Sumbardaily.com - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian nasional setelah jumlah titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi melonjak tajam dalam satu hari. Pemantauan terbaru Kementerian Kehutanan mencatat 1.359 hotspot high confidence di berbagai wilayah Indonesia, naik lebih dari dua kali lipat dibandingkan sehari sebelumnya.
Kenaikan tersebut terutama terlihat di Kalimantan Tengah yang mencatat jumlah hotspot tertinggi. Namun, wilayah Sumatera juga ikut menjadi sorotan, terutama Sumatera Selatan yang berada di posisi kedua dalam daftar enam provinsi prioritas pengendalian karhutla.
Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan hingga Senin (5/10) pukul 21.15 WIB, terdapat 1.359 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi. Data itu dihimpun berdasarkan pemantauan satelit NASA Terra/Aqua, NASA SNPP, dan NASA NOAA-20.
Jumlah tersebut bertambah 832 titik dibandingkan pemantauan pada Minggu (4/10). Saat itu, jumlah hotspot high confidence secara nasional tercatat 527 titik.
Penanggung jawab berita Kementerian Kehutanan, Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Ristianto Pribadi, dalam keterangan Kemenhut yang dikutip Rabu (6/10/2026), menyampaikan bahwa pengendalian karhutla terus diperkuat melalui operasi darat dan udara.
Perhatian utama diarahkan ke wilayah yang mengalami peningkatan hotspot secara signifikan, terutama Kalimantan Tengah.
Pada enam provinsi yang menjadi prioritas pengendalian karhutla, Kalimantan Tengah mencatat 569 hotspot high confidence. Angka tersebut meningkat drastis dibandingkan sehari sebelumnya yang berada di angka 116 titik.
Provinsi lain yang juga mengalami kenaikan adalah Sumatera Selatan. Jumlah hotspot di provinsi tersebut mencapai 142 titik, naik dari 75 titik pada pemantauan sebelumnya.
Kalimantan Barat mencatat 69 hotspot, meningkat dari 19 titik. Kemudian Kalimantan Selatan mencapai 28 titik, dari sebelumnya 15 titik.
Sementara itu, Riau yang sehari sebelumnya tidak mencatat hotspot high confidence kini terdeteksi memiliki 4 titik. Jambi masih mencatat nihil hotspot dan tidak mengalami perubahan dibandingkan hari sebelumnya.
Jika digabungkan, enam provinsi prioritas tersebut menyumbang 812 hotspot high confidence. Jumlah itu meningkat jauh dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat 225 titik.
Lonjakan tersebut membuat Kementerian Kehutanan meningkatkan pemantauan dan verifikasi lapangan. Kalimantan Tengah menjadi wilayah yang mendapatkan perhatian khusus, sedangkan kesiapsiagaan juga diperkuat di wilayah lain yang menunjukkan peningkatan jumlah hotspot.
Meski demikian, Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa angka hotspot tidak dapat langsung diterjemahkan sebagai jumlah kebakaran yang terjadi di lapangan.
"Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit, dan tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas areal yang terbakar," demikian keterangan Kementerian Kehutanan yang dikutip Rabu (6/10/2026).
Kementerian Kehutanan menjelaskan, satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, setiap indikasi yang muncul dari pemantauan satelit tetap perlu diperiksa langsung di lapangan.
"Seluruh indikasi tetap harus diverifikasi melalui groundcheck untuk memastikan kondisi aktual dan menentukan tindakan penanganan di lapangan," tulis keterangan tersebut.
Pengendalian Karhutla Diperkuat dari Darat dan Udara
Pemerintah tidak hanya mengandalkan pemantauan satelit dalam menangani potensi karhutla. Operasi di lapangan dilakukan secara terpadu melalui unsur Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, serta pihak terkait lainnya.
Dukungan dari udara juga disiapkan untuk memperkuat pengendalian kebakaran. Pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara.
Dari jumlah tersebut, 17 unit digunakan untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Sementara 44 unit lainnya disiapkan untuk operasi water bombing.
Operasi udara tersebut berjalan beriringan dengan kegiatan pengendalian di darat. Petugas melakukan patroli dan groundcheck untuk memastikan kondisi di lokasi yang terindikasi memiliki hotspot.
Selain itu, penanganan di lapangan mencakup pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, pembasahan, mopping up, hingga pendinginan.
Kawasan lahan gambut juga mendapatkan perhatian khusus. Karakteristik gambut membuat bara api berpotensi bertahan dan menjalar di bawah permukaan tanah meskipun kobaran api di permukaan sudah tidak terlihat.
Karena itu, proses pembasahan dan pendinginan tidak dihentikan hanya karena api di atas permukaan telah padam. Penanganan terus dilakukan sampai lokasi dinyatakan benar-benar aman.
Kualitas Udara Ikut Dipantau
Selain perkembangan hotspot, pemerintah juga memantau kondisi kualitas udara. Konsentrasi PM2,5 menjadi salah satu indikator yang diperhatikan sebagai bagian dari upaya melindungi kesehatan masyarakat.
Berdasarkan pantauan terkini, sebagian besar wilayah Indonesia berada dalam kategori baik hingga sedang. Namun, masih terdapat sejumlah wilayah yang mengalami kualitas udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat.
Kondisi tersebut ditemukan di beberapa bagian Kalimantan, Sumatera, Jawa, dan Papua. Pada sejumlah lokasi bahkan terlihat kantong dengan kategori kualitas udara berbahaya.
Kementerian Kehutanan mengingatkan bahwa kondisi udara dapat berubah sewaktu-waktu. Perubahannya dipengaruhi perkembangan kebakaran, konsentrasi partikulat, arah dan kecepatan angin, serta kondisi atmosfer lainnya.
Masyarakat yang berada di wilayah terdampak diminta mengikuti informasi kualitas udara dan arahan dari pemerintah daerah. Jika kualitas udara memburuk, aktivitas di luar ruangan sebaiknya dikurangi.
Masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar ruangan juga disarankan menggunakan masker. Perhatian lebih perlu diberikan kepada kelompok rentan, seperti anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan atau penyakit kronis.
Satwa Liar Terdampak Karhutla
Dampak karhutla tidak hanya berkaitan dengan kebakaran lahan dan kualitas udara. Habitat satwa liar juga dapat terganggu akibat kebakaran yang terjadi di kawasan hutan dan lahan.
Karhutla berpotensi memengaruhi habitat, sumber pakan, hingga jalur pergerakan satwa liar. Untuk mengantisipasi dampak tersebut, Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan unit terkait terus melakukan pemantauan serta penanganan terhadap satwa yang terdampak.
Masyarakat yang menemukan satwa liar dalam kondisi terluka, terjebak, terdampak kebakaran, atau masuk ke kawasan permukiman diminta tidak melakukan evakuasi sendiri.
Petugas meminta masyarakat menjaga jarak dari satwa dan menghindari tindakan yang berpotensi membuat satwa mengalami stres atau menjadi agresif. Jika memungkinkan, masyarakat dapat mencatat lokasi dan kondisi satwa sebelum melaporkannya kepada BKSDA atau petugas kehutanan terdekat.
Di tengah peningkatan hotspot tersebut, Kementerian Kehutanan juga kembali mengingatkan masyarakat dan pelaku usaha agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar.
Peningkatan hotspot menjadi pengingat bahwa situasi karhutla dapat berubah dengan cepat. Perubahan tersebut berkaitan dengan kondisi cuaca, keadaan lahan, serta aktivitas yang berlangsung di lapangan.
Karena itu, pencegahan sejak awal dan laporan masyarakat ketika menemukan indikasi kebakaran menjadi bagian penting dalam mempercepat respons petugas.
Dengan jumlah hotspot nasional yang mencapai 1.359 titik, penguatan pengawasan tidak hanya menjadi perhatian di Kalimantan. Perkembangan di wilayah Sumatera, khususnya Sumatera Selatan yang mencatat 142 hotspot, juga menunjukkan perlunya kewaspadaan di daerah yang mengalami peningkatan titik panas. (*)














