Sumbardaily.com - Karhutla Sumatera masih menjadi perhatian pemerintah. Di tengah meningkatnya jumlah hotspot secara nasional, Sumatera Selatan justru mencatat penurunan titik panas tingkat kepercayaan tinggi hampir separuh hanya dalam sehari.
Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan Ristianto Pribadi menyampaikan, berdasarkan pemantauan terbaru, terdapat 61 hotspot high confidence di Sumatera Selatan. Jumlah tersebut turun 59 titik atau sekitar 49 persen dibandingkan sehari sebelumnya.
Selain Sumatera Selatan, penurunan hotspot juga terjadi di Riau. Pada pemantauan yang sama, Riau tercatat memiliki 7 hotspot high confidence, sedangkan Jambi terdapat 26 titik.
Data tersebut merupakan hasil pemantauan SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20. Secara nasional, terdeteksi 674 hotspot high confidence pada Minggu, 6 September 2026 pukul 21.25 WIB.
Jumlah itu justru mengalami kenaikan dibandingkan sehari sebelumnya. Pada 5 September 2026, tercatat 558 hotspot high confidence secara nasional.
Ristianto mengatakan hotspot perlu dipahami sebagai indikator yang diperoleh dari pemantauan satelit. Keberadaan titik panas tidak otomatis berarti telah terjadi satu peristiwa kebakaran di lokasi tersebut.
"Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit dan tidak serta-merta menunjukkan satu kejadian kebakaran," kata Ristianto dalam keterangan resmi yang dikutip Selasa (8/9/2026).
Menurut Ristianto, satu kejadian kebakaran dapat terdeteksi sebagai beberapa hotspot. Karena itu, setiap indikasi yang muncul melalui pemantauan satelit tetap perlu diverifikasi dengan groundcheck dan pemeriksaan kondisi aktual di lapangan.
Enam provinsi menjadi prioritas pengendalian karhutla. Selain Sumatera Selatan, Riau dan Jambi, wilayah prioritas lainnya adalah Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
Kalimantan Tengah saat ini mencatat jumlah hotspot high confidence terbanyak di antara enam provinsi tersebut, yakni 243 titik. Kalimantan Barat berada di posisi berikutnya dengan 138 titik, sedangkan Kalimantan Selatan tercatat memiliki 20 titik.
Perkembangan di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat menjadi perhatian dalam penguatan operasi di lapangan. Patroli, groundcheck, pemadaman, serta berbagai upaya pengendalian terus dilakukan agar api tidak berkembang dan meluas.
Untuk mengendalikan karhutla, Manggala Agni Kementerian Kehutanan menjalankan operasi bersama TNI, Polri, BNPB, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, dunia usaha, dan para pihak lainnya.
Operasi tersebut mencakup sejumlah kegiatan. Petugas melakukan patroli untuk memantau kondisi lapangan, groundcheck untuk memastikan indikasi hotspot, pemadaman langsung, penyekatan penjalaran api, mopping up, pendinginan, serta pemantauan lokasi guna mencegah api kembali menyala.
Pengendalian juga dilakukan melalui dukungan udara. Pemerintah mengerahkan 53 unit armada udara untuk mendukung operasi di enam provinsi prioritas, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
Dari total armada tersebut, 19 unit digunakan untuk patroli udara sekaligus mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Sebanyak 34 unit lainnya digunakan untuk operasi water bombing.
Pengerahan armada disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan kondisi di lapangan. OMC juga terus diupayakan pada wilayah serta waktu yang memenuhi kondisi meteorologis. Operasi tersebut diarahkan untuk membantu pembasahan lahan sekaligus mendukung pengendalian karhutla.
Pemantauan tidak hanya dilakukan terhadap titik panas dan kondisi api. Pemerintah juga memantau kualitas udara berdasarkan parameter PM2,5.
Pada 6 September, kondisi kualitas udara tercatat bervariasi. Sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan berada pada kategori tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Bahkan, pada sebagian area ditemukan kondisi dengan kategori berbahaya.
Di sisi lain, sebagian besar wilayah Indonesia lainnya berada dalam kategori baik hingga sedang.
Kondisi asap juga menjadi bagian dari pemantauan cuaca penerbangan. Berdasarkan pemantauan BMKG pada malam 6 September, jarak pandang di sejumlah kota dalam enam provinsi prioritas menunjukkan kondisi berbeda.
Di Palembang, jarak pandang mencapai 10 kilometer atau lebih dengan kondisi berawan. Jambi mencatat jarak pandang sekitar 7 kilometer dengan kondisi berawan. Sementara Pekanbaru memiliki jarak pandang sekitar 8 kilometer dengan kondisi cerah berawan.
Di tiga kota lainnya, Pontianak mencatat jarak pandang sekitar 2 kilometer dalam kondisi berasap. Palangka Raya memiliki jarak pandang sekitar 8 kilometer dengan kondisi berawan. Sedangkan Banjarmasin sekitar 9 kilometer dengan kondisi cerah berawan.
Kondisi Pontianak menjadi perhatian karena jarak pandangnya hanya sekitar 2 kilometer dan disertai kondisi berasap. Adapun jarak pandang di kota-kota prioritas lainnya relatif lebih baik ketika dilakukan pengamatan tersebut.
Perubahan jarak pandang dapat dipengaruhi sejumlah faktor, mulai dari konsentrasi asap, aktivitas kebakaran, arah dan kecepatan angin, kelembapan, hujan, hingga dinamika atmosfer.
Ristianto menyampaikan pemantauan dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai informasi. Hotspot, kondisi api di lapangan, kualitas udara, sebaran asap, cuaca, curah hujan, dan jarak pandang menjadi bahan dalam menentukan prioritas operasi serta pengerahan sumber daya.
Masyarakat juga diminta tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Warga yang berada di wilayah terdampak asap diminta mengikuti informasi resmi mengenai kualitas udara, cuaca, dan jarak pandang.
Aktivitas masyarakat juga perlu disesuaikan apabila kondisi lingkungan memburuk. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menghadapi dampak asap yang muncul akibat karhutla.
Masyarakat yang menemukan asap, titik api, atau indikasi kebakaran diminta segera melaporkannya agar dapat ditindaklanjuti petugas sedini mungkin.
Laporan dapat disampaikan melalui Posko Karhutla Kementerian Kehutanan di nomor 021-5704618. Masyarakat juga dapat menghubungi WhatsApp +62 8131-00-35000 atau mengirimkan laporan melalui email [email protected].
Penurunan 59 hotspot di Sumatera Selatan dalam sehari menjadi perkembangan yang dipantau dalam pengendalian karhutla. Meski angka di Sumsel dan Riau menurun, operasi tetap dilanjutkan melalui patroli, groundcheck, pemadaman, pendinginan, pemantauan, serta pengerahan armada udara untuk mengendalikan karhutla Sumatera. (*)
















