi dari University of Agriculture Peshawar, Pakistan.
Riset yang menjadi bagian dari Program International Research Network-EQUITY World Class University (WCU) itu membandingkan kondisi petani padi di Kabupaten Tanah Datar, Sumbar, dan Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.
Kedua wilayah tersebut dipilih karena memiliki perbedaan karakteristik agroklimat. Tanah Datar mewakili wilayah barat Indonesia yang cenderung memiliki kondisi lebih basah, sedangkan Bulukumba menggambarkan wilayah timur Indonesia yang relatif lebih kering.
Prof. Rudi Febriamansyah menjelaskan, penelitian tersebut menemukan perubahan iklim telah memberikan tekanan langsung terhadap sistem pertanian di kedua daerah. Petani mengalami perubahan pola dan variabilitas curah hujan, perubahan suhu, kekeringan, banjir, serta persoalan ketersediaan air.
“Temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan adaptasi perubahan iklim di sektor pertanian tidak dapat disamaratakan. Setiap daerah memiliki karakteristik, tingkat kerentanan, dan kapasitas adaptasi yang berbeda, sehingga intervensi yang dilakukan juga harus berbasis pada kondisi lokal,” ujarnya dikutip Rabu (19/8/2026).
Berdasarkan hasil penelitian, petani di Sumbar lebih banyak menghadapi persoalan perubahan pola cuaca dan keterbatasan air. Sebanyak 96,2 persen petani responden di Sumbar mengaku merasakan perubahan variabilitas curah hujan. Selain itu, 95,7 persen merasakan perubahan suhu, 88 persen mengalami perubahan pola curah hujan, dan 77 persen menghadapi persoalan kekurangan air.
Sementara itu, petani di Sulawesi Selatan menghadapi persoalan banjir yang lebih tinggi dibandingkan Sumbar. Dalam penelitian tersebut, sebanyak 58,1 persen responden di Sulsel melaporkan mengalami banjir akibat perubahan kondisi iklim. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Sumbar yang berada pada 27,3 persen.
Perbedaan kondisi lingkungan tersebut turut membentuk strategi adaptasi yang dipilih petani. Di Sumbar, petani lebih banyak mengandalkan pendekatan agronomis serta pengelolaan tanah untuk menjaga keberlanjutan produksi pertanian.
Strategi yang diterapkan antara lain diversifikasi tanaman yang dilakukan oleh 25,4 persen responden, rotasi tanaman sebesar 23,9 persen, serta penggunaan mulsa untuk konservasi tanah sebesar 20,6 persen.
Berbeda dengan petani di Sumbar, petani di Sulawesi Selatan menunjukkan kecenderungan lebih besar menggunakan pendekatan berbasis teknologi dan pemilihan varietas tanaman yang lebih sesuai terhadap perubahan iklim.
Dalam penelitian tersebut, sebanyak 37,6 persen petani Sulsel menggunakan varietas tahan iklim. Selain itu, 27,1 persen memilih varietas berumur pendek, 26,7 persen melakukan diversifikasi tanaman, dan 26,2 persen menerapkan sistem agroforestri.
Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa strategi menghadapi perubahan iklim dalam sektor pertanian membutuhkan pendekatan yang spesifik sesuai kondisi wilayah. Adaptasi yang berhasil diterapkan di satu daerah belum tentu efektif jika diterapkan di wilayah lain dengan karakteristik agroklimat berbeda.
Melalui penelitian tersebut, Unand menekankan pentingnya penyusunan kebijakan pertanian yang mempertimbangkan tingkat kerentanan serta kemampuan adaptasi petani di setiap daerah. Dengan pendekatan berbasis lokal, petani diharapkan mampu menjaga produktivitas pertanian di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin nyata. (*)
















