Sumbardaily.com - Kinerja perdagangan luar negeri Sumatera Barat menunjukkan tren positif sepanjang semester pertama 2026. Nilai ekspor daerah ini mencapai US$1.568,05 juta atau tumbuh 22,33 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Peningkatan tersebut terutama didorong oleh sektor industri pengolahan yang mencatat pertumbuhan cukup tinggi.
Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Barat mengungkapkan bahwa peningkatan ekspor menjadi salah satu indikator ekonomi yang menonjol pada Januari hingga Juni 2026. "Nilai ekspor Sumatera Barat sepanjang Januari-Juni 2026 mencapai US$1.568,05 juta, mengalami peningkatan 22,33 persen dibanding periode yang sama tahun lalu," tulis BPS Sumbar dikutip resmi Kamis (5/8/2026).
BPS Sumbar juga menjelaskan bahwa sektor industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar terhadap kenaikan nilai ekspor. "Peningkatan ini terutama didorong oleh sektor industri pengolahan, yang mengalami peningkatan 26,23 persen," tulis BPS Sumbar dikutip resmi Kamis (5/8/2026).
Sepanjang Januari hingga Juni 2026, India masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar Sumatera Barat dengan nilai mencapai US$385,12 juta. Posisi berikutnya ditempati Pakistan sebesar US$239,84 juta, disusul Tiongkok senilai US$201,09 juta, Bangladesh sebesar US$173,00 juta, dan Myanmar mencapai US$136,65 juta.
Dari sisi komoditas, ekspor Sumatera Barat masih didominasi kelompok Lemak dan Minyak Hewan/Nabati (HS 15) yang menyumbang 85,39 persen dari total ekspor. Selanjutnya terdapat Berbagai Produk Kimia (HS 38) dengan kontribusi 3,53 persen serta Karet dan Barang dari Karet (HS 40) sebesar 3,07 persen.
Selain ekspor, aktivitas impor Sumatera Barat juga mengalami peningkatan cukup tajam sepanjang enam bulan pertama 2026. Nilai impor tercatat mencapai US$599,48 juta atau melonjak 166,26 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut BPS Sumbar, peningkatan impor tersebut terutama berasal dari kelompok bahan baku atau barang penolong. "Andil utama peningkatan nilai impor ini disumbang oleh impor bahan baku/penolong. Impor bahan baku/penolong ini secara kumulatif mengalami peningkatan 154,32 persen," tulis BPS Sumbar dikutip resmi Kamis (5/8/2026).
Singapura menjadi negara asal impor terbesar ke Sumatera Barat dengan nilai mencapai US$350,33 juta. Posisi berikutnya ditempati Malaysia sebesar US$157,18 juta, Argentina senilai US$32,48 juta, Kanada sebesar US$21,13 juta, dan Australia mencapai US$7,26 juta.
Komoditas impor terbesar masih didominasi Bahan Bakar Mineral (HS 27) dengan pangsa 84,21 persen. Selanjutnya Ampas atau Sisa Industri Makanan (HS 23) sebesar 7,43 persen dan Pupuk (HS 31) yang berkontribusi 3,49 persen.
Meski ekspor dan impor sama-sama meningkat, Sumatera Barat tetap membukukan surplus perdagangan. Neraca perdagangan pada Januari-Juni 2026 mencapai US$968,57 juta. Namun, angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai US$1.056,64 juta atau berkurang sebesar US$88,07 juta.
Selain perdagangan luar negeri, BPS Sumbar juga merilis perkembangan inflasi pada Juli 2026. Secara bulanan atau month to month (m-to-m), inflasi tercatat sebesar 0,07 persen. Secara tahun kalender (year to date/y-to-d), inflasi mencapai 1,05 persen, sedangkan secara tahunan (year on year/y-on-y) sebesar 4,12 persen.
Kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar inflasi bulanan dengan kenaikan harga sebesar 0,95 persen dan memberikan andil 0,10 persen. Komoditas yang paling berpengaruh berasal dari bensin serta biaya pemeliharaan atau servis kendaraan.
Dari empat daerah cakupan Indeks Harga Konsumen (IHK) di Sumatera Barat, tiga wilayah mengalami inflasi bulanan. Inflasi tertinggi terjadi di Kota Bukittinggi sebesar 0,28 persen, diikuti Kota Padang sebesar 0,09 persen dan Kabupaten Dharmasraya sebesar 0,02 persen. Sementara Kabupaten Pasaman Barat mengalami deflasi sebesar 0,04 persen.
Secara tahunan, seluruh kelompok pengeluaran mengalami inflasi. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi umum dengan kontribusi 1,86 persen.
Inflasi tahunan tertinggi tercatat di Kabupaten Dharmasraya sebesar 4,98 persen. Kota Padang menjadi wilayah dengan inflasi tahunan terendah yakni 3,82 persen. Kabupaten Pasaman Barat mencatat inflasi 4,68 persen, sedangkan Kota Bukittinggi sebesar 4,15 persen.
Pada sektor pariwisata, jumlah wisatawan mancanegara yang masuk melalui Bandara Internasional Minangkabau (BIM) pada Juni 2026 mencapai 7.078 kunjungan. Jumlah tersebut turun 8,28 persen dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 7.717 kunjungan.
Secara kumulatif Januari hingga Juni 2026, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mencapai 37.170 kunjungan atau turun 13,86 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berbeda dengan wisatawan mancanegara, perjalanan wisatawan nusantara menuju Sumatera Barat pada Juni 2026 justru meningkat menjadi 2,08 juta perjalanan atau naik 3,83 persen dibandingkan Mei 2026. Secara kumulatif selama Januari-Juni 2026, perjalanan wisatawan nusantara mencapai 12,15 juta perjalanan atau meningkat 3,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025.
BPS Sumbar juga mencatat tingkat penghunian kamar hotel berbintang pada Juni 2026 mencapai 52,16 persen, meningkat 5,99 poin dibandingkan Mei 2026 yang sebesar 46,17 persen. Sementara tingkat penghunian hotel nonbintang tercatat 21,71 persen atau naik 4,79 poin.
Di sektor transportasi, jumlah penumpang domestik yang berangkat melalui BIM pada Juni 2026 mencapai 80,26 ribu orang atau meningkat 32,99 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Penumpang domestik yang datang juga meningkat menjadi 72,13 ribu orang atau naik 8,83 persen.
Pada penerbangan internasional, jumlah penumpang yang berangkat mencapai 20,68 ribu orang atau meningkat 32,91 persen dibandingkan Mei 2026. Sementara penumpang yang datang tercatat sebanyak 19,82 ribu orang atau naik 39,10 persen.
Untuk angkutan laut dalam negeri, barang yang dimuat pada Juni 2026 mencapai 214,88 ribu ton atau turun 24,91 persen dibandingkan Mei 2026. Barang yang dibongkar juga turun 21,74 persen, dari 375,04 ribu ton menjadi 293,52 ribu ton.
Sementara itu, keberangkatan penumpang kereta api selama Juni 2026 mencapai 226,91 ribu orang atau meningkat 14,23 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Di sisi lain, jumlah barang yang diangkut menggunakan kereta api mengalami penurunan sebesar 25,38 persen secara bulanan. (*)
















