Sumbardaily.com, Tanah Datar – Pelaksanaan Car Free Day (CFD) yang rutin digelar setiap Minggu pagi di kawasan Lapangan Cindua Mato, Batusangkar, Kabupaten Tanah Datar, telah menjadi berkah tersendiri bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Kegiatan yang awalnya difokuskan sebagai ruang publik bebas kendaraan itu kini berkembang menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat, dengan ratusan pedagang menggantungkan harapan pada ramainya pengunjung setiap pekan.
Sejak pagi hari, kawasan Lapangan Cindua Mato dipadati masyarakat yang datang untuk berolahraga, berekreasi, sekaligus berburu kuliner. Momentum tersebut dimanfaatkan para pedagang kaki lima dari berbagai nagari untuk menawarkan aneka produk, mulai dari jajanan tradisional hingga makanan viral yang diminati lintas usia.
Kasi Lalu Lintas dan Angkutan Dinas Perhubungan Tanah Datar, Jack Maradona, mengungkapkan bahwa setiap pelaksanaan CFD tercatat sebanyak 196 pelaku UMKM turut berjualan. Jumlah tersebut menunjukkan besarnya ketergantungan pelaku usaha kecil terhadap kegiatan mingguan tersebut.
“Sejak CFD menjadi agenda rutin, ekonomi masyarakat cukup hidup. Pedagang yang berjualan tidak hanya berasal dari kawasan sekitar, tetapi juga dari nagari lain,” kata Jack Maradona, Minggu (18/1/2026).
Menurutnya, agar kegiatan berjalan tertib dan lancar, para pedagang diimbau sudah menempati lokasi berjualan sejak pukul 05.30 WIB. Hal ini seiring dengan penutupan akses jalan di sekitar kawasan CFD yang dimulai pukul 06.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB.
Untuk mendukung kenyamanan pengunjung dan kelancaran aktivitas ekonomi, Dinas Perhubungan Tanah Datar juga menyiapkan sejumlah titik parkir. Lokasi parkir tersebut tersebar di Gedung Nasional, sekitar Lapangan Gumarang, depan Kantor PMI, serta di samping Kantor Dinas Dukcapil.
Selain itu, pengaturan lalu lintas dilakukan dengan sistem pengalihan kendaraan. Arus dari arah Sungayang dialihkan menuju Parak Juar, dari arah Pagaruyung diarahkan ke Kampung Telang, sementara kendaraan dari arah Makam Pahlawan dialihkan ke kawasan SMP Negeri 2 dan Kampung Teleng.
Berkah CFD dirasakan langsung oleh para pelaku UMKM. Yolan, penjual brownies asal Simpuruik, mengaku kegiatan tersebut sangat membantu meningkatkan penjualannya. Dari sekitar 400 picis brownies yang dibawanya, seluruhnya habis terjual dengan harga mulai dari Rp2.500 hingga Rp7.000 per picis.
“Setiap CFD ini penjualan tidak bisa dipastikan, kadang bisa sampai 500 picis, kadang 400-an,” ujar Yolan.
Hal senada disampaikan Nia, pedagang makanan viral asal Lima Kaum. Ia menilai CFD Lapangan Cindua Mato memberikan peluang besar bagi pelaku usaha kecil untuk memperluas pasar dan meningkatkan pendapatan dalam waktu singkat.
Sementara itu, Ranti, penjual makanan stik asal Dobok, juga merasakan manfaat signifikan dari keramaian CFD. Dengan harga jual Rp10.000 per bungkus, ia mampu menjual antara 70 hingga 100 bungkus selama kegiatan berlangsung.
Dalam aktivitas sehari-harinya, Ranti juga memasok produknya ke sejumlah minimarket di Batusangkar, bahkan hingga ke Payakumbuh, Padang Panjang, dan Solok.
Dari sisi pengunjung, Dipo yang akrab disapa Uno menilai CFD memberikan dampak nyata bagi peningkatan ekonomi masyarakat. Ia melihat keberadaan CFD menjadi ruang promosi efektif bagi UMKM lokal.
“Banyak UMKM yang berjualan, mulai dari makanan tradisional sampai kuliner viral. Bahkan ada makanan yang jarang ditemui di pasar,” katanya.
Uno berharap ke depan pelaksanaan CFD dapat dikelola lebih terstruktur, khususnya terkait sterilisasi kawasan dari kendaraan, kebersihan lingkungan, serta penataan pedagang agar lebih tertib dan nyaman. Dengan pengelolaan yang baik, CFD dinilai mampu terus menjadi berkah berkelanjutan bagi pelaku UMKM dan ekonomi masyarakat Batusangkar. (red)
















