Sumbardaily.com – Banjir bandang atau galodo yang menerjang Arosuka, Kabupaten Solok, pada Senin malam, 21 September 2026, tidak hanya menyisakan material lumpur, batu, kayu, dan kerusakan di kawasan hilir. Rekaman drone dari kawasan hulu Gunung Talang menunjukkan adanya jejak longsoran yang diduga memiliki koneksi langsung dengan jaringan drainase menuju Arosuka.
Dosen Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Universitas Andalas (Unand), Prof. Dian Fianti, menjelaskan bahwa untuk memahami proses galodo, perhatian tidak cukup hanya diarahkan ke kawasan terdampak. Jejak prosesnya perlu ditelusuri hingga lereng atas Gunung Talang dan hulu Batang Laso.
Saat kejadian, hujan dengan intensitas tinggi mencapai 94 milimeter per hari mengguyur Kabupaten Solok sejak sore. Berdasarkan laporan BPBD dan kepolisian, debit aliran kemudian meningkat dan longsoran terjadi di kawasan perbukitan sekitar hulu Batang Laso.
Material longsoran tersebut selanjutnya terbawa menuju Arosuka hingga mencapai Kompleks Perkantoran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Solok.
Beberapa hari setelah kejadian, rekaman drone dari kawasan hulu memperlihatkan bagian lain dari rangkaian bencana. Di tengah kawasan hutan yang secara visual masih tampak rapat, terlihat dua jalur tanah terbuka berwarna merah kecokelatan.
Salah satu jalur tersebut berukuran jauh lebih besar dan memanjang dari dekat punggungan menuju bagian bawah lereng. Di sampingnya terdapat scar atau jejak longsoran yang lebih sempit. Kedua jalur itu kemudian bertemu dan membentuk pola menyerupai huruf Y sebelum memasuki sebuah lembah sempit.
Menurut Dian, bentuk tersebut menjadi petunjuk penting karena menunjukkan material yang terlepas dari lereng tidak berhenti begitu saja di kaki longsoran.
"Scar tersebut mempunyai hubungan langsung dengan alur drainase. Tanah, batuan, pohon, dan bahan organik yang runtuh dapat segera memasuki saluran air dan selanjutnya bergerak menuju tempat yang lebih rendah," jelas Dian, dilansir dari Kepakaran Unand, Senin (28/9/2026).
Pada bagian lain rekaman udara, jejak berwarna cokelat kemerahan masih terlihat mengikuti dasar lembah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa lembah tidak hanya menjadi tempat mengalirnya air, tetapi juga berfungsi sebagai koridor pengangkutan sedimen.
Dalam proses itu, longsoran di lereng dapat berkembang menjadi proses yang lebih besar. Longsoran menyediakan material, sedangkan air dan topografi lembah menyediakan media sekaligus energi untuk mengangkut material menuju kawasan hilir.
Dicocokkan dengan Google Earth
Rekaman drone tersebut kemudian dibandingkan dengan bentang alam Gunung Talang menggunakan Google Earth. Dari pencocokan awal berdasarkan morfologi, salah satu lokasi yang sesuai berada di sekitar 0°58′8,80″ LS dan 100°39′14,05″ BT.
Namun, Dian menegaskan bahwa koordinat tersebut belum dapat disebut sebagai titik awal longsor yang telah terverifikasi.
"Untuk saat ini, posisinya lebih tepat diperlakukan sebagai kandidat kawasan sumber, karena penetapan titik yang pasti masih memerlukan pemeriksaan lapangan atau citra pascabencana beresolusi tinggi," katanya.
Hal yang dinilai lebih penting daripada satu titik koordinat adalah konfigurasi medan di kawasan tersebut.
Tampilan Google Earth memperlihatkan bentang alam yang teriris kuat oleh punggungan dan lembah. Alur-alur kecil yang berasal dari bagian atas lereng terlihat berkonvergensi menuju saluran yang semakin jelas ke arah bawah.
Sistem lembah tersebut kemudian keluar dari relief pegunungan menuju kawasan yang lebih landai dan lebih intensif dimanfaatkan manusia. Pola topografi itu dinilai konsisten dengan morfologi yang terlihat dalam rekaman drone.
DEM Ungkap Relief Gunung Talang
Untuk membaca kondisi topografi secara lebih rinci, analisis juga menggunakan Digital Elevation Model (DEM) Gunung Talang.
DEM merupakan representasi ketinggian permukaan bumi secara digital. Dari data elevasi tersebut dapat diturunkan informasi mengenai kemiringan lereng, arah aliran, akumulasi aliran, hingga jaringan drainase.
Dengan demikian, DEM dapat digunakan untuk membaca bagaimana gravitasi dan relief mengarahkan perjalanan air serta material dari kawasan hulu menuju hilir.
DEM Gunung Talang yang dianalisis memiliki resolusi spasial sekitar 8 meter dan mencakup kawasan mulai dari puncak Gunung Talang hingga Arosuka. Rentang elevasinya sekitar 148 hingga 2.585 meter di atas permukaan laut (mdpl), yang menunjukkan besarnya relief kawasan tersebut.
Analisis awal memperlihatkan lereng Gunung Talang tersusun atas punggungan-punggungan curam yang dipisahkan lembah sempit. Air dari lereng bagian atas akan terkonsentrasi ke dalam lembah tersebut dan selanjutnya bergabung dengan jaringan drainase yang lebih besar.
Kondisi tersebut menjadi penting ketika sebuah longsoran memiliki koneksi langsung dengan saluran air.
Berdasarkan interpretasi awal terhadap citra drone, Google Earth, dan topografi DEM, zona inisiasi longsoran diperkirakan berada di lereng atas Gunung Talang, kemungkinan pada elevasi sekitar 2.000 mdpl.
Namun, elevasi tersebut belum menjadi angka final. Posisi pastinya masih perlu dikonfirmasi melalui pencocokan lokasi scar dengan DEM.
Jika material longsor jatuh di lereng yang tidak terhubung dengan lembah, sebagian material dapat berhenti setelah berpindah beberapa ratus meter. Kondisinya berbeda ketika kaki longsoran langsung bermuara ke alur drainase.
Material longsoran dapat bercampur dengan air hujan dan aliran permukaan. Campuran air, tanah, pasir, batu, dan kayu tersebut kemudian bergerak melalui lembah yang curam.
Selama perjalanan, erosi pada dasar dan tebing saluran juga dapat menambahkan material baru. Karena itu, volume material yang tiba di kawasan hilir tidak harus sama dengan volume longsoran awal di bagian hulu.
Hutan Tidak Menjadi Satu-satunya Penjelasan
Hal lain yang menarik perhatian dari rekaman drone adalah lokasi scar besar yang berada di tengah kawasan yang secara visual masih berhutan rapat.
Kondisi tersebut membuat galodo Arosuka tidak cukup dijelaskan hanya sebagai akibat hilangnya hutan. Vegetasi memang memiliki peran dalam stabilitas lereng dan tata air daerah aliran sungai (DAS), tetapi faktor tersebut merupakan salah satu bagian dari sistem yang lebih kompleks.
Gunung api seperti Gunung Talang terbentuk dari material vulkanik yang berasal dari berbagai periode erupsi dan proses pelapukan. Abu, lapili, endapan piroklastik, serta material vulkanik lainnya dapat membentuk lapisan tanah dengan sifat fisik yang berbeda.
Ketika hujan turun dengan intensitas sangat tinggi, air dapat meresap ke dalam tanah. Apabila terdapat lapisan yang lebih sulit meloloskan air, tekanan air pori dapat meningkat di atas lapisan tersebut.
Pada kondisi itu, massa tanah menjadi lebih berat, sedangkan kekuatan gesernya menurun. Pada lereng yang cukup curam, kondisi tersebut dapat berujung pada kegagalan lereng.
Akar tumbuhan memang dapat memperkuat tanah di dekat permukaan. Namun, keberadaan hutan tidak membuat lereng sepenuhnya kebal terhadap longsor.
"Galodo Arosuka perlu dipahami melalui interaksi antara hujan, kemiringan lereng, material geologi-vulkanik, sifat tanah, kondisi hidrologi, konfigurasi lembah, dan penggunaan lahan dalam satu sistem DAS," ujar Dian.
Ia menambahkan, besarnya kontribusi masing-masing faktor tersebut belum dapat ditentukan tanpa analisis lanjutan.
Hipotesis Rangkaian Galodo
Dari bukti yang tersedia saat ini, terdapat rangkaian proses yang dinilai layak untuk diuji lebih lanjut, yakni hujan intensif yang menyebabkan kejenuhan material lereng, kemudian terjadi longsor di lereng atas.
Material longsoran selanjutnya masuk ke alur drainase, bercampur dengan air, bergerak melalui lembah sempit, serta mengalami erosi dan mengangkut material tambahan sebelum mencapai Batang Laso dan keluar menuju bentang alam yang lebih landai di Arosuka.
Dian menegaskan bahwa rangkaian tersebut masih berupa hipotesis geomorfologi berdasarkan interpretasi awal.
"Rangkaian tersebut masih merupakan hipotesis geomorfologi berdasarkan interpretasi awal, bukan kesimpulan final tentang mekanisme galodo," tegasnya.
Ada pula kemungkinan lain yang masih belum dapat dipastikan, yakni material longsoran dan kayu sempat membendung saluran secara alami. Kondisi tersebut dapat menahan air dan sedimen untuk sementara sebelum bendungan alami tersebut jebol.
Mekanisme tersebut dikenal sebagai landslide dam–breach dan dapat menghasilkan pelepasan air serta material secara mendadak. Namun, rekaman yang tersedia saat ini belum cukup untuk memastikan bahwa mekanisme tersebut memang terjadi di Arosuka.
Citra Sentinel-2 Terkendala Awan
Penginderaan jauh menggunakan satelit juga dimanfaatkan untuk menelusuri kondisi kawasan sebelum dan sesudah galodo.
Citra Sentinel-2 pada 15 Agustus 2026, sekitar lima minggu sebelum kejadian, memperlihatkan kondisi tutupan lahan pra-galodo di lereng Gunung Talang hingga kawasan Arosuka. Citra tersebut dapat digunakan sebagai citra referensi atau baseline.
Namun, citra yang lebih dekat dengan waktu kejadian, yakni 19 September 2026, sebagian tertutup awan. Kondisi serupa terjadi pada citra 24 September 2026 atau tiga hari setelah galodo.
Akibat tertutup awan, jejak longsoran dan perubahan koridor aliran pascabencana belum dapat dipetakan secara memadai menggunakan citra tersebut.
Kondisi ini membatasi analisis perubahan berbasis citra optik Sentinel-2. Karena itu, interpretasi sementara perlu memadukan citra pra-kejadian, DEM, Google Earth, serta rekaman drone pascabencana.
Keterbatasan tersebut merupakan kondisi yang lazim dalam penginderaan jauh optik di wilayah tropis. Satelit dapat merekam suatu lokasi pada waktu yang tepat, tetapi awan dapat membuat permukaan bumi tidak terlihat.
Dalam kasus Arosuka, keterbatasan Sentinel-2 sekaligus memperlihatkan pentingnya menggabungkan berbagai sumber data. Rekaman drone dapat memperlihatkan detail scar dan jalur material, Google Earth memberikan konteks bentang alam, sedangkan DEM menjelaskan relief serta konektivitas topografi dari hulu hingga hilir.
Pemetaan Bahaya Perlu Melihat Hulu hingga Hilir
Galodo Arosuka pada akhirnya menunjukkan bahwa kawasan yang terdampak tidak selalu menjadi lokasi dimulainya proses bencana.
Jalan, jembatan, permukiman, dan perkantoran berada di kawasan hilir, sementara sumber sedimen dapat berada beberapa kilometer di atasnya.
Karena itu, pemetaan bahaya tidak semestinya berhenti pada batas wilayah yang pernah tergenang. Analisis juga perlu mencakup lokasi lereng yang berpotensi gagal, hubungan antara longsoran dengan jaringan sungai, kemiringan jalur transportasi, bagian lembah yang menyempit, serta lokasi ketika aliran keluar dari kawasan pegunungan menuju wilayah yang dihuni manusia.
Dalam geomorfologi, hubungan antara sumber material, jalur pengangkutan, dan lokasi pengendapannya dikenal sebagai sediment connectivity atau konektivitas sedimen.
Rekaman dari kawasan hulu Gunung Talang memperlihatkan konsep tersebut. Sebuah scar merah yang tampak terbatas di tengah hutan dapat memiliki konsekuensi jauh di kawasan hilir ketika terhubung langsung dengan lembah curam dan jaringan sungai yang mengarah ke kawasan berpenduduk.
Dengan demikian, memahami galodo Arosuka tidak cukup hanya dengan melihat material yang menumpuk di kawasan terdampak. Jejak dari udara menunjukkan perlunya membaca keseluruhan sistem, mulai dari lereng tempat material terlepas, jalur lembah yang mengangkutnya, hingga kawasan hilir tempat material tersebut akhirnya tiba. (*)
















