Sumbardaily.com – Ketahanan adat dan matriarki Minangkabau tidak semestinya dipandang sebagai kebudayaan yang stagnan atau sekadar bertahan karena campur tangan kolonial Belanda. Di balik daya tahan tersebut terdapat kemampuan masyarakat lokal beradaptasi menghadapi perubahan zaman dan menyelesaikan persoalan melalui mekanisme budaya mereka sendiri.
Pandangan itu menjadi salah satu warisan intelektual Jeffrey Alan Hadler, Indonesianis dan Minangkabauis yang menempati posisi istimewa dalam perkembangan kajian Indonesia dan Minangkabau modern.
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas (Unand), Donny Syofyan, mengulas pemikiran Hadler melalui memoar Yusmarni Djalius berjudul Places Like Home: Reminiscing About Jeffrey Hadler’s Historical Trajectory as an Indonesianist and Minangkabauist yang dipublikasikan Cornell University Press dalam jurnal Indonesia pada 2026.
Tulisan tersebut bukan sekadar elegi perpisahan. Memoar itu memadukan pengalaman persahabatan personal, komitmen etis Hadler sebagai pembimbing akademik, sekaligus rekonstruksi kritis terhadap historiografi Minangkabau.
Menurut Donny, perjalanan intelektual Hadler memperlihatkan bagaimana kedekatan manusiawi dengan masyarakat yang diteliti justru dapat menghasilkan pembacaan sejarah yang tajam, dekolonial, dan mampu meruntuhkan prasangka lama para sarjana terdahulu.
“Kedekatan manusiawi yang tulus mampu melahirkan pembacaan sejarah yang tajam, dekolonial, dan meruntuhkan prasangka usang sarjana terdahulu,” ujar Donny, dilansir dari Kepakaran Unand, Rabu (9/9/2026).
Kabar Duka di Bandara San Francisco
Memoar tersebut dibuka dengan suasana muram di Bandara Internasional San Francisco pada 11 Januari 2017.
Saat itu, Yusmarni Djalius baru menyelesaikan penerbangan lintas benua untuk menuntaskan babak akhir disertasi doktoralnya di University of California, Berkeley.
Musim dingin menyambut kedatangannya. Namun, kabar duka justru datang di depan konter imigrasi.
Seorang rekan sejawat menyampaikan bahwa sang promotor, guru, sekaligus sahabat karibnya, Profesor Jeffrey Alan Hadler, telah mengembuskan napas terakhir.
Kabar tersebut menghantam Yusmarni. Beberapa jam sebelum pesawat lepas landas, keduanya masih bertukar pesan singkat. Komunikasi hangat tersebut kemudian terputus untuk selamanya.
Kepergian Hadler pada usia produktif meninggalkan ruang besar bagi dunia akademik sekaligus memantik perenungan panjang Yusmarni mengenai perjalanan hidup sang mentor.
Hubungan intelektual keduanya bermula lebih dari dua dekade sebelumnya di Ranah Minang.
Pada 1994, mendiang Profesor Khaidir Anwar mempertemukan Iman, panggilan akrab Yusmarni, dengan Jeff di kampus Fakultas Sastra Universitas Andalas, Padang.
Saat itu, sebuah tayangan berita televisi mengenai eskalasi konflik Palestina-Israel menjadi awal percakapan keduanya.
Diskusi spontan di depan layar televisi tersebut mencairkan kecanggungan dua anak muda dari belahan dunia berbeda. Dari pertemuan itu kemudian lahir persahabatan lintas samudra yang bertahan selama puluhan tahun.
Lingkaran pertemanan tersebut semakin hidup ketika Kumi Sawada, mahasiswi asal Jepang, datang ke Padang untuk mendalami bahasa Indonesia.
Di bawah pohon jambu milik Dekan Prof. Aziz Saleh, ketiganya sering menghabiskan sore dengan berbincang mengenai kebudayaan dan menertawakan getirnya atmosfer politik Orde Baru yang represif.
Dari Ranah Minang pula hubungan Jeff dan Kumi berkembang hingga keduanya kemudian menikah di Amerika Serikat. Kisah tersebut seperti pepatah Minang, asam di gunuang, garam di lauik basuo dalam balango.
Dari Jakarta hingga Rumah Gadang
Persentuhan Hadler dengan Minangkabau berakar dari pengalaman pertukaran pelajar AFS di Jakarta pada 1985.
Pada masa itu, cerita para perantau Minang pascatrauma PRRI serta roman terbitan Balai Pustaka sempat membentuk prasangka dalam dirinya bahwa kultur Minangkabau cenderung restriktif dan meminggirkan posisi kaum lelaki.
Atas anjuran sejarawan Taufik Abdullah, Jeff awalnya hanya berencana menetap selama sebulan di Padang. Ia hendak meneliti empat figur elite nasionalis.
Namun, realitas masyarakat Sumatra Barat mengubah seluruh rencana tersebut.
Jeff akhirnya memutuskan tinggal hampir dua tahun. Ia membelokkan fokus risetnya dengan menyelami sejarah domestik dan ketahanan matriarki langsung dari dalam bilik rumah gadang.
Ketekunan tersebut melahirkan karya seminal Muslims and Matriarchs: Cultural Resilience in Indonesia through Jihad and Colonialism pada 2008.
Buku itu menunjukkan daya tahan matriarki Minangkabau melewati berbagai guncangan sejarah, mulai dari Perang Padri, kolonialisme Hindia Belanda, hingga represi Orde Baru.
Karya tersebut kemudian memperoleh penghargaan bergengsi Harry J. Benda Prize pada 2011.
“Bagi Hadler, ketahanan (resilience) matriarki Minangkabau bukanlah tanda kejumudan atau penolakan kolot terhadap arus modernisasi, melainkan bukti elastisitas kebudayaan dalam menavigasi benturan zaman,” kata Donny.
Menolak Narasi Kolonial
Salah satu kontribusi penting Hadler terhadap historiografi Indonesia adalah upayanya mendekonstruksi narasi kolonial mengenai keberlangsungan matriarki Minangkabau.
Historiografi konvensional yang berakar dari perspektif kolonial Belanda selama ini mendalilkan keberlangsungan matriarki Minangkabau sebagai hasil rekayasa dan proteksi politik Batavia.
Dalam narasi Dutch-centric, militer kolonial disebut sengaja melindungi kelompok adat atau Kaum Tua dari serbuan kelompok puritan Padri atau Kaum Muda untuk memecah kekuatan pribumi.
Hadler meruntuhkan asumsi tersebut melalui riset lapangan yang tekun dan pembacaan kritis terhadap manuskrip sezaman, termasuk naskah autobiografi pribadi Tuanku Imam Bonjol.
“Ia menegaskan bahwa bertahannya sistem kekerabatan matrilineal bukanlah akibat campur tangan militer penjajah,” ujar Donny.
Menurut Hadler, kedua pihak yang berseteru, yakni kaum reformis Islam dan pemangku adat, memiliki kesadaran kosmologis serta mekanisme kultural mandiri untuk merumuskan resolusi damai.
Temuan tersebut mengembalikan agensi historis dan kedaulatan masyarakat lokal dalam menyelesaikan sengketa internal tanpa bergantung pada belas kasihan kolonial.
Dengan perspektif tersebut, masyarakat Minangkabau tidak ditempatkan sebagai pihak pasif dalam sejarah. Mereka memiliki kemampuan sendiri untuk merespons konflik, beradaptasi, dan menentukan arah kebudayaannya.
Menjadi "Jupri Datuk Tan Cilako"
Riset Hadler berlangsung bersamaan dengan berkembangnya etos mambangkik batang tarandam, yakni kebangkitan kesadaran kaum terpelajar Minang.
Ia bergerak dalam dua ruang berbeda.
Pertama, ruang akademik formal di Unand bersama tokoh seperti Mestika Zed dan para Indonesianis dunia.
Kedua, ruang gerilya kebudayaan di Yayasan Genta Budaya.
Di yayasan tersebut, Hadler bertukar kritik sosial dengan para seniman dan aktivis muda pro-demokrasi sebelum Reformasi. Aktivitas itu bahkan kerap dilakukan sambil bermain biliar.
Bagi masyarakat lokal, Jeff bukan sekadar peneliti asing yang menjaga jarak elitis.
Ia fasih bertutur menggunakan bahasa gaul Jakarta maupun kosakata Minang. Ia menikmati rendang pedas hingga gulai jengkol balado dan mahir menggunakan cemeeh, seni sindiran jenaka khas Minang.
Kedekatan itu membuatnya dipanggil "Jupri", lengkap dengan gelar adat bernada humor, "Datuk Tan Cilako".
Identitas tersebut tidak membuatnya kehilangan daya kritis. Justru kedekatan tersebut membuat Hadler mampu memahami masyarakat dari dalam.
“Peleburan dirinya ke dalam denyut kebudayaan Minangkabau justru mempertajam pisau analisis sejarahnya,” kata Donny.
Dalam metodologi penelitian sosial, kedekatan personal yang terlalu intim sering dikhawatirkan mengurangi objektivitas ilmiah. Namun, Hadler menunjukkan kemungkinan sebaliknya.
Penguasaannya terhadap bahasa gaul hingga teks kuno meruntuhkan sekat linguistik antara peneliti dan masyarakat yang diteliti.
Kemahirannya mempraktikkan cemeeh juga menjadi instrumen dialektika yang efektif.
Masyarakat Minang dikenal keras mengkritik diri sendiri, tetapi menolak dihakimi pihak luar. Karena memahami psikologi setempat dan memiliki selera humor cerdas, kritik sosial Hadler dapat diterima secara hangat.
Sebagai "Jupri Datuk Tan Cilako", ia memosisikan karib lokal sebagai lawan bacakak, atau mitra tanding dialektika, untuk memantik pemikiran baru.
Hal tersebut selaras dengan falsafah Minangkabau, basilang kayu dalam tungku, disinan api mako ka nyalo.
Jangan Melihat dari "Atas Geladak Kapal"
Hadler juga memberi arahan tegas kepada para peneliti agar tidak memandang realitas masyarakat dari kejauhan.
Saat melakukan riset lapangan di Semenanjung Melayu, ia berpesan agar sejarawan tidak melihat realitas hanya "dari atas geladak kapal".
“Sejarawan tak boleh memandang realitas ‘dari atas geladak kapal’, melainkan wajib menyelami naskah serta tradisi tutur lokal,” kata Donny.
Pandangan tersebut selaras dengan kegelisahan sejarawan Jacob van Leur dan konsep autonomous history yang diusung John Smail.
Pendekatan tersebut menuntut sejarah Asia Tenggara dipahami dari daratan lokal, bukan semata-mata melalui sudut pandang armada asing yang singgah di pelabuhan.
Hadler juga menyoroti ketimpangan epistemologis. Karya sarjana pribumi atau autochthonous intelligentsia dan ribuan naskah Jawi atau Arab-Melayu kerap diabaikan sarjana global akibat kendala bahasa.
Karena itu, Hadler mewajibkan peneliti menyelami sumber primer vernakular secara intensif.
“Arsip lokal menyimpan kebenaran mikro dan kejutan sejarah yang mustahil ditemukan dalam laporan resmi pemerintah kolonial berbahasa Eropa,” ujar Donny.
Ketahanan Bukan Stagnasi
Hadler memandang ketahanan matriarki Minangkabau bukan sebagai bentuk kejumudan budaya atau penolakan terhadap modernisasi.
Sebaliknya, ketahanan tersebut merupakan bukti elastisitas kebudayaan dalam menavigasi berbagai benturan zaman.
Struktur matrilineal mampu melewati badai puritanisme Padri, penetrasi birokrasi kolonial, hingga penyeragaman administratif pada era Orde Baru.
Ketangguhan tersebut muncul melalui kemampuan memadukan adat dengan ajaran Islam.
Pandangan itu terlihat dalam sikap Hadler terhadap Kongres Kebudayaan Minangkabau 2010 di Jakarta.
Dalam kongres tersebut, kalangan perantau berupaya merombak tata adat agar tunduk secara kaku pada teks keagamaan formal.
Hadler memandang manuver elitis tersebut hanya sebagai riak permukaan yang tidak akan menggoyahkan akar budaya masyarakat nagari.
Ramalan tersebut kemudian terbukti.
Pranata rumah gadang memiliki sistem swa-adaptasi alamiah yang kokoh. Matriarki Minangkabau tetap hidup karena mampu merawat kelenturan dirinya di tengah perubahan zaman.
Jeffrey Hadler dan Keteladanan sebagai Guru
Karier akademik Hadler menanjak hingga ia dipercaya mengajar di UC Berkeley sejak 2001.
Namun, ia tidak hanya mengejar pencapaian akademik untuk dirinya sendiri.
Pada 2009, Hadler membujuk Iman melanjutkan studi doktoral ke Berkeley.
Di kampus tersebut, ia memperlihatkan keteladanan sebagai pembimbing. Ia kerap memberikan catatan motivasi dengan ejaan lama, "Badjoeang taroeih, Iman".
Ia juga mengundang mahasiswa ke rumahnya yang dipenuhi perabot antik Nusantara.
Bahkan, ia berdiri di garda depan melawan kebuntuan birokrasi kampus demi memperjuangkan hak bimbingannya.
Ketika sel kanker ganas mulai menggerogoti fisiknya menjelang akhir hayat, Hadler masih memaksakan diri menelepon pengelola administrasi universitas demi memastikan visa studi sang murid.
Sebelum meninggal dunia, ia menitipkan bimbingan Iman kepada sejarawan Peter Zinoman. Iman kemudian berhasil meraih gelar doktor pada Agustus 2019.
Salam Terakhir di Ranah Minang
Kunjungan terakhir Hadler ke Ranah Minang berlangsung pada Agustus 2014.
Dalam kunjungan tersebut, ia membawa keluarganya bermalam di rumah gadang Koto Kociak.
Ia juga menziarahi makam ayah Buya Hamka di Maninjau, menapaki jejak pendiri bangsa di Koto Gadang dan Batuhampar, serta mengenakan busana muslim untuk berdiri merapatkan saf salat Idulfitri bersama warga nagari.
Bagi Yusmarni, perjalanan hidupnya ditempa oleh dua guru agung.
Prof. Khaidir Anwar membukakan jendela menuju percaturan dunia. Sementara Jeff Hadler menuntunnya kembali membedah tanah tumpah darah secara kritis.
Hubungan guru dan murid tersebut meresapi petuah luhur Minangkabau: hutang ameh dapek dibaia, hutang budi dibao mati.
Empat Warisan Pemikiran Hadler
Dari memoar tersebut, terpancar empat gagasan pokok yang menjadi fondasi kontribusi intelektual Jeffrey Hadler terhadap historiografi Indonesia.
Pertama, dekonstruksi narasi kolonial dan pengakuan terhadap otonomi lokal. Hadler menunjukkan bahwa keberlangsungan matriarki Minangkabau tidak semata-mata merupakan hasil campur tangan kolonial.
Kedua, dinamika insider-outsider. Kedekatan Hadler dengan masyarakat Minangkabau justru mempertajam analisisnya. Bahasa, humor, tradisi, dan hubungan personal menjadi pintu untuk memahami masyarakat secara lebih mendalam.
Ketiga, mengatasi kesenjangan epistemologis dan hegemoni bahasa. Hadler mendorong peneliti membaca karya sarjana pribumi, manuskrip Jawi, serta tradisi tutur lokal yang selama ini berpotensi terabaikan karena kendala bahasa.
Keempat, ketahanan budaya sebagai kemampuan beradaptasi. Matriarki Minangkabau bukan peninggalan yang bertahan karena menolak perubahan, tetapi kebudayaan yang terus hidup karena mampu beradaptasi dengan berbagai tekanan sejarah.
Dengan demikian, Hadler tidak sekadar menulis tentang Minangkabau. Ia masuk ke dalam ruang sosial masyarakat, memahami bahasa mereka, membaca sumber mereka, menikmati makanan mereka, memahami humor mereka, dan menjadikan masyarakat lokal sebagai bagian dari proses produksi pengetahuan.
Warisan tersebut sekaligus menempatkan masyarakat lokal sebagai subjek sejarah, bukan sekadar objek yang diamati dari kejauhan.
Sejarah Minangkabau akhirnya tidak hanya berbicara mengenai apa yang dilakukan penguasa atau kolonial. Sejarah juga memperlihatkan kemampuan masyarakat lokal mempertahankan agensi, merumuskan jalan keluar atas konflik, dan menjaga kebudayaan di tengah pusaran perubahan zaman. (*)
















