Sumbardaily.com - Ada pemandangan berbeda dalam perjalanan wisata di Sumatera Barat. Ketika jumlah wisatawan mancanegara yang tiba melalui Bandara Internasional Minangkabau (BIM) mengalami penurunan, wisatawan nusantara justru semakin banyak bergerak menuju berbagai kabupaten dan kota di Sumbar.
Perbedaan itu tergambar dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Barat. Pada Juli 2026, sebanyak 6.377 kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) tercatat masuk melalui BIM. Jumlah tersebut turun 9,90 persen dibandingkan Juni 2026 yang mencapai 7.078 kunjungan.
“Perkembangan pariwisata Provinsi Sumatera Barat” menjadi salah satu indikator yang dirilis BPS Sumbar sebagaimana dikutip dari rilis BPS Sumbar Rabu (2/9/2026).
Namun, cerita berbeda terlihat dari wisatawan nusantara. Pada bulan yang sama, perjalanan wisatawan nusantara (wisnus) menuju kabupaten dan kota di Sumatera Barat justru mencapai 2,15 juta perjalanan.
Jumlah itu naik 3,11 persen dibandingkan Juni 2026. Artinya, ketika arus wisatawan asing melalui BIM sedang menurun, mobilitas wisatawan dari dalam negeri justru menunjukkan peningkatan.
Data tersebut membuat perkembangan pariwisata Sumbar pada Juli 2026 memiliki dua sisi. Di satu sisi, kunjungan wisman belum kembali meningkat. Di sisi lain, perjalanan wisatawan nusantara terus bertambah.
Jika dihitung sejak awal tahun, jumlah kunjungan wisman melalui BIM selama Januari-Juli 2026 mencapai 43.547 kunjungan. Angka tersebut turun 14,32 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Sementara itu, perjalanan wisnus sepanjang Januari-Juli 2026 justru mencapai 14,29 juta perjalanan. Jumlah tersebut meningkat 2,32 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Pergerakan wisatawan juga tercermin dari kondisi kamar hotel. Pada hotel klasifikasi bintang, Tingkat Penghunian Kamar (TPK) Juli 2026 tercatat 51,86 persen.
Angka tersebut turun 0,30 persen poin dibandingkan Juni 2026 yang mencapai 52,16 persen. Penurunan juga terjadi pada hotel klasifikasi nonbintang.
TPK hotel nonbintang pada Juli 2026 tercatat sebesar 19,53 persen. Angka itu turun 2,18 persen poin dibandingkan bulan sebelumnya.
Di tengah perubahan pergerakan wisatawan tersebut, kondisi ekonomi Sumatera Barat juga menunjukkan perkembangan dari sektor lain. Salah satunya terlihat dari Nilai Tukar Petani (NTP).
Nilai Tukar Petani Sumatera Barat pada Agustus 2026 tercatat sebesar 133,37. Angka tersebut meningkat 0,64 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan NTP terjadi setelah Indeks Harga yang Diterima Petani (It) meningkat 0,65 persen. Sementara itu, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) juga mengalami peningkatan, tetapi hanya sebesar 0,001 persen.
Kenaikan NTP secara umum dipengaruhi oleh peningkatan pada subsektor tanaman pangan, tanaman perkebunan rakyat, peternakan, dan perikanan.
Namun, tidak semua subsektor mengalami kenaikan. Subsektor hortikultura menjadi satu-satunya subsektor yang mengalami penurunan.
BPS Sumbar juga mencatat Nilai Tukar Usaha Petani (NTUP) pada Agustus 2026 mencapai 137,93. Angka tersebut naik 0,32 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Kondisi itu dipengaruhi kenaikan harga hasil produksi petani sebesar 0,65 persen. Kenaikan tersebut lebih tinggi dibandingkan peningkatan harga pada penambahan barang modal yang tercatat 0,32 persen.
Sementara itu, masyarakat Sumatera Barat juga menghadapi perubahan harga barang dan jasa. Perkembangan harga konsumen pada Agustus 2026 menunjukkan inflasi sebesar 0,18 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Secara tahun kalender, inflasi Sumatera Barat tercatat 1,23 persen. Sementara secara tahunan, inflasi mencapai 3,76 persen.
Kelompok makanan, minuman dan tembakau menjadi penyumbang utama inflasi secara bulanan. Kelompok tersebut mengalami inflasi 0,33 persen dan memberikan andil sebesar 0,12 persen.
Daging ayam ras dan cabai rawit menjadi komoditas utama yang mendorong inflasi pada kelompok tersebut.
Seluruh wilayah cakupan IHK di Sumatera Barat mengalami inflasi secara bulanan. Wilayah tersebut meliputi Kabupaten Dharmasraya, Kabupaten Pasaman Barat, Kota Padang dan Kota Bukittinggi.
Pasaman Barat mencatat inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,46 persen. Kota Padang berada di posisi terendah dengan inflasi 0,10 persen.
Sementara itu, Kota Bukittinggi mencatat inflasi 0,20 persen dan Kabupaten Dharmasraya sebesar 0,11 persen.
Jika dibandingkan dengan kondisi setahun sebelumnya, seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi. Kelompok makanan, minuman dan tembakau kembali menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi umum dengan andil 1,44 persen.
Seluruh wilayah cakupan IHK juga mengalami inflasi secara tahunan. Kabupaten Dharmasraya mencatat inflasi y-on-y tertinggi sebesar 4,34 persen.
Pasaman Barat mengalami inflasi tahunan 4,11 persen, disusul Kota Bukittinggi sebesar 3,78 persen. Sementara Kota Padang mencatat angka terendah, yakni 3,55 persen.
Dari rangkaian angka tersebut, wajah pariwisata Sumatera Barat pada Juli 2026 terlihat tidak bergerak dalam satu arah. Kunjungan wisatawan mancanegara melalui BIM memang menurun, tetapi perjalanan wisatawan nusantara justru meningkat menjadi 2,15 juta perjalanan.
Pada saat yang sama, tingkat penghunian kamar hotel mengalami penurunan, baik pada hotel bintang maupun nonbintang. Pergerakan sektor pariwisata itu berlangsung bersamaan dengan meningkatnya Nilai Tukar Petani Sumatera Barat menjadi 133,37 dan inflasi tahunan yang mencapai 3,76 persen.
Data BPS Sumbar tersebut menunjukkan bahwa perjalanan pariwisata Sumatera Barat pada Juli 2026 tidak hanya tentang siapa yang datang dari luar negeri. Di tengah turunnya kunjungan wisman, jutaan perjalanan wisatawan nusantara tetap membuat aktivitas perjalanan menuju berbagai daerah di Sumbar terus bergerak. (*)
















