Foto AI dalam Jurnalistik: Pendukung Berita atau Ancaman Kebenaran?

Foto AI dalam Jurnalistik: Pendukung Berita atau Ancaman Kebenaran?

Tio Furqan (Foto: Dok Pribadi)

Catatan: Tio Furqan Pratama

Di era yang serba canggih dan instan ini, teknologi kerap kali membawa kita pada persimpangan dilema. Salah satu perdebatan paling hangat hari ini terjadi di ruang redaksi, tepatnya mengenai peran visual dalam dunia pers. Kehadiran Artificial Intelligence (AI) kini tidak hanya mengubah cara kita memproduksi teks, tetapi juga bagaimana kita merekayasa gambar.

Foto generatif AI, sebuah karya visual yang diciptakan lewat baris kode dan algoritma, kini begitu mudah diproduksi oleh siapa saja. Ironisnya, teknologi ini mulai merambah ke dalam industri pers, sering kali berlindung di balik dalih sebagai “elemen pendukung” atau pemanis visual dalam pemberitaan.
Di titik inilah esensi jurnalisme mulai dipertaruhkan.

Secara tradisional, sebuah berita membutuhkan foto bukan sekadar sebagai penghias halaman atau pemancing klik (clickbait). Foto dalam jurnalistik adalah bukti autentik; ia merupakan rekaman realitas yang menangkap momen nyata di lapangan. Sebuah karya foto jurnalistik sejati lahir dari peluh jurnalis yang hadir langsung di lokasi kejadian, menyaksikan peristiwa dengan mata kepala sendiri, dan membekukannya dalam satu bingkai yang jujur.

Ketika foto AI—yang sejatinya merupakan produk simulasi dan rekayasa digital—mulai menggantikan fungsi kamera di lapangan, kita patut bertanya: apakah jurnalisme sedang mengabarkan kebenaran atau justru ikut memproduksi fiksi?

Menormalisasi Kemalasan, Mengikis Kepercayaan

Menggunakan foto AI dalam produk jurnalistik, apa pun alasannya, berisiko mengikis fondasi paling sakral dalam pers: kepercayaan publik. Ketika batas antara kenyataan dan manipulasi digital menjadi kabur, masyarakat akan kesulitan membedakan mana fakta yang benar-benar terjadi dan mana “fakta” yang dirakit oleh mesin.

Jika visual buatan mesin ini terus dinormalisasi, taruhannya adalah kredibilitas media itu sendiri.
Sebagai seorang fotografer jurnalistik yang tumbuh di lapangan, saya menyaksikan fenomena ini mulai dianggap lazim dengan pembenaran yang menggelisahkan.

Alasan yang kerap dilempar ke permukaan biasanya berkisar pada keterbatasan waktu, demi mempercantik estetika berita, atau yang paling buruk: kemalasan untuk mengusahakan foto riil.

Logika instan ini sangat berbahaya. Ambil contoh saat sebuah bencana alam sedang berlangsung. Demi mengejar kecepatan agar mendahului media kompetitor, redaksi dengan mudah merakit deskripsi teks menjadi gambar AI yang mendramatisasi situasi.
Apakah mengejar kecepatan visual harus mengorbankan kebenaran faktual?

Memproduksi foto AI dalam situasi tersebut mencerminkan matinya daya usaha. Padahal, jika jurnalis tidak sempat ke lokasi, masih ada opsi yang jauh lebih etis dan jurnalistis: menggunakan foto warga di lokasi kejadian atau dokumentasi resmi pihak humas/otoritas setempat, dengan catatan tetap meminta izin penggunaan dan mencantumkan kredit pemilik foto secara jelas. Jurnalisme bekerja dengan memverifikasi realitas, bukan memfabrikasinya.

Opsi Terakhir, Bukan Kebiasaan

Bagi saya, penggunaan visual generatif AI dalam ruang siber wajib ditempatkan sebagai opsi paling buncit, jika bukan sepenuhnya dihindari untuk berita hard news. Visual tersebut mungkin masih bisa ditoleransi dalam artikel opini spekulatif atau ilustrasi masa depan, itu pun dengan label “ILUSTRASI AI” yang sangat tegas agar tidak mengecoh pembaca.

Namun, menjadikannya sebagai kebiasaan yang berulang dalam berita sehari-hari merupakan sebuah kemunduran moral profesi.

Jangan sampai atas nama modernisasi dan efisiensi, kita justru menyingkirkan peran fotografer dan jurnalis lapangan. Kamera boleh berganti dari analog ke digital, tetapi prinsip dasar jurnalisme tidak boleh bergeser: kita merekam dunia apa adanya, bukan menciptakan dunia yang kita inginkan.

Jika ruang redaksi mulai nyaman menyuapi pembaca dengan realitas semu buatan algoritma, maka pada hari itu pula jurnalisme telah kehilangan jiwanya. (*)

Baca Juga

BPJS Kesehatan Gratis di Padang Sudah Dinikmati 53 Ribu Warga, Kuota Masih Tersisa 26 Ribu
BPJS Kesehatan Gratis di Padang Sudah Dinikmati 53 Ribu Warga, Kuota Masih Tersisa 26 Ribu
Rumah Cetak Pitih Lengayang di Pesisir Selatan Terancam Rusak, Pemugaran Mulai Dikaji
Rumah Cetak Pitih Lengayang di Pesisir Selatan Terancam Rusak, Pemugaran Mulai Dikaji
Makna Kurban di Era Modern, Prof Alfurqan Soroti Kemelekatan Harta dan Kekuasaan
Makna Kurban di Era Modern, Prof Alfurqan Soroti Kemelekatan Harta dan Kekuasaan
Dua pelaku pencurian emas yang merupakan ibu dan anak diamankan Satreskrim Polresta Padang setelah aksinya terekam CCTV di toko emas.
Anak dan Ibu Kompak Curi Emas di Padang, Ternyata Residivis Kasus Serupa
Dua wisatawan asal Jerman menikmati suasana kawasan Kota Tua di Padang sambil mengunjungi destinasi wisata bersejarah dan ikon kota.
Wisatawan asal Jerman Kepincut Kota Tua Padang, Sebut Destinasi Ini Punya Pesona Berbeda
Gila Dangdut Jadi Eksperimen Baru The Virgin Gabungkan Rock dan Dangdut
Gila Dangdut Jadi Eksperimen Baru The Virgin Gabungkan Rock dan Dangdut