Sumbardaily.com – BMKG Minangkabau memprakirakan sebagian wilayah Sumatera Barat (Sumbar) masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga sedang selama periode 7-13 Agustus 2026.
Meski pada awal periode tidak terdapat wilayah dengan status siaga maupun awas, masyarakat tetap diminta meningkatkan kewaspadaan karena terdapat tiga kabupaten yang berpotensi mengalami hujan dengan intensitas sedang hingga lebat pada pertengahan pekan.
Dalam pembaruan yang dirilis Jumat (7/8/2026) pukul 11.00 WIB, BMKG Minangkabau menyampaikan bahwa potensi hujan sepekan ke depan secara umum berada pada kategori hujan intensitas sedang di sebagian wilayah Sumbar.
Berdasarkan informasi umum BMKG, distribusi hujan pada periode 4-6 Agustus 2026 menunjukkan curah hujan berkategori ringan hingga lebat di sejumlah wilayah Sumbat.
Pada 4 Agustus 2026, hujan dengan kategori ringan hingga sedang terjadi di berbagai daerah. Intensitas tertinggi tercatat di Kabupaten Kepulauan Mentawai dengan curah hujan mencapai 37,0 milimeter.
Selanjutnya, pada 5 Agustus 2026, terjadi peningkatan curah hujan dengan kategori ringan hingga lebat. Hujan berintensitas lebat tercatat di Kabupaten Agam dengan curah hujan 90,5 milimeter.
Sementara pada 6 Agustus 2026, sebagian besar wilayah Sumbar masih mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga lebat. Curah hujan tertinggi pada kategori lebat tercatat di Kabupaten Solok Selatan sebesar 52,8 milimeter.
BMKG Minangkabau menjelaskan, kondisi cuaca selama periode tersebut dipengaruhi oleh sejumlah fenomena lokal dan regional. Pertumbuhan awan hujan didorong oleh adanya belokan angin dan konvergensi yang konsisten terbentuk pada 4-6 Agustus, serta didukung pasokan uap air yang memadai akibat anomali suhu permukaan laut di Samudra Hindia bagian barat Sumatera.
Selain itu, pada 5 Agustus 2026, dinamika atmosfer juga diperkuat oleh aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial dan MJO yang aktif secara spasial di wilayah pesisir barat Sumatera. Kondisi tersebut meningkatkan peluang terbentuknya awan konvektif sebelum akhirnya melemah pada 6 Agustus.
Memasuki periode 7-13 Agustus 2026, BMKG menyebut dinamika atmosfer di Sumatera Barat masih dipengaruhi berbagai fenomena regional yang mendukung pembentukan awan hujan.
Meskipun fenomena iklim global seperti El Niño kuat dan IOD positif mendorong kondisi kering di sebagian besar wilayah Indonesia, potensi pertumbuhan awan hujan di Sumbar masih dipicu oleh lintasan Gelombang Kelvin serta filter spasial MJO.
Kondisi tersebut diperkuat dengan terbentuknya pusat tekanan rendah di Samudra Hindia bagian barat Bengkulu yang memicu daerah konvergensi dan konfluensi di perairan barat daya Sumatera Barat.
Atas kondisi tersebut, BMKG memperkirakan Sumatera Barat masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga sedang selama sepekan ke depan.
Untuk periode 7-9 Agustus 2026, cuaca di Sumbar diprakirakan didominasi kondisi cerah berawan hingga hujan ringan. BMKG menyatakan tidak ada wilayah yang masuk kategori Waspada (Hujan Sedang-Lebat), Siaga (Hujan Lebat-Sangat Lebat), Awas (Hujan Sangat Lebat-Ekstrem) maupun potensi angin kencang.
Sementara itu, pada periode 10-13 Agustus 2026, cuaca diprediksi didominasi hujan ringan hingga sedang. BMKG menetapkan status Waspada (Hujan Sedang-Lebat) untuk Kabupaten Kepulauan Mentawai, Kabupaten Pasaman Barat, dan Kabupaten Pasaman.
Adapun untuk kategori Siaga (Hujan Lebat-Sangat Lebat), Awas (Hujan Sangat Lebat-Ekstrem), serta potensi angin kencang, BMKG menyatakan nihil.
BMKG Minangkabau juga mengeluarkan sejumlah imbauan kepada masyarakat dan para pemangku kepentingan. Masyarakat di wilayah yang berpotensi terdampak fenomena atmosfer signifikan diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan cuaca signifikan yang dapat terjadi.
Selain itu, warga diimbau mewaspadai potensi sambaran petir dengan menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, maupun bangunan yang rapuh. Aktivitas di ruang terbuka juga disarankan dibatasi saat hujan disertai angin kencang dan petir.
BMKG Minangkabau turut mengingatkan masyarakat agar secara berkala memantau informasi prakiraan cuaca, peringatan dini, dan peringatan cuaca ekstrem melalui kanal informasi resmi BMKG, serta melakukan langkah-langkah antisipatif di lingkungan sekitar guna meminimalkan potensi dampak cuaca ekstrem. (*)
















