Erupsi Anak Krakatau Bukan Akhir, Guru Besar Unand Ungkap 'Jam' Baru Pembentukan Tanah

Erupsi Anak Krakatau Bukan Akhir, Guru Besar Unand Ungkap 'Jam' Baru Pembentukan Tanah

Gunung Anak Krakatau erupsi pada Minggu (6/9/2026). (Foto: Kementerian ESDM)

Sumbardaily.com – Erupsi Anak Krakatau sejak 4 September 2026 tak hanya menyebarkan abu vulkanik hingga berbagai wilayah, tetapi juga menjadi awal dari proses alam yang berlangsung jauh lebih panjang. Di balik material yang kini dianggap sebagai dampak bencana, terdapat proses pembentukan tanah yang dapat berlangsung selama puluhan hingga ratusan tahun.

Guru Besar Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Andalas (Unand), Prof. Dian Fiantis, menjelaskan abu dan material vulkanik yang baru dikeluarkan gunung api merupakan bahan awal pembentukan tanah.

Menurutnya, perhatian masyarakat terhadap erupsi umumnya tertuju pada dampak langsung seperti abu, lontaran material, aliran lava, hingga ancaman terhadap penduduk. Namun, dari perspektif ilmu tanah, material tersebut justru menjadi awal perjalanan baru setelah aktivitas erupsi mereda.

"Material yang baru dikeluarkan gunung api merupakan bahan induk tanah. Abu, lapili, skoria, dan pecahan batuan didominasi mineral primer dan gelas vulkanik," kata Prof Dian, dilansir dari Kepakaran Unand, Senin (7/9/2026).

Erupsi Anak Krakatau berlangsung sejak 4 September 2026. Abu vulkanik yang dilontarkan kemudian terbawa angin jauh dari Selat Sunda. Sebarannya tidak hanya mencapai Lampung Selatan dan Banten, tetapi juga terdeteksi hingga Jakarta, Jawa Barat, bahkan kawasan Bandung.

Pada 6 September, BMKG mengidentifikasi sebaran abu dalam dua klaster yang mencakup Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Lampung hingga Bengkulu. Dampaknya bahkan merambah sektor penerbangan karena sejumlah bandar udara sempat ditutup demi alasan keselamatan.

Namun, setelah material vulkanik tersebut jatuh dan menutupi permukaan bumi, proses yang berlangsung bukan hanya persoalan dampak erupsi. Abu, lapili, skoria, dan pecahan batuan perlahan dapat mengalami pelapukan dan menjadi bagian dari proses pembentukan tanah.

Dari Krakatau Purba ke Anak Krakatau

Kepulauan Krakatau di Selat Sunda menjadi salah satu kawasan yang dapat menggambarkan perjalanan panjang tersebut. Kawasan ini masih menyimpan jejak Krakatau Purba yang diperkirakan mengalami erupsi besar dan keruntuhan kaldera sekitar abad ke-5 hingga ke-6 M.

Bagian tubuh gunung purba yang tersisa antara lain membentuk Pulau Sertung dan Pulau Panjang.

Aktivitas vulkanik kemudian kembali membangun tubuh Krakatau di dalam kawasan kaldera. Tiga puncak utama yang terbentuk yakni Rakata, Danan, dan Perbuwatan.

Letusan dahsyat pada 1883 menghancurkan Danan dan Perbuwatan serta menyisakan sebagian Rakata. Beberapa dasawarsa kemudian, aktivitas vulkanik kembali muncul dari dasar laut.

Sejak 1927-1928, aktivitas tersebut kembali berkembang dan puncak Anak Krakatau muncul pada 1930. Hingga kini, Anak Krakatau terus mengalami erupsi, pertumbuhan, keruntuhan, serta perubahan bentuk.

Rangkaian sejarah tersebut membuat Kepulauan Krakatau dapat dipandang sebagai rekaman perjalanan waktu pembentukan tanah. Material vulkanik yang pada awalnya hampir tidak memiliki bahan organik secara perlahan mengalami pelapukan, kemudian ditumbuhi organisme hingga berkembang menjadi tanah.

Dalam ilmu tanah, perkembangan tersebut dapat dipelajari menggunakan pendekatan kronosekuen. Material dan tanah dengan umur berbeda dibandingkan untuk mengetahui pengaruh waktu terhadap perkembangan tanah.

Akan tetapi, kondisi Krakatau tidak sepenuhnya terkendali. Erupsi berulang, erosi, pertumbuhan vegetasi, perubahan garis pantai, serta keruntuhan tubuh gunung terus mengubah permukaan.

Kondisi yang dinamis tersebut justru membuat kawasan Krakatau menjadi laboratorium alam yang menarik.

Penelitian Anak Krakatau 2018 Ungkap Fase Awal

Penelitian terhadap material erupsi Anak Krakatau 2018 memberikan kesempatan untuk melihat kondisi yang mendekati awal pembentukan tanah.

Sampel yang diambil sekitar dua hingga tiga bulan setelah erupsi masih memperlihatkan karakter material vulkanik yang sangat muda.

"Material tersebut didominasi mineral primer, terutama plagioklas, termasuk labradorit, serta gelas vulkanik. Mineral sekunder yang biasanya menjadi ciri tanah vulkanik yang telah berkembang, seperti alofan dan imogolit, praktis belum terbentuk," ujar Dian.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembentukan tanah membutuhkan waktu. Material yang baru saja dikeluarkan gunung api belum langsung berubah menjadi tanah yang berkembang.

Meski demikian, material muda tersebut tetap menyimpan potensi kesuburan. Di dalam mineral vulkanik terdapat berbagai unsur seperti kalsium, magnesium, kalium, dan unsur lainnya.

Namun, keberadaan unsur tersebut belum berarti semuanya dapat langsung dimanfaatkan tanaman.

"Di dalam mineral vulkanik tersimpan berbagai unsur seperti kalsium, magnesium, kalium, dan unsur lainnya. Unsur-unsur itu belum semuanya tersedia bagi tanaman. Waktu, air, suhu, organisme, dan proses kimia harus bekerja untuk melepaskannya," jelasnya.

Setelah material berada di permukaan, air hujan mulai memasuki pori-pori material vulkanik. Mineral kemudian mengalami reaksi kimia. Sebagian unsur terlarut dilepaskan, sementara unsur lain membentuk mineral baru.

Mikroorganisme mulai datang. Lumut dan tumbuhan pionir berkembang. Akar tanaman menembus material, kemudian sisa tanaman yang mati mengalami dekomposisi. Karbon pun mulai masuk ke dalam sistem.

"Perlahan-lahan material geologi berubah menjadi tubuh tanah yang hidup," kata Dian.

Tanah Menyimpan Rekaman Waktu

Proses pembentukan tanah tersebut dapat dibandingkan dengan tanah pada bagian Kepulauan Krakatau yang lebih tua.

Penelitian tanah di kawasan tersebut menunjukkan setelah beberapa dasawarsa, proses pedogenesis mulai meninggalkan tanda yang dapat diukur. Akumulasi humus meningkat dan komposisi kimia material mengalami perubahan.

Unsur-unsur yang relatif mudah tercuci berkurang, sedangkan besi dan aluminium relatif terakumulasi.

Perubahan itu menunjukkan bahwa tanah bukan terbentuk dalam waktu singkat. Prosesnya merupakan perjalanan panjang yang dipengaruhi material vulkanik, iklim, organisme, relief, serta waktu.

Dengan membandingkan material sangat muda Anak Krakatau dengan permukaan yang lebih tua di Sertung, Panjang, atau Rakata, pengaruh waktu terhadap material vulkanik dapat dibaca.

Namun, jam pembentukan tanah di Anak Krakatau tidak selalu berjalan mulus.

Erupsi yang terus terjadi membuat permukaannya berulang kali menerima material baru. Vegetasi yang mulai tumbuh dapat kembali tertutup abu atau material piroklastik. Tanah muda yang baru berkembang juga dapat terkubur kembali.

Keruntuhan besar pada Desember 2018 bahkan mengubah morfologi Anak Krakatau secara drastis.

Dalam perspektif pedologi, kondisi tersebut dapat dipandang sebagai semacam pengaturan ulang jam pembentukan tanah. Ketika permukaan baru muncul, material segar kembali menjadi titik awal proses pelapukan dan kolonisasi kehidupan.

Abu Vulkanik Hari Ini, Tanah di Masa Depan

Bagi masyarakat, abu vulkanik tentu lebih dikenal sebagai ancaman. Abu dapat mengganggu pernapasan, transportasi, penerbangan, pertanian, sumber air, serta kehidupan masyarakat dalam waktu singkat.

Namun, dalam rentang waktu yang lebih panjang, material tersebut memiliki peran berbeda. Material yang menjadi bencana hari ini dapat menjadi bahan induk tanah pada masa mendatang.

Indonesia memiliki banyak kawasan pertanian produktif yang berkembang di atas material vulkanik. Kesuburan tersebut tidak muncul secara langsung setelah erupsi.

Kesuburan merupakan hasil interaksi panjang antara material vulkanik, iklim, organisme, relief, dan waktu. Krakatau memperlihatkan proses tersebut dalam skala yang dapat diamati.

Anak Krakatau menggambarkan tahap awal perjalanan. Pulau-pulau yang lebih tua memperlihatkan perubahan yang dapat dilakukan oleh puluhan hingga ratusan tahun pelapukan dan kehidupan. Sementara itu, jejak Krakatau Purba menunjukkan bahwa bentang alam saat ini hanyalah satu bagian dari sejarah geologi yang jauh lebih panjang.

Karena itu, aktivitas Anak Krakatau yang kembali menarik perhatian tidak hanya penting dilihat dari sisi kebencanaan. Setiap lapisan abu, lapili, dan lava yang ditambahkan gunung tersebut juga menjadi bahan baru bagi bentang alam masa depan.

Manusia melihat erupsi dalam ukuran waktu yang relatif pendek, seperti menit, hari, atau tahun. Tanah memiliki ukuran waktunya sendiri.

Di Kepulauan Krakatau, kedua skala waktu itu dapat dibaca bersamaan. Gunung api dapat mengubah bentang alam dengan sangat cepat, sedangkan proses pembentukan tanah berlangsung perlahan setelahnya.

Gunung dapat menghancurkan bentang alam dalam hitungan jam. Setelah itu, kehidupan kembali hadir, mineral mengalami pelapukan, akar mulai tumbuh, karbon terakumulasi, dan tanah terbentuk.

Krakatau Purba hingga Anak Krakatau memperlihatkan bahwa ketika sebuah letusan berakhir, proses alam sebenarnya belum selesai. Bagi tanah, material yang ditinggalkan erupsi justru menjadi awal perjalanan baru. (*)

Baca Juga

Feri Amsari Disebut Jarang Mengajar di Unand, Singgung Hasil BKD dan Dugaan Operasi Intelijen Partai Pemerintah
Feri Amsari Disebut Jarang Mengajar di Unand, Singgung Hasil BKD dan Dugaan Operasi Intelijen Partai Pemerintah
Energi Terbarukan Sumbar Butuh Inovasi, Unand Didorong jadi Motor Perubahan
Energi Terbarukan Sumbar Butuh Inovasi, Unand Didorong jadi Motor Perubahan
Mencari Rumah, Menemukan Diri: Membaca Simbol The Odyssey dari Perspektif Suluk
Mencari Rumah, Menemukan Diri: Membaca Simbol The Odyssey dari Perspektif Suluk
Unand Tunjukkan Peran Strategis Bangun Ketahanan Nasional Lewat Riset dan Inovasi
Unand Tunjukkan Peran Strategis Bangun Ketahanan Nasional Lewat Riset dan Inovasi
Gubernur Lemhannas Ace Hasan Syadzily menyampaikan kuliah umum dalam program Lemhannas Goes to Campus di Universitas Andalas.
Indonesia jadi Rebutan Pengaruh Dunia, Lemhanas Minta Anak Muda Pahami Geopolitik
Neuroparenting Ubah Peran Ganda Perempuan Jadi Kekuatan Ekonomi Bangsa
Neuroparenting Ubah Peran Ganda Perempuan Jadi Kekuatan Ekonomi Bangsa