Sumbardaily.com, Padang – Citra satelit Maxar menunjukkan adanya jejak pembalakan hutan yang terhubung langsung dengan temuan kayu gelondongan pascabencana galodo atau banjir bandang di Kota Padang. Analisis terbaru Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumatera Barat (Sumbar) menunjukkan bahwa aktivitas penebangan kayu yang terekam di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Aia Dingin bukan fenomena tumbang alami sebagaimana dinyatakan pemerintah.
Temuan ini disampaikan berdasarkan rangkaian telaah spasial dari citra Maxar periode Juni 2021 hingga Juli 2025. Ketua Divisi Penguatan Kelembagaan dan Hukum Lingkungan Walhi Sumbar, Tommy Adam, menegaskan bahwa pola pembukaan lahan, jalan logging, dan tumpukan kayu yang terlihat dalam citra satelit membentuk bukti kuat adanya aktivitas pembalakan di wilayah tangkapan air utama Kota Padang.
“Pernyataan pemerintah yang menyebut kayu gelondongan hanya berasal dari pohon tumbang alami tidak sesuai dengan bukti visual yang terekam sebelum dan sesudah bencana,” ujar Tommy dikutip Selasa (2/12/2025).
Penebangan Tepat di Hulu DAS Aia Dingin
Hasil telaah spasial memperlihatkan deretan titik pembukaan lahan yang berada di punggungan hulu DAS Aia Dingin. Dari wilayah inilah aliran utama mengarah ke Pantai Air Tawar—lokasi yang kemudian dipenuhi kayu gelondongan setelah galodo terjadi.
Pola aliran hulu–hilir hingga muara menunjukkan keterhubungan langsung antara lokasi penebangan dan volume kayu yang dihanyutkan arus ketika hujan ekstrem mengguyur kawasan tersebut. Jarak ruang antar titik penebangan dan jejak kayu di pantai memperkuat analisis bahwa material yang terbawa bukan berasal dari pohon roboh secara alami, melainkan kayu tebangan.
Overlay Peta Kawasan Hutan: Ada di SM Bukit Barisan, Hutan Lindung, dan APL
Untuk memastikan fungsi dan status kawasan, Walhi menggabungkan citra Maxar dengan Peta Kawasan Hutan Sumbar. Overlay tersebut menegaskan beberapa temuan kunci. Sejumlah titik penebangan berada di Suaka Margasatwa Bukit Barisan, kawasan konservasi yang semestinya terlindungi.
Beberapa titik lainnya teridentifikasi berada di Hutan Lindung. Sisanya berada pada APL, namun sangat dekat dengan batas kawasan konservasi sehingga berfungsi sebagai pintu masuk aktivitas pembalakan.
Terlihat jelas adanya jalan logging yang memotong kawasan konservasi dan hutan lindung, menunjukkan bahwa akses dibuka dengan sengaja, bukan akibat bencana.
Bukti “Before Disaster”: Kayu dan Jalan Angkut Sebelum Galodo
Citra satelit Maxar periode 2021–2025 memperlihatkan keberadaan tumpukan kayu yang ditata menyerupai area penyimpanan (stockpile), jalan baru yang membelah hutan, dan area terbuka yang meluas hingga ratusan hektar. Perubahan pola penutupan lahan yang terekam selama empat tahun menunjukkan bahwa kerusakan tersebut tidak mungkin terjadi secara alamiah.
Indikasi ini sekaligus menegaskan bahwa kayu gelondongan yang menghantam rumah warga, fasilitas umum, dan permukiman pada peristiwa galodo bukanlah kayu yang tumbang karena cuaca ekstrem, melainkan kayu hasil tebangan yang sudah lebih dahulu disiapkan.
Citra 27 Juli 2025: Aktivitas Penebangan Masih Berlangsung
Pada perekaman terbaru Maxar tanggal 27 Juli 2025, Walhi menemukan puluhan titik penebangan aktif di sepanjang punggungan hulu DAS Aia Dingin. Citra tersebut menampilkan tumpukan kayu yang siap diangkut, dan pembukaan akses logging baru.
Selain itu kerusakan kawasan konservasi dan hutan lindung yang semakin meluas, areal pembalakan ditaksir mencapai ratusan hektar, meninggalkan bentang hutan kritis yang tidak lagi mampu menahan limpahan air saat curah hujan tinggi terjadi.
Kayu Hanyut: Alur DAS sebagai Jalur Angkut Alami
Ketika hujan ekstrem mengguyur wilayah tersebut, jalan logging yang terbuka berubah menjadi saluran percepatan aliran. Kayu yang disimpan di tepi alur hanyut tanpa hambatan, mengikuti jalur sungai dari hulu menuju hilir. Material itu menggulung dan menumpuk di muara serta pantai, sesuai pola aliran DAS yang teridentifikasi dalam citra.
Walhi menegaskan bahwa citra satelit dengan resolusi tinggi merupakan bukti independen yang tidak bisa dimanipulasi. Rekaman sebelum dan sesudah bencana memberikan jejak ruang yang jelas dari puncak bukit hingga ke pantai.
Walhi Mendesak Pertanggungjawaban Pemerintah
Menindaklanjuti temuan tersebut, Walhi Sumbar mendesak pemerintah mengambil langkah konkret yaitu mengakui kesalahan kepada masyarakat Sumbar serta daerah lain yang terdampak bencana ekologis akibat salah kelola sumber daya alam.
Kemudian melakukan pertobatan ekologis, menghentikan kebijakan yang merusak lingkungan, dan memastikan tidak mengulang model tata kelola yang sama.
Selain itu, melakukan investigasi hukum terhadap seluruh titik penebangan dalam kawasan hutan, terutama di SM Bukit Barisan dan Hutan Lindung, serta menelusuri aktor utama pembalakan.
Tommy Adam menegaskan bahwa temuan ini harus menjadi dasar langkah korektif serius. “Kami punya bukti lengkap dari hulu hingga pantai. Pemerintah tidak bisa lagi menutup mata terhadap fakta pembalakan yang berkontribusi pada galodo,” ujarnya. (red)
















