Sumbardaily.com - Kualitas udara di sejumlah wilayah Indonesia yang terdampak Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) mulai menunjukkan perbaikan. Kondisi tersebut terlihat dari berkurangnya wilayah yang masuk zona merah atau kategori Sangat Tidak Sehat, meski sejumlah kawasan di Sumatera masih berada dalam pemantauan.
Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menyebut zona kualitas udara Sangat Tidak Sehat atau kategori Merah terus mengalami penyusutan. Saat ini, zona tersebut hanya tersisa di sebagian kecil wilayah Kalimantan Barat.
“Kemenhut mengonfirmasi perbaikan kualitas udara di sejumlah wilayah terdampak Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Zona merah dengan kualitas udara sangat tidak sehat turun drastis,” demikian keterangan resmi Kemenhut yang dikutip Minggu (6/9/2026).
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian besar wilayah Indonesia lainnya kini berada pada kategori Baik atau Hijau hingga Sedang atau Biru. Namun, kategori Tidak Sehat atau Kuning masih mendominasi sejumlah kawasan di Kalimantan dan sebagian kecil Sumatera bagian barat.
Perbaikan kualitas udara tersebut tetap diikuti dengan penanganan karhutla di lapangan. Kemenhut bersama Satgas Gabungan terus melakukan upaya pengendalian melalui kerja sama sejumlah unsur yang terlibat dalam operasi.
Satgas Gabungan tersebut melibatkan Manggala Agni Kemenhut, TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, masyarakat peduli api, serta para pemangku kepentingan lainnya. Seluruh unsur tersebut bersinergi untuk mengoptimalkan penanganan karhutla di wilayah yang masih menjadi prioritas.
Penanggulangan dilakukan secara terpadu melalui pemadaman dari darat, patroli, hingga dukungan operasi udara. Langkah tersebut diarahkan untuk menjangkau lokasi-lokasi yang membutuhkan penanganan dan pemantauan secara langsung.
Untuk mendukung operasi, sebanyak 53 unit armada udara telah dikerahkan. Sebanyak 19 unit di antaranya dialokasikan untuk patroli udara dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Sementara 34 unit armada lainnya digunakan untuk pemadaman udara atau water bombing. Armada tersebut difokuskan pada titik-titik kebakaran yang sulit dijangkau oleh tim yang melakukan pemadaman dari darat.
Pelaksanaan OMC juga terus dioptimalkan. Operasi tersebut dilakukan pada wilayah dan waktu yang memenuhi kriteria meteorologis dengan tujuan memicu terbentuknya awan hujan.
Di sisi lain, pemantauan titik panas terus dilakukan melalui sistem SiPongi Kemenhut. Sistem tersebut memanfaatkan data satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 untuk mendeteksi indikasi hotspot di berbagai wilayah.
Berdasarkan data SiPongi per 3 September 2026 pukul 21.19 WIB, tercatat sebanyak 688 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence. Pemantauan kemudian difokuskan pada tujuh wilayah utama yang masih menjadi perhatian dalam penanganan karhutla.
Tujuh wilayah tersebut yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi.
Kemenhut menegaskan data hotspot tidak serta-merta menunjukkan adanya kebakaran aktif di suatu lokasi. Hotspot merupakan indikasi titik panas yang diperoleh dari penginderaan satelit sehingga diperlukan pemeriksaan lebih lanjut di lapangan.
Karena itu, data dari sistem pemantauan tersebut menjadi salah satu dasar bagi tim gabungan untuk melakukan verifikasi atau ground check. Pemeriksaan secara langsung dilakukan untuk memastikan kondisi di lokasi sekaligus menentukan respons penanganan yang diperlukan.
Langkah pemantauan dan penanganan tersebut dilakukan untuk mempertahankan tren perbaikan kualitas udara yang telah terlihat di sejumlah wilayah. Kemenhut juga meminta masyarakat serta pelaku usaha turut mencegah munculnya kebakaran baru.
Masyarakat dan pelaku usaha diimbau tidak melakukan pembakaran lahan dalam kondisi cuaca kering seperti saat ini. Pencegahan tersebut dinilai menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas udara sekaligus mempercepat pemulihan di wilayah terdampak karhutla.
Masyarakat yang menemukan indikasi kebakaran hutan dan lahan maupun kemunculan asap juga diminta segera menyampaikan laporan kepada Posko Karhutla Kementerian Kehutanan.
Laporan dapat disampaikan melalui telepon 021-5704618. Masyarakat juga dapat mengirimkan laporan melalui WhatsApp +62 8131-00-35000 atau email [email protected].
Pemantauan terhadap sejumlah wilayah, termasuk Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi, tetap dilakukan bersamaan dengan penanganan di wilayah Kalimantan. Kemenhut bersama Satgas Gabungan terus mengoptimalkan langkah darat dan udara untuk menjaga perbaikan kualitas udara karhutla di Indonesia. (*)
















