Sumbardaily.com – Inovasi komoditas gambir yang dikembangkan Universitas Andalas mendapat perhatian khusus dari pemerintah pusat. Pengembangan gambir menjadi produk bernilai tambah oleh kampus tersebut menuai apresiasi langsung dari Djamari Chaniago dalam pertemuan di Kantor Kemenko Polkam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta.
Apresiasi itu menjadi sorotan karena inovasi yang dikembangkan Unand dinilai tidak hanya memperkuat sektor riset perguruan tinggi, tetapi juga membuka peluang besar terhadap hilirisasi komoditas lokal yang selama ini menjadi salah satu kekuatan utama Sumatera Barat (Sumbar).
Pertemuan tersebut dihadiri langsung oleh Rektor Unand Efa Yonnedi, Wakil Rektor IV Prof. Henmaidi, serta dosen Pascasarjana Unand Basril Basyar. Kehadiran rombongan akademisi dari Sumbar itu disambut hangat oleh Menko Polkam yang memberikan dukungan terhadap pengembangan inovasi berbasis sumber daya lokal.
Dalam kesempatan tersebut, Djamari Chaniago menyampaikan terima kasih atas kontribusi inovasi yang dihasilkan Unand. Menurutnya, karya-karya perguruan tinggi memiliki peran penting dalam mendukung pembangunan nasional sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap produk impor.
“Melalui inovasi anak bangsa, ketergantungan terhadap produk impor dapat diminimalisir. Ini bukan hanya soal kemandirian, tetapi juga kebanggaan nasional,” ujarnya.
Ia juga mendorong para akademisi untuk terus melahirkan inovasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya dalam pengembangan komoditas unggulan nasional seperti gambir.
Dukungan dari pemerintah pusat tersebut menjadi energi baru bagi Unand untuk memperkuat langkah strategis dalam hilirisasi gambir. Saat ini, kampus tersebut tengah mengembangkan diri sebagai pusat inovasi dan hilirisasi gambir nasional.
Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi komoditas gambir sekaligus memperkuat industri berbasis sumber daya alam lokal. Selain itu, pengembangan hilirisasi diharapkan mampu memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan petani gambir di Sumbar.
Potensi pengembangan gambir memang dinilai sangat besar. Indonesia saat ini tercatat sebagai pemasok utama gambir dunia dengan kontribusi sekitar 80 hingga 90 persen produksi global berasal dari Sumbar.
Beberapa daerah yang menjadi sentra utama produksi gambir di Sumbar antara lain Kabupaten Lima Puluh Kota, Pesisir Selatan, dan Tanah Datar. Besarnya produksi tersebut membuat gambir menjadi salah satu komoditas strategis yang memiliki potensi ekonomi tinggi apabila diolah menjadi produk turunan bernilai tambah.
Sebagai bentuk konkret inovasi, pada tahun 2024 para peneliti Unand berhasil mengembangkan gambir menjadi tinta pemilu. Produk tersebut kemudian digunakan secara luas dalam pelaksanaan pemilu di Indonesia.
Sekitar satu juta botol tinta berbahan gambir telah didistribusikan ke 35 provinsi di Indonesia. Selain itu, sebanyak 36 ribu botol digunakan dalam pelaksanaan Pilkada di Sumbar dan sejumlah provinsi lainnya.
Keberhasilan tersebut menunjukkan bahwa komoditas gambir tidak hanya memiliki nilai sebagai bahan mentah ekspor, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi produk industri nasional yang mampu bersaing dan digunakan secara luas.
Melalui penguatan riset dan hilirisasi, Unand berharap komoditas gambir semakin dikenal sebagai produk unggulan nasional yang mampu memberikan nilai ekonomi lebih tinggi bagi masyarakat.
Inovasi tersebut juga diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai global berbasis sumber daya alam sekaligus membuka peluang pengembangan industri lokal yang lebih berdaya saing.
Apresiasi dari Menko Polkam terhadap inovasi gambir Unand dinilai menjadi sinyal positif bagi dunia akademik untuk terus mengembangkan riset yang tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi juga mampu diterapkan secara nyata dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat serta perekonomian nasional.
Dengan dukungan pemerintah dan penguatan hilirisasi, komoditas gambir dari Sumbar kini mulai menunjukkan potensinya sebagai salah satu produk strategis Indonesia yang mampu menembus pasar nasional hingga global. (*)
















