Sumbardaily.com - Penurunan tajam jumlah hotspot terdeteksi secara nasional dalam pemantauan terbaru. Meski demikian, pemerintah belum menghentikan operasi pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama karena kondisi udara di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan masih perlu mendapat perhatian.
Data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20 mencatat 344 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence hingga Rabu (23/9) pukul 21.05 WIB.
Jumlah tersebut berkurang 588 titik dibandingkan sehari sebelumnya. Pada Selasa (22/9), jumlah hotspot high confidence secara nasional masih mencapai 932 titik.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan Ristianto Pribadi mengatakan penurunan hotspot tersebut tidak membuat pemerintah mengendurkan pengendalian karhutla.
"Pemantauan terbaru menunjukkan penurunan signifikan hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi atau high confidence secara nasional. Pemerintah tetap mempertahankan operasi pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla), baik melalui operasi darat, water bombing, patroli udara maupun Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), seiring kondisi udara di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan masih perlu diwaspadai," katanya dikutip resmi Kemenhut Jumat (25/9/2026).
Pada enam provinsi yang menjadi wilayah prioritas, penurunan hotspot juga terlihat cukup besar. Kalimantan Tengah mencatat 156 titik, turun drastis dari 643 titik pada hari sebelumnya.
Kalimantan Barat memiliki 33 hotspot high confidence, turun dari 50 titik. Kemudian Kalimantan Selatan tercatat 11 titik, berkurang dari 68 titik.
Di Sumatera, Sumatera Selatan tercatat memiliki 4 hotspot, turun dari 17 titik. Jambi justru mengalami kenaikan dari sebelumnya nihil menjadi 2 titik. Sementara Riau masih nihil dengan 0 hotspot.
Jika digabungkan, jumlah hotspot high confidence di enam provinsi prioritas tersebut turun dari 778 titik menjadi 206 titik hanya dalam waktu satu hari.
Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan penurunan paling besar. Kendati demikian, provinsi tersebut masih mencatat jumlah hotspot terbanyak di antara enam wilayah yang menjadi prioritas pengendalian karhutla.
Kementerian Kehutanan mengingatkan agar penurunan data hotspot tidak langsung dimaknai sebagai gambaran jumlah kejadian kebakaran ataupun luas lahan yang terbakar.
Hotspot merupakan indikasi adanya anomali suhu permukaan yang ditangkap oleh satelit. Satu kejadian kebakaran bahkan dapat menghasilkan beberapa titik hotspot dalam pendeteksian satelit.
Karena itu, setiap indikasi hotspot tetap membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut melalui groundcheck dan pemantauan kondisi aktual di lapangan.
Pengendalian Karhutla Diperkuat di Kalimantan Selatan
Pengendalian karhutla juga terus diperkuat di Kalimantan Selatan. Setelah memantau operasi penanganan karhutla di Kalimantan Tengah, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni bersama Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto melanjutkan pemantauan ke Kalimantan Selatan pada Rabu (23/9).
Keduanya melihat langsung proses pemadaman di kawasan gambut yang berada di sekitar RSJ Sambang Lihum, Kabupaten Banjar.
Selain meninjau lokasi, Menteri Kehutanan dan Kepala BNPB mengikuti evaluasi penanganan karhutla bersama pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, serta unsur terkait lainnya.
Evaluasi tersebut mencakup penguatan operasi darat, penyamaan data yang diperoleh dari lapangan, hingga pengaturan penempatan personel dan sumber daya. Langkah tersebut diarahkan ke lokasi yang masih membutuhkan intervensi.
Pemerintah Kabupaten Banjar juga menyiapkan tambahan personel untuk memperkuat penanganan di wilayah yang dinilai rawan.
Operasi darat menjadi bagian penting dalam penanganan kebakaran di kawasan gambut. Kondisi gambut memungkinkan bara tetap bertahan di bawah permukaan meskipun api yang terlihat dari atas sudah tidak ada.
Untuk mencegah api kembali muncul, petugas terus melakukan pembasahan dan pendinginan di area yang telah ditangani.
Puluhan Armada Udara Dikerahkan
Penanganan karhutla juga mendapat dukungan dari operasi udara. Saat ini pemerintah mengerahkan 61 unit armada udara.
Sebanyak 17 unit digunakan untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca, sedangkan 44 unit lainnya disiapkan untuk kegiatan water bombing.
Penggunaan armada udara disesuaikan dengan perkembangan titik api dan berbagai kondisi di lapangan. Faktor yang diperhitungkan antara lain potensi awan, arah angin, kondisi asap, jarak pandang, serta aspek keselamatan penerbangan.
Sementara itu, penanganan dari darat terus melibatkan berbagai unsur. Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, dan para pihak melakukan patroli serta groundcheck.
Petugas juga melakukan pemadaman langsung, penyekatan untuk menghentikan penjalaran api, pembasahan, mopping up, dan pendinginan.
Hotspot Turun, Asap Masih Pengaruhi Udara
Penurunan hotspot belum serta-merta membuat kondisi udara di seluruh wilayah kembali normal. Pantauan PM2,5 menunjukkan kualitas udara di Indonesia masih beragam.
Sebagian besar wilayah berada dalam kategori baik hingga sedang. Namun, sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan masih berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Bahkan, beberapa wilayah terpantau masuk kategori berbahaya.
Kondisi tersebut juga terlihat dari pemantauan BMKG Aviation pada dini hari Kamis (24/9). Asap masih memengaruhi jarak pandang di sejumlah provinsi prioritas.
Di Palangka Raya, jarak pandang berada di sekitar 1,5 kilometer dengan kondisi berasap. Pontianak juga memiliki jarak pandang sekitar 1,5 kilometer dan berasap.
Sementara itu, jarak pandang di Banjarmasin sekitar 3 kilometer dengan kondisi berasap. Jambi berada di sekitar 5 kilometer dan berasap, sedangkan Palembang sekitar 5 kilometer serta berasap.
Di Pekanbaru, jarak pandang tercatat sekitar 6 kilometer dengan kondisi hujan ringan.
BMKG juga mencatat terdapat sejumlah lokasi lain di Kalimantan yang memiliki jarak pandang lebih rendah. Karena itu, perkembangan asap dan kondisi penerbangan masih perlu dipantau secara intensif.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa berkurangnya hotspot tidak otomatis berarti seluruh kebakaran telah padam. Penurunan titik panas juga tidak serta-merta membuat kualitas udara langsung pulih.
Asap yang sudah terbentuk dapat bertahan dan berpindah mengikuti arah angin serta kondisi atmosfer. Pada lahan gambut, bara juga masih dapat bertahan di bawah permukaan meski api tidak lagi terlihat.
Kementerian Kehutanan mengimbau masyarakat yang berada di wilayah terdampak agar terus memperhatikan informasi mengenai kualitas udara dan mengikuti arahan pemerintah daerah.
Ketika kondisi udara memburuk, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika aktivitas di luar rumah tidak dapat dihindari, masyarakat dianjurkan menggunakan masker.
Anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan atau penyakit kronis menjadi kelompok yang perlu mendapat perhatian khusus.
Masyarakat dan pelaku usaha juga kembali diingatkan agar tidak membuka ataupun membersihkan lahan dengan cara membakar.
Aktivitas yang berpotensi menimbulkan kebakaran juga perlu dihindari. Jika menemukan asap, titik api, aktivitas pembakaran, maupun satwa liar yang terdampak, masyarakat diminta segera menyampaikan laporan kepada petugas.
Pelaporan sedini mungkin diperlukan agar penanganan dapat segera dilakukan dan potensi kebakaran tidak berkembang lebih luas. (*)














