Sumbardaily.com - Kementerian Agama (Kemenag) menggelar Sidang Isbat Penetapan Awal Zulhijah 1447 Hijriah yang diawali dengan Seminar Posisi Hilal di Kantor Kemenag Thamrin, Minggu (17/5/2026).
Dalam seminar tersebut, para pakar menyampaikan bahwa posisi hilal di seluruh wilayah Indonesia pada petang hari ini telah memenuhi kriteria baru yang ditetapkan Menteri-Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS).
Pengurus Pusat Al Irsyad Al-Islamiyah, Zufar Bawazir, menjelaskan bahwa secara astronomis konjungsi atau ijtimak bulan terjadi pada Sabtu, 16 Mei 2026 pukul 20.01 UTC. Ia memaparkan hasil analisis visibilitas Hilal Zulhijah 1447 Hijriah dengan membandingkan kondisi di Jakarta, Makkah, Madinah, hingga Riyadh.
Menurut Zufar, pada Sabtu malam mayoritas wilayah dunia belum memungkinkan untuk melaksanakan rukyatul hilal karena posisi hilal masih tertutup berdasarkan peta visibilitas astronomi.
“Pada Sabtu malam, mayoritas wilayah di dunia belum memungkinkan untuk dilakukan rukyatul hilal. Peta visibilitas menunjukkan hilal masih tertutup. Oleh karena itu, secara ilmiah tidak mungkin awal Zulhijah jatuh pada hari Ahad hari ini,” ujar Zufar.
Namun, kondisi berbeda terjadi pada petang ini. Saat matahari terbenam atau ghurub, posisi hilal di seluruh Indonesia dipastikan telah berada di atas ufuk dan memenuhi ambang batas visibilitas MABIMS.
Ia menjelaskan bahwa berdasarkan perhitungan dari wilayah paling timur Indonesia, yakni Merauke, ketinggian hilal telah berada di atas 3 derajat dengan sudut elongasi melebihi 6,4 derajat. Sementara untuk wilayah Jakarta, tinggi hilal mencapai 4,4 derajat dengan elongasi 9,5 derajat.
“Ini artinya sudah di atas ambang batas minimal,” katanya.
Zufar juga memaparkan data hisab yang membandingkan posisi hilal di Indonesia dengan sejumlah kota di Arab Saudi. Berdasarkan hasil pengamatan astronomis, posisi hilal di kawasan Timur Tengah berada jauh lebih tinggi dan masuk zona hijau, sehingga sangat mudah dilihat dengan mata telanjang.
Di wilayah Riau, tinggi hilal tercatat mencapai 10,6 derajat dengan elongasi 11,6 derajat. Sementara itu, di Arab Saudi, posisi hilal terpantau di Makkah dengan tinggi 10,7 derajat dan elongasi 11,8 derajat. Adapun di Madinah, tinggi hilal mencapai 10,9 derajat dengan elongasi 11,9 derajat, termasuk di Riyadh yang juga menunjukkan posisi hilal sangat kuat.
“Di Arab Saudi posisinya berada di zona hijau, sehingga sangat kuat dan mudah dilihat. Sementara di Indonesia berada di zona kuning-oranye, yang artinya mungkin terlihat. Insya Allah, para perukyat kita di lapangan yang sudah terlatih akan mampu melihatnya dengan baik karena posisi hilal sudah cukup tinggi dan besar,” tambah Zufar.
Dengan kondisi astronomis tersebut, Zufar menilai terdapat peluang besar Indonesia dan Arab Saudi merayakan Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah secara bersamaan. Jika hilal berhasil dirukyat pada petang ini, maka 1 Zulhijah 1447 H diperkirakan jatuh pada Senin, 18 Mei 2026.
Sementara itu, Hari Raya Iduladha atau 10 Zulhijah diprediksi berlangsung pada Rabu, 27 Mei 2026.
“Secara hisab astronomis, Indonesia dan Arab Saudi berpotensi besar merayakan Iduladha serentak. Jika petang ini hilal berhasil dirukyat, maka 1 Zulhijah 1447 H akan jatuh pada Senin, 18 Mei 2026, dan Hari Raya Iduladha (10 Zulhijah) jatuh pada Rabu, 27 Mei 2026. Ini adalah nikmat yang besar untuk kita semua,” ungkapnya.
Dalam proses penentuan awal Zulhijah, tim Kementerian Agama juga disebut sedang berkoordinasi dengan tim hisab rukyat yang berada di Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah haji. Laporan pandangan mata langsung dari lokasi tersebut diharapkan dapat memperkuat hasil sidang isbat.
Meski data hisab menunjukkan indikasi kuat terhadap kemungkinan terlihatnya hilal, Zufar menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan pemerintah melalui Sidang Isbat yang dipimpin Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar.
“Secara kondisi rukyat, Arab Saudi memang jauh lebih kuat dibanding Indonesia. Namun, keputusan resmi tetap bergantung pada otoritas masing-masing negara. Kita tunggu bersama hasil konfirmasi rukyatul hilal dari berbagai titik di Indonesia yang akan ditetapkan oleh Bapak Menteri Agama,” pungkasnya. (*)















