Sumbardaily.com – Di tengah pesatnya perkembangan kuliner modern yang terus menghadirkan berbagai inovasi rasa dan tampilan, makanan tradisional Minangkabau masih memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Salah satu buktinya terlihat dari usaha Lompong Sagu dan Palai Bada yang dikelola Titin Agustina di Kota Padang.
Berlokasi di Jalan Muhammad Hatta, Pasar Ambacang, RT 01 RW 01, Kecamatan Kuranji, usaha kuliner tradisional tersebut tetap bertahan dan terus melayani pelanggan meski harus bersaing dengan beragam makanan kekinian yang semakin menjamur.
Yang menarik, usaha ini bukanlah bisnis yang baru dirintis. Lompong Sagu dan Palai Bada yang dikenal dengan nama Rumah Gadang tersebut telah berjalan secara turun-temurun sejak tahun 2000 dan terus dipertahankan hingga saat ini.
Titin Agustina mengatakan, usaha yang kini dikelolanya merupakan warisan keluarga yang diteruskan dari mertuanya. Berbekal pengalaman yang diwariskan dari generasi sebelumnya, ia berupaya menjaga keberlangsungan usaha sekaligus mempertahankan cita rasa khas yang telah dikenal pelanggan selama bertahun-tahun.
"Saya melanjutkan usaha dari mertua saya. Usaha Lompong Sagu dan Palai Bada ini sudah cukup lama kami jalankan, dari tahun 2000 sampai sekarang," ujar Titin saat diwawancarai, Selasa (23/6/2026).
Bagi Titin, mempertahankan usaha kuliner tradisional tidak cukup hanya dengan menjual produk. Konsistensi dalam menjaga kualitas dan rasa menjadi faktor penting agar pelanggan tetap setia di tengah banyaknya pilihan makanan yang tersedia saat ini.
Karena itu, ia memilih untuk tetap menggunakan resep yang diwariskan keluarga tanpa mengubah ciri khas yang selama ini menjadi identitas produknya.
Menurut Titin, resep yang telah digunakan selama lebih dari dua dekade tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Lompong Sagu dan Palai Bada masih diminati hingga sekarang.
"Saya tetap mempertahankan dan menjaga resep yang sudah paten dari mertua saya. Meskipun banyak jajanan kekinian di luar sana, jualan kami tetap dicari orang karena rasanya yang khas," katanya.
Selain mengelola usaha secara mandiri, Titin juga aktif dalam kelompok Usaha Kecil dan Menengah (UKM) Pasar Ambacang, Kecamatan Kuranji. Kelompok tersebut berada di bawah pembinaan Dinas Koperasi dan UKM Kota Padang.
Menurutnya, pendampingan yang diberikan menjadi salah satu bentuk dukungan yang penting bagi pelaku usaha mikro untuk terus berkembang dan mampu menghadapi persaingan pasar yang semakin kompetitif.
Keberadaan pembinaan tersebut dinilai membantu para pelaku usaha lokal agar tetap mampu mempertahankan eksistensinya sekaligus memperkuat daya saing produk yang mereka hasilkan.
Di tengah gempuran makanan modern, Lompong Sagu dan Palai Bada Rumah Gadang justru masih menjadi tujuan masyarakat yang ingin menikmati cita rasa tradisional Minangkabau. Tidak hanya warga Kota Padang, pelanggan juga datang dari kalangan perantau yang pulang kampung dan ingin kembali merasakan makanan khas daerah yang sulit ditemukan di tempat lain.
Konsistensi menjaga kualitas dan cita rasa autentik menjadi faktor utama yang membuat produk tersebut tetap diminati. Hal itu sekaligus menunjukkan bahwa kuliner tradisional masih memiliki daya tarik yang kuat ketika keaslian rasa tetap dipertahankan.
Melalui usahanya, Titin juga mengajak masyarakat untuk terus mendukung dan mencintai produk kuliner lokal sebagai bagian dari upaya melestarikan warisan budaya daerah.
"Untuk saudara-saudara yang ada di sekitar Kota Padang maupun yang berada di rantau, mampirlah ke sini untuk membeli Lompong Sagu," ajaknya.
Keberhasilan usaha Lompong Sagu dan Palai Bada bertahan selama lebih dari dua dekade menjadi gambaran bahwa makanan tradisional tidak mudah tergeser oleh tren kuliner yang terus berubah. Selama kualitas produk dijaga dan cita rasa khas tetap dipertahankan, kuliner warisan daerah masih mampu menarik minat masyarakat dari berbagai generasi.
Kisah Titin Agustina juga menunjukkan bahwa menjaga warisan kuliner bukan hanya soal mempertahankan sebuah usaha, tetapi juga menjaga identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di tengah maraknya kuliner modern, Lompong Sagu dan Palai Bada tetap menjadi bukti bahwa makanan tradisional Minangkabau masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat. (*)
















