Cabai Merah Biang Inflasi di Sumbar September 2025, BPS: Naik 4,22 Persen

Cabai Merah Biang Inflasi di Sumbar September 2025, BPS: Naik 4,22 Persen

Ilustrasi Cabai (Foto: Kominfo Padang Panjang)

Sumbardaily.com, Padang – Pergerakan harga sejumlah komoditas di Sumatera Barat (Sumbar) pada September 2025 menunjukkan tren kenaikan signifikan. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumbar mencatat, inflasi year on year (yoy) mencapai 4,22 persen. Kenaikan itu didorong terutama oleh lonjakan harga cabai merah yang menjadi penyumbang utama inflasi sepanjang bulan tersebut.

Kepala BPS Provinsi Sumbar, Sugeng Arianto, menjelaskan bahwa inflasi tahunan itu tercermin dari peningkatan Indeks Harga Konsumen (IHK), dari 106,12 pada September 2024 menjadi 110,60 pada September 2025. Sementara secara bulanan (month to month), inflasi tercatat sebesar 0,85 persen, dan hingga September 2025 inflasi year to date mencapai 3,46 persen.

“Kontributor terbesar inflasi di Sumbar pada September adalah cabai merah, disusul oleh emas perhiasan, bawang merah, dan beberapa komoditas pangan lainnya,” ujar Sugeng dalam keterangannya, Jumat (3/10/2025).

Kenaikan di Hampir Semua Kelompok Pengeluaran

BPS mencatat, inflasi tahunan terutama dipicu oleh kenaikan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang tumbuh 8,14 persen. Kenaikan juga terjadi pada kelompok pakaian dan alas kaki (0,45 persen), perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga (1,31 persen), perlengkapan dan pemeliharaan rumah tangga (0,11 persen), kesehatan (2,20 persen).

Lalu transportasi (2,11 persen), rekreasi, olahraga, dan budaya (0,97 persen), pendidikan (3,83 persen), penyediaan makanan dan minuman/restoran (2,38 persen), serta perawatan pribadi dan jasa lainnya (11,66 persen).

Adapun kelompok yang mengalami penurunan adalah kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan dengan deflasi 0,17 persen.

Inflasi di Empat Daerah

Dari empat wilayah cakupan IHK di Sumbar, seluruhnya mencatat inflasi tahunan pada September 2025. Kabupaten Pasaman Barat menjadi daerah dengan inflasi tertinggi, mencapai 6,38 persen dengan IHK 112,87. Sementara Kota Padang mencatat inflasi terendah, yaitu 3,52 persen dengan IHK 109,75.

Dua wilayah lainnya, yakni Kabupaten Dharmasraya dan Kota Bukittinggi, masing-masing mengalami inflasi 4,61 persen (IHK 111,93) dan 4,40 persen (IHK 110,55).

Cabai Merah Dominasi Inflasi

Komoditas cabai merah menjadi penyumbang terbesar inflasi, baik secara tahunan maupun bulanan. Selain cabai merah, sejumlah komoditas lain yang memberikan andil inflasi tahunan meliputi emas perhiasan, bawang merah, mobil, sigaret kretek mesin (SKM), kontrak rumah, minyak goreng, daging ayam ras, biaya akademi atau perguruan tinggi, santan segar, tomat, tarif air PAM, nasi dengan lauk, sigaret kretek tangan (SKT), sigaret putih mesin (SPM), cabai hijau, kue basah, kelapa, udang basah, serta ikan gembolo/aso-aso.

Sementara itu, komoditas yang mendominasi inflasi bulanan adalah cabai merah, emas perhiasan, cabai hijau, ikan cakalang, biaya kuliah, cabai rawit, daging ayam ras, ikan tongkol, beras, sewa rumah, minyak goreng, ikan tandeman, tas sekolah, gulai, mie, ikan serai, popok bayi sekali pakai, dan wortel.

Di sisi lain, sejumlah komoditas justru memberikan andil deflasi, seperti bawang merah, jengkol, buncis, ketimun, tomat, telur ayam ras, daun bawang, santan segar, daun seledri, ikan aso-aso, terong, petai, kelapa, kentang, hingga pakan hewan peliharaan.

Sumbangan Inflasi Berdasarkan Kelompok

Secara rinci, andil inflasi tahunan terbesar berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau sebesar 2,66 persen. Kontributor berikutnya datang dari kelompok pakaian dan alas kaki (0,03 persen), perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga (0,24 persen), kesehatan (0,06 persen), transportasi (0,22 persen), rekreasi, olahraga, dan budaya (0,02 persen), pendidikan (0,17 persen), penyediaan makanan dan minuman/restoran (0,27 persen), serta perawatan pribadi dan jasa lainnya (0,56 persen).

Sugeng Arianto menegaskan, inflasi pada September 2025 menunjukkan peran dominan cabai merah yang konsisten menjadi pemicu kenaikan harga. “Pengendalian harga bahan pangan strategis, khususnya cabai merah, perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah,” katanya.

Tantangan Pengendalian Inflasi

Cabai merah kerap menjadi komoditas pemicu inflasi di Sumbar karena sifatnya yang mudah berfluktuasi. Cuaca, distribusi, dan pasokan sangat memengaruhi kestabilan harga di pasar. Hal ini membuat cabai merah menjadi komoditas yang berulang kali menyumbang inflasi setiap periode.

Dengan kondisi ini, pengendalian inflasi di Sumbar membutuhkan kolaborasi antara pemerintah daerah, produsen, hingga pelaku distribusi. Ketersediaan stok yang memadai serta kelancaran rantai pasok diharapkan mampu meredam gejolak harga, khususnya menjelang akhir tahun yang biasanya ditandai dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat. (ik)

Baca Juga

Petugas pemadam kebakaran memadamkan api yang membakar puluhan rumah petak di kawasan padat penduduk Kampung Jao Dalam, Kecamatan Padang Barat.
Kebakaran di Padang Hanguskan 34 Rumah dan Gudang Onderdil Motor, Kerugian Tembus Rp1 Miliar Lebih
Tangis Haru Guru Mengaji Bukittinggi Saat Pulang Haji, Impian Sejak Kecil Akhirnya Terwujud
Tangis Haru Guru Mengaji Bukittinggi Saat Pulang Haji, Impian Sejak Kecil Akhirnya Terwujud
Antisipasi Kenaikan Harga Bahan Pokok, Pemkab Dharmasraya Kembali Gelar Gerakan Pangan Murah
Antisipasi Kenaikan Harga Bahan Pokok, Pemkab Dharmasraya Kembali Gelar Gerakan Pangan Murah
Soroti LGBT di Sumbar, Tim Ahli DPRD Kaji Perda Penyelenggaraan Ketenteraman Masyarakat
Soroti LGBT di Sumbar, Tim Ahli DPRD Kaji Perda Penyelenggaraan Ketenteraman Masyarakat
Ilustrasi aktivitas sektor energi dan distribusi bahan bakar Pertamina yang berkaitan dengan isu kenaikan harga Pertamax serta penguatan ketahanan energi nasional.
Kenaikan Harga Pertamax jadi Alarm Nasional, Serikat Pekerja Pertamina Serukan Langkah Nyata
Kemenag Usulkan Rp9,6 Triliun untuk Kesejahteraan Guru Agama pada 2027
Kemenag Usulkan Rp9,6 Triliun untuk Kesejahteraan Guru Agama pada 2027