Sumbardaily.com - Jumlah titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi di Indonesia mengalami penurunan tajam dalam pemantauan terbaru. Namun, perkembangan tersebut belum sepenuhnya menjadi tanda ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berakhir, terutama di wilayah Sumatera.
Salah satu daerah yang menjadi perhatian adalah Sumatera Selatan. Di tengah penurunan jumlah hotspot secara nasional, provinsi tersebut justru mencatat lonjakan titik panas dan menjadi wilayah dengan hotspot high confidence terbanyak di antara enam provinsi prioritas pengendalian karhutla.
Berdasarkan pemantauan Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (SiPongi) Kementerian Kehutanan hingga Sabtu (3/10/2026) pukul 21.10 WIB, terdeteksi 666 hotspot high confidence secara nasional.
Angka tersebut menunjukkan penurunan cukup besar dibandingkan sehari sebelumnya. Pada Jumat (2/10), jumlah hotspot high confidence yang terdeteksi mencapai 1.271 titik.
Dengan demikian, terdapat penurunan sebanyak 605 titik dalam satu hari.
Meski angka nasional turun, kondisi di sejumlah wilayah masih membutuhkan perhatian. Sumatera Selatan menjadi contoh paling menonjol karena jumlah hotspot di provinsi tersebut meningkat dari 83 titik menjadi 254 titik.
Artinya, terjadi penambahan 171 hotspot high confidence dalam pemantauan terbaru.
Kondisi ini membuat Sumatera Selatan berada di posisi teratas di antara enam provinsi yang menjadi prioritas pengendalian karhutla. Lima provinsi lainnya yakni Kalimantan Tengah, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Jambi.
Data Kementerian Kehutanan menunjukkan Kalimantan Tengah mencatat 96 hotspot, turun cukup jauh dari 355 titik. Riau memiliki 32 titik setelah sebelumnya tidak terdeteksi hotspot high confidence.
Kemudian Kalimantan Barat mencatat 26 titik, turun dari 246 titik. Kalimantan Selatan memiliki 18 titik, berkurang dari 42 titik. Sementara Jambi mencatat 3 hotspot setelah sebelumnya nihil.
Jika digabungkan, enam provinsi prioritas tersebut mencatat 429 hotspot high confidence. Jumlah itu turun dari 726 titik pada pemantauan sehari sebelumnya.
Penanggung jawab berita, Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan Ristianto Pribadi, menyebut penurunan secara nasional merupakan perkembangan positif. Namun, kondisi setiap wilayah tetap perlu dilihat secara terpisah karena pergerakan hotspot tidak seragam.
"Penurunan nasional menjadi perkembangan yang positif, namun dinamika antarwilayah tetap berbeda. Sumatera Selatan saat ini menjadi wilayah dengan hotspot tertinggi di antara enam provinsi prioritas, sementara penurunan cukup signifikan terjadi di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat," kata Ristianto Pribadi, dikutip dari Kementerian Kehutanan Senin (5/10/2026).
Kementerian Kehutanan juga mengingatkan bahwa angka hotspot tidak dapat langsung diterjemahkan sebagai jumlah kebakaran ataupun luas lahan yang terbakar.
Hotspot merupakan indikasi adanya anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit. Karena itu, satu kejadian kebakaran dapat menghasilkan beberapa titik panas yang terdeteksi.
Setiap indikasi hotspot tetap perlu diperiksa lebih lanjut melalui groundcheck. Langkah tersebut diperlukan untuk mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan sekaligus menentukan tindakan pengendalian yang sesuai.
Operasi Darat dan Udara Tetap Disiagakan
Penurunan hotspot nasional tidak membuat pemerintah menghentikan kesiapsiagaan. Pengendalian karhutla tetap dilakukan secara terpadu dengan melibatkan berbagai unsur.
Manggala Agni Kementerian Kehutanan bekerja bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, serta berbagai pihak terkait dalam penanganan karhutla.
Pemerintah juga menyiagakan 61 unit armada udara untuk mendukung operasi pengendalian kebakaran hutan dan lahan.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 17 unit digunakan untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Sementara 44 unit lainnya disiapkan untuk operasi water bombing.
Kesiapsiagaan tersebut menjadi penting karena kebakaran, terutama di kawasan gambut, memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan kebakaran di lahan biasa.
Bara api dapat tetap bertahan di bawah permukaan tanah meskipun kobaran api yang terlihat dari atas sudah menghilang. Kondisi tersebut membuat proses pemadaman tidak cukup hanya dengan memastikan api di permukaan sudah tidak terlihat.
Pembasahan dan pendinginan harus terus dilakukan sampai lokasi dinyatakan benar-benar aman.
Kualitas Udara di Sumatera Juga Dipantau
Selain memantau perkembangan hotspot, pemerintah terus memperhatikan kualitas udara melalui konsentrasi PM2,5. Pemantauan tersebut menjadi bagian dari upaya melindungi masyarakat dari dampak asap dan partikulat akibat kebakaran.
Secara umum, sebagian besar wilayah Indonesia masih berada pada kategori kualitas udara baik hingga sedang. Namun, sejumlah wilayah masih menunjukkan kondisi tidak sehat hingga sangat tidak sehat.
Wilayah dengan kondisi tersebut terdapat di sejumlah bagian Sumatera, Kalimantan, Jawa, dan Papua. Bahkan, pada beberapa lokasi masih ditemukan kategori udara berbahaya.
Kondisi kualitas udara tidak bersifat tetap. Perubahannya dapat mengikuti perkembangan kebakaran, konsentrasi partikulat, arah dan kecepatan angin, serta dinamika atmosfer lainnya.
Karena itu, masyarakat di wilayah yang terdampak diminta mengikuti perkembangan informasi kualitas udara dan arahan pemerintah daerah.
Jika kualitas udara memburuk, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Penggunaan masker juga disarankan apabila aktivitas di luar rumah tidak dapat dihindari.
Kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, serta masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan atau penyakit kronis juga perlu mendapatkan perhatian lebih.
Satwa Liar Ikut Terancam
Karhutla bukan hanya berdampak terhadap kawasan hutan dan kualitas udara. Kebakaran juga dapat mengganggu habitat, sumber pakan, serta jalur pergerakan satwa liar.
Kementerian Kehutanan melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) dan unit terkait terus melakukan pemantauan serta penanganan terhadap satwa yang terdampak kebakaran.
Penanganan satwa dilakukan berdasarkan hasil asesmen di lapangan. Tindakan yang dilakukan dapat berupa evakuasi dan penyelamatan, pemeriksaan serta perawatan medis, rehabilitasi, translokasi, hingga pelepasliaran kembali.
Pelepasliaran dapat dilakukan apabila kondisi satwa dan habitatnya sudah memungkinkan.
Masyarakat yang menemukan satwa liar terluka, terjebak, terdampak kebakaran, atau masuk ke kawasan permukiman juga diminta tidak melakukan evakuasi secara mandiri.
Masyarakat diminta menjaga jarak dari satwa dan tidak melakukan tindakan yang berpotensi membuat satwa mengalami stres atau menjadi agresif.
Apabila memungkinkan, lokasi serta kondisi satwa dapat dicatat untuk membantu proses penanganan. Selanjutnya, laporan dapat disampaikan kepada BKSDA atau petugas kehutanan terdekat.
Hotspot Turun Bukan Berarti Karhutla Selesai
Kementerian Kehutanan kembali meminta masyarakat dan pelaku usaha tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar.
Penurunan jumlah hotspot secara nasional belum dapat dijadikan alasan untuk menurunkan kewaspadaan. Kondisi karhutla sangat dinamis dan dapat berubah dalam waktu singkat.
Perubahan tersebut dapat dipengaruhi kondisi cuaca, keadaan lahan, serta aktivitas yang berlangsung di lapangan.
Data terbaru memperlihatkan bagaimana situasi antarwilayah dapat bergerak berbeda. Ketika hotspot nasional turun 605 titik, Sumatera Selatan justru mengalami peningkatan dari 83 menjadi 254 titik.
Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pemantauan hingga tingkat wilayah, khususnya di daerah yang masih memiliki konsentrasi hotspot tinggi.
Pemerintah pun mempertahankan operasi pengendalian melalui jalur darat dan udara, sembari terus melakukan pemantauan kualitas udara dan dampak karhutla terhadap lingkungan serta satwa liar.
Bagi masyarakat Sumatera, perkembangan hotspot tersebut menjadi pengingat bahwa penurunan angka secara nasional belum otomatis berarti seluruh wilayah berada dalam kondisi aman dari ancaman karhutla. (*)














