Dari Italia hingga Nigeria, Ini 10 Tim yang Menargetkan Comeback di Piala Dunia 2030

Dari Italia hingga Nigeria, Ini 10 Tim yang Menargetkan Comeback di Piala Dunia 2030

Trofi Piala Dunia (Foto: FIFA)

Sumbardaily.com – Berakhirnya perjalanan menuju Piala Dunia 2026 meninggalkan cerita pahit bagi sejumlah negara yang selama ini memiliki sejarah panjang di ajang sepak bola terbesar besutan FIFA. Meski turnamen edisi terbaru menjadi yang terbesar sepanjang sejarah dengan melibatkan 48 peserta, beberapa negara besar justru gagal mengamankan tempat dan harus mengubur impian tampil di panggung dunia.

Di balik kegagalan tersebut, muncul tekad baru untuk melakukan comeback pada Piala Dunia 2030. Sejumlah mantan juara dunia, finalis, hingga tim yang selama bertahun-tahun menjadi langganan tampil di putaran final kini mulai mengalihkan fokus mereka ke persiapan jangka panjang demi mengembalikan nama besar masing-masing.

FIFA pun menyoroti sepuluh negara yang dinilai memiliki sejarah kuat di Piala Dunia sekaligus peluang untuk kembali bersaing pada edisi 2030. Negara-negara tersebut sama-sama membawa misi kebangkitan setelah melewati periode sulit dalam beberapa tahun terakhir.

Italia Bertekad Mengakhiri Kutukan Kualifikasi

Italia menjadi salah satu sorotan utama dalam daftar tersebut. Negara yang telah mengoleksi empat gelar juara Piala Dunia itu kini menghadapi situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah sepak bolanya.

Azzurri tercatat gagal lolos ke tiga edisi Piala Dunia secara beruntun. Catatan tersebut sangat kontras mengingat sebelumnya Italia mampu tampil dalam 18 dari 20 edisi Piala Dunia.

Pada perjalanan menuju Piala Dunia tahun ini, Italia sempat finis di belakang Norwegia pada babak kualifikasi. Meski demikian, peluang mereka tetap terbuka melalui jalur play-off.

Harapan tersebut sempat terlihat nyata ketika Italia berhasil melaju hingga partai final play-off. Namun, langkah mereka akhirnya terhenti secara dramatis setelah Bosnia dan Herzegovina menang melalui adu penalti.

Kegagalan itu membuat Italia belum kembali tampil di panggung tertinggi sepak bola internasional sejak tersingkir pada fase grup Piala Dunia 2014.

Sebagai negara yang pernah menjadi tuan rumah Piala Dunia pada 1934 dan 1990 serta dua kali menjuarai Piala Eropa, Italia kini bertekad mengakhiri kutukan di babak kualifikasi.

Dengan deretan pemain bertalenta yang dimiliki, tim asuhan Gennaro Gattuso optimistis mampu membangun skuad yang lebih solid untuk merebut tiket menuju Piala Dunia 2030.

Denmark Ingin Menebus Dua Kegagalan Beruntun

Denmark memang baru mencicipi Piala Dunia pada 1986. Namun sejak saat itu, De Rod-Hvide berkembang menjadi salah satu negara yang cukup konsisten tampil di turnamen empat tahunan tersebut.

Hingga kini Denmark telah tampil enam kali di Piala Dunia, dengan pencapaian terbaik menembus babak perempat final pada 1998.

Harapan untuk kembali tampil pada Piala Dunia tahun ini sebenarnya sempat terbuka lebar.

Denmark hampir mengamankan tiket lolos langsung sebelum akhirnya kalah dari Skotlandia pada laga terakhir Grup C. Saat pertandingan memasuki menit-menit akhir, mereka masih berada dalam posisi imbang hingga sembilan menit sebelum waktu normal berakhir.

Kekalahan tersebut membuat Denmark harus menempuh jalur play-off.

Sayangnya, perjalanan mereka kembali terhenti setelah kalah melalui adu penalti melawan Ceko pada pertandingan penentuan.

Kegagalan itu memperpanjang kekecewaan Denmark setelah sebelumnya tampil di bawah ekspektasi pada Piala Dunia Qatar 2022.

Saat itu, juara UEFA EURO 1992 tersebut langsung tersingkir pada fase grup.

Kini harapan baru berada di tangan Brian Riemer.

Apabila mampu memaksimalkan kualitas pemain yang dimiliki, terutama dalam menghadapi pertandingan penuh tekanan, Denmark diyakini memiliki peluang besar untuk segera kembali tampil di Piala Dunia 2030.

Polandia Bersiap Memulai Era Baru Tanpa Ketergantungan pada Lewandowski

Polandia termasuk salah satu negara dengan sejarah panjang di Piala Dunia.

Mereka telah sembilan kali tampil di putaran final dan dua kali berhasil mengakhiri turnamen di posisi ketiga, masing-masing pada 1974 dan 1982.

Empat tahun lalu Polandia sempat mengakhiri penantian panjang setelah berhasil lolos ke fase gugur untuk pertama kalinya sejak 1986.

Namun pencapaian tersebut gagal diulang pada perjalanan menuju Piala Dunia tahun ini.

Polandia harus puas finis di belakang Belanda pada klasemen Grup G sehingga kembali menempuh jalur play-off.

Pada pertandingan final play-off, Orly harus mengakui keunggulan Swedia dengan skor 3-2 sehingga impian mereka tampil di putaran final kembali pupus.

Kondisi tersebut diperkirakan menjadi awal dari perubahan besar dalam tubuh tim nasional Polandia.

Salah satu fokus utama adalah mempersiapkan regenerasi karena era Robert Lewandowski sebagai tumpuan utama tim diperkirakan segera berakhir.

Saat Piala Dunia 2030 digelar nanti, usia penyerang senior tersebut diproyeksikan telah mencapai 38 tahun.

Meski demikian, Polandia tetap memiliki alasan untuk optimistis.

Negara tersebut dinilai mempunyai banyak pemain muda berbakat di berbagai kelompok umur yang diyakini mampu menggantikan peran Lewandowski sekaligus mengisi berbagai posisi penting dalam skuad masa depan.

Hungaria Berusaha Mengakhiri Penantian Panjang

Hungaria merupakan salah satu negara dengan sejarah yang sangat kuat di Piala Dunia.

Magyarok sudah sembilan kali tampil dan dua kali berhasil mencapai partai final.

Mereka juga pernah meraih medali perak pada Piala Dunia 1938 dan 1954.

Namun, sejak terakhir tampil pada 1986, Hungaria belum pernah lagi kembali ke ajang sepak bola paling bergengsi tersebut.

Masa penantian itu kini menjadi yang terpanjang dibandingkan negara lain yang masuk dalam daftar FIFA.

Harapan untuk setidaknya melangkah ke babak play-off pada kualifikasi Piala Dunia 2026 sempat terbuka.

Namun semuanya berubah setelah Hungaria kalah dramatis di kandang sendiri dari Republik Irlandia pada laga terakhir.

Hasil tersebut membuat impian mereka kembali tertunda.

Meski begitu, optimisme belum hilang dari para pendukung Hungaria.

Negara yang pernah melahirkan legenda Ferenc Puskas itu menunjukkan perkembangan positif dalam beberapa tahun terakhir.

Hungaria mampu lolos ke tiga edisi turnamen besar Eropa secara beruntun dan tampil cukup kompetitif.

Kini tantangan terbesar mereka adalah menjaga konsistensi performa agar mampu menerjemahkan perkembangan tersebut menjadi tiket menuju Piala Dunia 2030.

Rumania Melihat Peluang Kebangkitan Bersama Gheorghe Hagi

Rumania juga menjadi salah satu negara yang ingin mengakhiri penantian panjang kembali tampil di Piala Dunia.

Tricolorii telah tujuh kali tampil di putaran final dengan pencapaian terbaik mencapai babak perempat final pada edisi 1994.

Ketika itu, generasi emas yang diperkuat Gheorghe Hagi, Gheorghe Popescu, dan Florin Raducioiu berhasil mencatat perjalanan bersejarah sekaligus menarik perhatian pencinta sepak bola dunia.

Namun setelah itu, kiprah Rumania di Piala Dunia mengalami penurunan.

Selama 32 tahun terakhir, mereka hanya sekali kembali tampil di putaran final, yakni pada edisi berikutnya yang berlangsung di Prancis.

Dalam perjalanan menuju Piala Dunia tahun ini, Rumania finis di posisi ketiga pada babak kualifikasi.

Kesempatan kedua datang melalui jalur UEFA Nations League yang membawa mereka ke babak play-off.

Sayangnya, harapan tersebut kembali berakhir setelah Rumania kalah tipis 1-0 saat bertandang ke markas Turki pada semifinal play-off.

Walaupun gagal lolos, perkembangan yang ditunjukkan dalam beberapa tahun terakhir menjadi modal penting.

Optimisme semakin besar karena Gheorghe Hagi kembali dipercaya menangani tim nasional untuk periode keduanya.

Rumania berharap sang legenda mampu menemukan perpaduan terbaik antara kedalaman skuad dan efektivitas lini depan sehingga negara tersebut dapat kembali tampil di panggung terbesar sepak bola dunia pada Piala Dunia 2030.

Nigeria Andalkan Talenta Besar demi Mengakhiri Tren Absen

Nigeria menjadi salah satu negara Afrika yang memiliki rekam jejak cukup kuat di ajang Piala Dunia FIFA. Super Eagles telah enam kali tampil di putaran final dan tiga kali sukses menembus Babak 16 Besar, masing-masing pada edisi 1994, 1998, dan 2014.

Namun, catatan tersebut tidak mampu berlanjut dalam dua edisi terakhir. Nigeria kembali harus menerima kenyataan gagal tampil di Piala Dunia 2026, sehingga fokus mereka kini sepenuhnya diarahkan untuk melakukan comeback pada Piala Dunia 2030.

Dalam kualifikasi zona CAF menuju Piala Dunia tahun ini, juara Afrika tiga kali itu menutup persaingan sebagai runner-up Grup C di belakang Afrika Selatan.

Hasil tersebut masih memberikan kesempatan untuk melanjutkan perjuangan melalui putaran kedua yang memperebutkan tiket menuju play-off antarkonfederasi.

Nigeria sempat menjaga asa setelah mengalahkan Gabon dengan skor 4-1 melalui babak perpanjangan waktu.

Namun, langkah mereka akhirnya kembali terhenti pada pertandingan penentuan. Setelah bermain imbang 1-1 melawan Republik Demokratik Kongo, Super Eagles harus mengakui keunggulan lawan melalui drama adu penalti.

Meski kembali gagal mencapai putaran final, peluang Nigeria untuk bangkit dinilai tetap terbuka lebar.

Negara tersebut selama ini dikenal memiliki sumber daya pemain yang sangat melimpah. Karena itu, tantangan terbesar mereka bukan terletak pada minimnya kualitas individu, melainkan bagaimana membangun sistem permainan yang stabil agar mampu menghasilkan performa konsisten dalam setiap fase kualifikasi.

Dengan fondasi tersebut, Nigeria berharap dapat mengakhiri tren absen dan kembali menjadi salah satu kekuatan utama Afrika pada Piala Dunia 2030.

Kamerun Ingin Mengembalikan Tradisi sebagai Kekuatan Afrika

Nama Kamerun juga masuk dalam daftar negara yang diprediksi berpeluang melakukan kebangkitan.

Les Lions Indomptables merupakan salah satu tim paling berpengalaman dari kawasan Afrika di ajang Piala Dunia. Mereka telah delapan kali tampil di putaran final, sekaligus menjadi negara CAF dengan jumlah penampilan terbanyak.

Selain itu, Kamerun juga mencatat sejarah penting pada Piala Dunia 1990 ketika menjadi negara Afrika pertama yang berhasil menembus babak perempat final.

Prestasi tersebut hingga kini masih menjadi salah satu pencapaian paling bersejarah bagi sepak bola Afrika di panggung dunia.

Dalam perjalanan menuju Piala Dunia tahun ini di Amerika Utara, Kamerun harus puas mengakhiri fase grup kualifikasi di posisi kedua Grup D, berada di belakang Tanjung Verde.

Mereka kemudian melanjutkan perjuangan melalui babak play-off.

Sayangnya, langkah tersebut kembali terhenti setelah kalah 1-0 dari Republik Demokratik Kongo.

Kegagalan itu menjadi kemunduran bagi Kamerun yang sebelumnya sempat merasa berada di jalur kebangkitan setelah berhasil kembali tampil pada Piala Dunia Qatar 2022 usai absen di Rusia 2018.

Kini, dengan semakin dekatnya Piala Dunia 2030 yang juga menjadi edisi peringatan 100 tahun penyelenggaraan turnamen, Kamerun ingin mengembalikan konsistensi yang dahulu menjadi kekuatan utama mereka.

Seperti Nigeria, Kamerun tidak mengalami kekurangan pemain bertalenta.

Akan tetapi, performa yang naik turun dalam beberapa tahun terakhir membuat finalis Piala Konfederasi FIFA 2003 tersebut kesulitan membangun fondasi tim yang benar-benar kokoh sekaligus mempertahankan momentum positif dalam jangka panjang.

Chile Berharap Regenerasi Menjadi Titik Balik

Chile pernah menjadi salah satu tim paling disegani di Amerika Selatan.

La Roja telah tampil dalam sembilan edisi Piala Dunia dan pernah meraih peringkat ketiga ketika menjadi tuan rumah pada 1962.

Pada era modern, Chile juga menikmati masa keemasan bersama Alexis Sanchez, Arturo Vidal, dan Claudio Bravo.

Generasi emas tersebut berhasil membawa negaranya lolos ke Babak 16 Besar secara beruntun pada Piala Dunia 2010 dan 2014.

Namun, setelah periode tersebut berakhir, performa Chile mengalami penurunan yang cukup tajam.

Mereka bahkan gagal tampil dalam tiga edisi Piala Dunia terakhir.

Pada kualifikasi zona CONMEBOL menuju Piala Dunia tahun ini, Chile terpuruk di dasar klasemen setelah hanya mampu meraih dua kemenangan dari total 18 pertandingan.

Hasil tersebut menjadi gambaran nyata bahwa proses regenerasi belum berjalan sepenuhnya sesuai harapan.

Meski demikian, Chile berharap pencapaian tersebut menjadi titik terendah yang dapat dijadikan momentum untuk membangun kembali kekuatan tim nasional.

Proses pergantian generasi yang sedang berlangsung diharapkan mampu mengembalikan daya saing La Roja sehingga kembali bersaing memperebutkan tiket menuju Piala Dunia 2030.

Peru Fokus Membenahi Produktivitas Lini Depan

Peru juga memiliki sejarah yang cukup baik di Piala Dunia.

La Blanquirroja pernah dua kali menembus delapan besar, yakni mencapai perempat final pada 1970 dan lolos ke fase grup kedua pada 1978.

Kembalinya Peru ke Piala Dunia 2018 setelah menunggu selama 36 tahun sempat menjadi momen yang disambut antusias oleh para pendukung.

Sayangnya, keberhasilan tersebut belum mampu dipertahankan.

Peru kembali gagal lolos pada dua edisi berikutnya.

Pada kualifikasi terbaru, Negeri Inca hanya mampu finis di posisi kesembilan dari sepuluh peserta.

Mereka hanya membukukan dua kemenangan dan mencetak enam gol sepanjang 18 pertandingan.

Minimnya produktivitas tersebut menjadi pekerjaan rumah terbesar yang harus segera diselesaikan apabila ingin kembali bersaing di level tertinggi.

Karena itu, pembenahan sektor penyerangan dipandang sebagai prioritas utama menjelang Piala Dunia 2030.

Selain meningkatkan ketajaman lini depan, Peru juga mulai diarahkan untuk melakukan regenerasi dengan mengurangi ketergantungan terhadap sejumlah pemain senior yang selama ini menjadi tulang punggung tim.

Meski melakukan perubahan, Peru tetap diharapkan mempertahankan permainan kolektif dan organisasi pertahanan yang selama ini menjadi identitas utama sekaligus fondasi kebangkitan mereka.

Kosta Rika Ingin Membangun Generasi Baru

Kosta Rika menjadi negara terakhir dalam daftar FIFA yang diproyeksikan memiliki peluang melakukan comeback.

Negara Amerika Tengah tersebut justru lebih sering tampil di Piala Dunia dibandingkan absen sejak menciptakan kejutan pada penampilan pertamanya pada 1990.

Prestasi terbaik Los Ticos terjadi pada Piala Dunia 2014.

Kala itu, mereka tampil impresif dengan tidak terkalahkan pada fase grup dan keluar sebagai juara grup yang dihuni Uruguay, Italia, serta Inggris.

Perjalanan luar biasa itu berlanjut ketika Kosta Rika menyingkirkan Yunani melalui adu penalti pada Babak 16 Besar.

Langkah mereka baru terhenti di babak perempat final setelah kembali menjalani adu penalti melawan Belanda usai bermain imbang tanpa gol.

Namun, hasil imbang tanpa gol kembali menjadi bagian dari cerita mereka dalam perjalanan menuju Piala Dunia tahun ini.

Kali ini, skor tanpa gol saat menghadapi Honduras justru mengakhiri harapan Kosta Rika.

Hasil tersebut membuat mereka hanya mengumpulkan tujuh poin dan finis di posisi ketiga grup pada putaran terakhir kualifikasi Concacaf.

Akibatnya, Los Ticos bahkan gagal memperoleh kesempatan tampil pada play-off antarkonfederasi.

Situasi tersebut menjadi momentum bagi Kosta Rika untuk mempercepat proses pembentukan generasi baru.

Di sisi lain, mereka tetap bertekad mempertahankan reputasi sebagai salah satu kekuatan utama di kawasan Amerika Tengah.

Optimisme itu bukan tanpa alasan mengingat Kosta Rika berhasil tampil dalam lima dari tujuh edisi terakhir Piala Dunia.

Piala Dunia 2030 Menjadi Misi Kebangkitan

Kegagalan tampil pada Piala Dunia 2026 menjadi pukulan bagi sepuluh negara yang selama ini memiliki sejarah panjang di panggung sepak bola dunia. Namun, kondisi tersebut juga menjadi titik awal bagi masing-masing tim untuk melakukan evaluasi sekaligus membangun kembali kekuatan menuju Piala Dunia 2030.

Mulai dari Italia yang ingin mengakhiri kutukan di babak kualifikasi, Denmark yang berusaha bangkit dari dua kegagalan beruntun, Polandia yang memasuki era regenerasi, hingga Hungaria dan Rumania yang ingin mengembalikan kejayaan masa lalu, seluruhnya memiliki target yang sama, yakni kembali bersaing di turnamen paling bergengsi besutan FIFA.

Hal serupa juga terlihat dari Nigeria dan Kamerun yang mengandalkan kekayaan talenta sepak bola, sementara Chile, Peru, dan Kosta Rika berfokus pada proses regenerasi untuk mengembalikan daya saing mereka.

Dengan waktu persiapan yang masih cukup panjang, sepuluh negara tersebut akan berusaha menjadikan kegagalan menuju Piala Dunia 2026 sebagai pelajaran berharga. Target terbesar mereka adalah mewujudkan comeback pada Piala Dunia 2030 dan kembali memperlihatkan kapasitas sebagai tim-tim yang pernah menjadi bagian penting dalam sejarah sepak bola dunia. (*)

Baca Juga

Piala Dunia 2026 Penuh Rekor Baru, Ini Daftar Lengkap Sejarah yang Tercipta
Piala Dunia 2026 Penuh Rekor Baru, Ini Daftar Lengkap Sejarah yang Tercipta
Ikatan Istimewa Messi dan Argentina Tetap Bersinar Meski Gagal Juara Piala Dunia 2026
Ikatan Istimewa Messi dan Argentina Tetap Bersinar Meski Gagal Juara Piala Dunia 2026
Momen Pelukan Messi dan Yamal, Tanda Pergantian Generasi Dimulai?
Momen Pelukan Messi dan Yamal, Tanda Pergantian Generasi Dimulai?
Argentina Gagal Juara Piala Dunia 2026, Scaloni: Spanyol Memang Tim yang Lebih Baik
Argentina Gagal Juara Piala Dunia 2026, Scaloni: Spanyol Memang Tim yang Lebih Baik
Mbappe Sabet Sepatu Emas Usai Jadi Top Skor Piala Dunia 2026
Mbappe Sabet Sepatu Emas Usai Jadi Top Skor Piala Dunia 2026
Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Mbappe Pimpin, Messi Masih Punya Peluang
Perburuan Sepatu Emas Piala Dunia 2026: Mbappe Pimpin, Messi Masih Punya Peluang