Neuroparenting Ubah Peran Ganda Perempuan Jadi Kekuatan Ekonomi Bangsa

Neuroparenting Ubah Peran Ganda Perempuan Jadi Kekuatan Ekonomi Bangsa

Dosen FEB Unand Delfia Tanjung Sari, Ph.D (Foto: Unand)

Sumbardaily.com – Peran ganda perempuan selama ini kerap dipandang sebagai beban karena perempuan harus menjalankan tanggung jawab di ranah domestik sekaligus berkontribusi di ruang publik. Namun, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas (Unand), Delfia Tanjung Sari, Ph. D, melihat kondisi tersebut dari perspektif berbeda.

Menurut Delfia Tanjung Sari, peran ganda perempuan justru dapat menjadi kekuatan ekonomi yang terpendam apabila didukung ekosistem keluarga yang tepat. Salah satu pendekatan yang dinilai dapat membantu mewujudkan hal tersebut adalah neuroparenting.

Perubahan peran perempuan di ranah ekonomi sebenarnya telah terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS). Tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan telah menembus 56 persen, dengan 32 persen di antaranya berstatus sebagai pengusaha.

Angka tersebut menunjukkan perempuan tidak lagi hanya menjadi pelengkap dalam perekonomian keluarga. Perempuan telah bertransformasi menjadi salah satu penggerak roda ekonomi keluarga sekaligus bangsa.

"Perempuan Indonesia sedang melangkah di atas panggung sejarah yang gemilang," demikian gambaran yang disampaikan dalam materi Delfia mengenai perubahan posisi perempuan dalam perekonomian, dikutip Rabu (2/9/2026).

Namun, peningkatan partisipasi perempuan di ruang publik belum sepenuhnya menghapus persoalan lama. Perempuan masih dibayangi stereotip sebagai pengurus utama rumah tangga meskipun pada saat yang sama mereka telah berkontribusi di ranah publik.

Kondisi tersebut melahirkan dilema peran ganda. Perempuan harus membagi energi antara tuntutan karier dan tanggung jawab domestik. Situasi ini seperti "ayunan pendulum" yang terus bergerak antara pekerjaan dan keluarga.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah peran ganda tersebut akan terus dilihat sebagai beban atau justru ditempatkan sebagai investasi strategis untuk membangun sumber daya manusia (SDM) unggul.

Delfia menilai, peran ganda perempuan bukan sebuah kutukan. Sebaliknya, kondisi tersebut merupakan kekuatan ekonomi yang dapat dioptimalkan. Untuk mewujudkannya, menurut dia, masyarakat tidak cukup hanya berbicara mengenai kesetaraan, tetapi membutuhkan pendekatan yang mampu membangun keluarga sekaligus mendukung produktivitas.

Salah satu pendekatan tersebut adalah neuroparenting.

Rumah Tangga sebagai Unit Produksi

Dalam materi yang disampaikan Delfia, kerangka New Home Economics dari ekonom Gary Becker menjadi salah satu landasan untuk melihat keluarga dari perspektif ekonomi.

Kerangka tersebut memandang rumah tangga sebagai unit produksi. Setiap keputusan mengenai alokasi waktu dan sumber daya di dalam keluarga memiliki nilai ekonomi.

Dalam konteks tersebut, ketika seorang istri bekerja, kontribusinya terhadap pendapatan keluarga seharusnya dipandang sebagai bagian dari produktivitas rumah tangga. Namun, efisiensi rumah tangga sebagai unit produksi dapat terganggu ketika terjadi konflik internal akibat kesalahpahaman antara suami dan istri.

Di sinilah neuroparenting dinilai memiliki peran. Tiga pilar neuroparenting ala dr. Aisah Dahlan, yakni memahami perbedaan otak, membaca kepribadian untuk membangun sinergi, dan mengisi tangki cinta, disebut dapat membantu mengubah energi konflik menjadi energi produktivitas.

Pilar pertama adalah memahami perbedaan otak.

Pemahaman mengenai perbedaan cara kerja otak laki-laki dan perempuan dapat membantu pasangan memahami respons masing-masing. Suami yang cenderung fokus pada solusi analitis dapat dianggap dingin oleh istri. Sebaliknya, kebutuhan istri terhadap koneksi emosional dapat dinilai terlalu emosional oleh suami.

Padahal, perbedaan tersebut tidak harus dilihat sebagai kekurangan. Ketika pasangan memahami bahwa perbedaan merupakan bagian dari desain, konflik dapat diredam.

Energi yang sebelumnya terkuras untuk pertengkaran dapat dialihkan untuk pengasuhan anak maupun pengembangan karier. Dalam perspektif tersebut, pemahaman di dalam keluarga turut menjadi bagian dari peningkatan modal manusia atau human capital dalam skala rumah tangga.

Pilar kedua adalah membaca kepribadian untuk membangun sinergi.

Dalam teori ekonomi gender, ketimpangan dapat muncul akibat asimetri dalam alokasi waktu yang tidak adil. Namun, keadilan dalam rumah tangga tidak selalu berarti membagi seluruh pekerjaan secara sama rata 50:50.

Pembagian yang adil dapat dilakukan berdasarkan kekuatan masing-masing anggota keluarga.

Pemahaman terhadap kepribadian memungkinkan pasangan menyusun pembagian kerja domestik secara lebih cerdas. Suami yang memiliki kepribadian analitis dan tegas, misalnya, dapat berperan dalam perencanaan keuangan. Sementara istri yang intuitif dan komunikatif dapat mengambil peran dalam hubungan sosial dan pendidikan anak.

Pembagian tersebut tidak didasarkan pada jenis kelamin, tetapi pada kompetensi dan karakter masing-masing.

Konsep itu menciptakan apa yang disebut sebagai "efisiensi Pareto" dalam rumah tangga. Setiap anggota keluarga menjalankan tugas yang paling dikuasainya sehingga produktivitas rumah tangga secara keseluruhan dapat meningkat.

Pentingnya Mengisi Tangki Cinta

Pilar ketiga dalam neuroparenting adalah mengisi tangki cinta. Konsep Lima Bahasa Cinta atau The 5 Love Languages dari Gary Chapman menjadi salah satu fondasi yang dinilai penting dalam membangun hubungan keluarga.

Dalam perspektif ekonomi, ketika "tangki cinta" setiap anggota keluarga terisi, tingkat stres dapat berkurang dan produktivitas meningkat.

Kondisi tersebut juga berpengaruh terhadap perkembangan anak. Anak yang tumbuh dengan kasih sayang yang tepat diharapkan dapat berkembang menjadi SDM yang sehat secara mental dan emosional.

Dengan demikian, pola pengasuhan bukan hanya persoalan moral atau hubungan keluarga. Pengasuhan juga dipandang sebagai strategi jangka panjang untuk menyiapkan generasi penerus yang tangguh.

Neuroparenting dan Agenda SDGs

Pendekatan neuroparenting juga dikaitkan dengan implementasi Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).

SDG 5 mengenai Kesetaraan Gender dapat diwujudkan ketika suami terlibat aktif dalam pengasuhan anak tanpa merasa identitasnya terancam. Sementara SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dapat tercapai ketika perempuan memperoleh dukungan untuk berwirausaha tanpa dibebani rasa bersalah terhadap anak.

Adapun SDG 4 tentang pendidikan berkualitas dapat diperkuat ketika anak memperoleh pola asuh yang berbasis ilmu pengetahuan sekaligus kasih sayang.

Gagasan tersebut telah mendapat ruang dalam kegiatan Seminar "70 Tahun Mencerdaskan Bangsa" yang menghadirkan dr. Aisah Dahlan di Auditorium Universitas Andalas.

Kehadiran kegiatan tersebut menjadi penanda bahwa perguruan tinggi dan institusi publik mulai bergerak dalam memberikan edukasi mengenai keluarga, pengasuhan, serta pembangunan SDM.

Namun, upaya tersebut dinilai baru menjadi permulaan. Diperlukan gerakan yang lebih masif untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat bahwa keluarga yang harmonis dapat menjadi fondasi ekonomi yang kokoh.

Mengubah Cara Pandang terhadap Peran Ganda

Perempuan Indonesia telah menunjukkan kemampuannya untuk berkontribusi di ruang publik. Tantangan berikutnya adalah menciptakan ekosistem keluarga yang memungkinkan perempuan tetap optimal menjalankan peran di ranah publik dan domestik.

Pilihan antara karier atau keluarga tidak semestinya menjadi satu-satunya jalan. Keduanya dapat berjalan beriringan apabila terdapat pemahaman dan pembagian peran yang tepat di dalam keluarga.

Dalam konteks inilah neuroparenting menawarkan perubahan cara pandang. Tujuannya bukan menghilangkan peran ganda perempuan, melainkan mengubah cara keluarga memahami dan menjalankan peran tersebut.

Dengan memahami otak, kepribadian, serta bahasa cinta, rumah tangga diharapkan dapat berubah dari arena konflik menjadi ruang yang menumbuhkan kekuatan ekonomi sekaligus sumber daya manusia.

"Peran ganda perempuan bukanlah kutukan, melainkan kekuatan ekonomi yang terpendam," menjadi gagasan utama dalam melihat posisi perempuan dalam keluarga dan perekonomian.

Pada akhirnya, wajah baru ekonomi SDM Indonesia tidak hanya ditentukan oleh seberapa besar perempuan berpartisipasi dalam perekonomian. Kekuatan tersebut juga bergantung pada kemampuan keluarga membangun lingkungan yang saling memahami, mendukung perempuan yang berdaya, serta memastikan anak-anak tumbuh sebagai generasi unggul.

Ketika peran ganda yang selama ini dianggap sebagai beban dapat diubah menjadi kekuatan, manfaatnya tidak hanya dirasakan perempuan. Keluarga menjadi lebih produktif, anak mendapatkan fondasi pengasuhan yang lebih baik, dan pada akhirnya kekuatan ekonomi bangsa turut terdorong. (*)

Baca Juga

Ratusan Orang Diduga Keracunan Makanan di Palupuh Agam, Operasional Dapur SPPG Pasia Laweh Disetop Sementara
Ratusan Orang Diduga Keracunan Makanan di Palupuh Agam, Operasional Dapur SPPG Pasia Laweh Disetop Sementara
Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat Dedie Tri Haryadi menyampaikan capaian kinerja Kejati Sumbar dalam rangka Hari Lahir Kejaksaan RI ke-81.
Harlah Kejaksaan RI ke-81, Kejati Sumbar Ungkap Capaian Kinerja dan Pemulihan Aset Rp3,16 Miliar
Data Desil Bansos Dinilai Tak Selalu Akurat, Komisi VIII DPR RI Minta Evaluasi
Data Desil Bansos Dinilai Tak Selalu Akurat, Komisi VIII DPR RI Minta Evaluasi
Wisatawan Ramai Unggah Hidden Gem Sumbar, InJourney Airports BIM Dorong Service Excellence Berbasis Budaya
Wisatawan Ramai Unggah Hidden Gem Sumbar, InJourney Airports BIM Dorong Service Excellence Berbasis Budaya
Gas Nikah Angkatan II Digelar di Padang, Kemenag Ungkap 15 Ribu Pernikahan Belum Tercatat
Gas Nikah Angkatan II Digelar di Padang, Kemenag Ungkap 15 Ribu Pernikahan Belum Tercatat
Kafilah Korpri Sumbar Pertahankan Juara Umum MTQ Nasional Korpri untuk Ketiga Kalinya
Kafilah Korpri Sumbar Pertahankan Juara Umum MTQ Nasional Korpri untuk Ketiga Kalinya